Oleh: Bayu Hermawan
INILAHCOM, Jakarta - Kampanye Partai Amanat Nasional (PAN) di wilayah Jawa Tengah bagian Selatan atau dikenal dengan daerah Banyumasan, berlangsung semarak. Selain itu ada beberapa kejadian lucu dan unik yang terjadi dalam kampanye tersebut.
Hal unik dan lucu yang pertama terjadi adalah ketika Ketua Umum PAN Hatta Rajasa membuka kejuaraan memancing tingkat Kabupaten Banjarnegara. Kegiatan yang masuk dalam rangkaian kampenye terbuka PAN di Kabupaten Banjarnegara itu, sukses menyedot perhatian ribuan warga.
Lokasi lomba berupa sungai dengan panjang 3 km lebih yang terletak di jalan raya Banjarnegara-Cilacap. Siang itu kali yang airnya mengalir pelan itu seakan disemuti para pemancing. Mulai dari anak-anak, remaja, orang tua, dan tak ketinggalan ibu-ibu yang memberikan semangat kepada keluarganya yang ikut lomba.
Di tengah kali terdapat jembatan darurat yang terbuat dari bambu dan difungsikan sebagai panggung dadakan. Ketika Hatta Rajasa memberikan sambutan di panggung dadakan, puluhan orang ikut memenuhi jembatan bambu itu.
Karena beban terlalu berat, panggung dadakan itu pun mengeluarkan suara gemeretak yang keras, seakan mau patah. Hal tersebut membuat orang-orang yang berada di jembatan kaget dan spontan langsung melompat ke pinggir sunggai, serta ada juga yang mencari pegangan sekenanya.
Anehnya, hal tersebut tidak membuat Hatta Rajasa yang berada ditengah jembatan panik atau takut. Sambil tetap berdiri dan memegang microphone, dengan tenang, ia pun tetap memberikan sambutan. Hal tersebut membuat warga dan peserta lomba mancing tertawa.
Dalam sambutannya Hatta mengatakan, PAN bukanlah partai yang suka mengumbar janji dan membingungkan rakyat. Ia mengatakan PAN lebih suka melakukan kerja nyata.
"PAN itu partai yang tak suka banyak janji, banyak wacana dan membingungkan rakyat. Kita lebih suka melakukan kerja nyata, melayani dan memberi bukti," ujar Hatta yang disambut tepuk tangan riuh warga.
Setelah memberikan sambutan di atas jembatan yang nyaris ambruk, Hatta kemudian menyapa warga dan peserta pancing. Lagi-lagi hal tersebut membuat warga tertawa, karena Hatta menyapa warga dengan logat khas Banyumasan atau yang dikenal dengan bahasa Ngapak.
Beberapa kali Hatta menyelipkan dialek khas setempat seperti "Kepriben", "Inyong" dan tentu saja "Nyolok Nomer Wolu" atau memilih no 8 di Pileg mendatang. Hal tersebut pun membuat warga, khususnya ibu-ibu semakin antusias berbicara dengan Hatta.[bay]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar