VIVAnews – "How can a president not be an actor?" Hal ini diungkapkan Presiden Amerika Serikat ke-40, Ronald Reagan, saat menanggapi pertanyaan seorang reporter dalam kampanye presiden tahun 1980. Reagan yang notabenenya seorang aktor terkenal pada masanya adalah salah satu bukti dunia politik dan hiburan bisa bersanding.
Dalam sejarah perpolitikan dunia, artis alih profesi menjadi politisi bukan hal yang langka. Presiden ke-13 Filipina Joseph Estrada, mantan Gubernur California Arnold Schwarzenegger, mantan Walikota Carmel Clint Eastwood, dan Presiden Partai Peronis Perempuan Argentina Evita Peron adalah beberapa selebriti yang pernah mencicipi karier di dunia politik.
Di Indonesia, artis terjun ke dunia politik juga sudah terjadi cukup lama. Hanya saja, saat itu mereka tidak berada di garda depan, melainkan sekadar pemanis. Kesempatan bagi artis berkiprah langsung sebagai politikus baru terbuka usai tumbangnya Orde Baru.
Dalam pemilihan legislatif tahun 2004 misalnya, terdapat lima artis yang terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Jumlah ini semakin meningkat di periode berikutnya, yakni 16 orang pada tahun 2009. Artis menyebar di enam partai politik (parpol). Hanya tiga parpol saja yang tidak memiliki anggota DPR berlatar belakang artis: Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Hanura, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Tahun ini, sejumlah artis ramai-ramai mencalonkan diri sebagai calon legislatif (caleg) atau anggota DPR. Latar belakangnya lebih beragam. Ada yang berprofesi sebagai pendangdut, model, penyinetron, komedian, presenter, hingga ratu kecantikan.
Namun, di tengah semangat artis menggebrak dunia politik Indonesia, muncul survei yang menyebut bahwa caleg artis tak lagi diminati. Survei bertajuk Menakar Peta Politik 2014: Pengaruh Figur Terhadap Konfigurasi Politik 2014 ini dirilis Pol-Tracking Institute.
Menurut survei yang dilakukan terhadap 1.200 responden di 33 provinsi pada 16-23 Desember 2013 itu, caleg dengan latar belakang artis atau selebriti hanya dipilih 16,8 persen responden. Publik tampaknya masih menyukai caleg dengan latar belakang politikus atau pengurus partai dengan persentase 50,9 persen.
"Apabila caleg berasal dari kalangan artis, mereka harus bertransformasi terlebih dahulu menjadi seorang politisi. Sebab, apabila sebuah partai menempatkan caleg yang tepat, itu juga dapat mendongkrak perolehan suara bagi parpol yang bersangkutan," kata Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute, Hanta Yuda AR.
Bertarung di dapil yang sama
Toh, kehadiran survei-survei ini tidak menyurutkan para artis terjun ke dunia politik. Jika pada 2009, tidak ada anggota DPR dari PKB yang berlatar belakang artis, di tahun ini partai berlambang Bintang Sembilan itu mengusung setidaknya 14 caleg artis.
Para caleg artis ini tak hanya harus bersaing dengan caleg lainnya dari latar belakang sebagai politisi hingga swasta. Mereka juga bertarung dengan caleg artis lainnya di daerah pemilihan (dapil) yang sama.
Tengok saja dapil DKI Jakarta III. Artis yang akan bertarung di dapil ini cukup banyak. Mereka antara lain Jane Shalimar (Partai Nasdem), Tantowi Yahya (Partai Golkar), Ida Royani (Partai Amanat Nasional/PAN), Jeremy Thomas (PAN), Nashrullah alias Mat Solar (Partai Persatuan Pembangunan/PPP), dan David Chalik (Partai Hanura).
Para artis ini akan berhadapan dengan caleg yang sudah berpengalaman sebagai anggota DPR, seperti Adang Daradjatun, Effendi Simbolon, dan Marzuki Alie. Kemudian di dapil Jakarta II terdapat nama Dwiki Dharmawan (PAN), Okky Asokawati (PPP), Jenny Rachman (Partai Demokrat).
Selain Jakarta, parpol juga banyak menempatkan caleg artis di dapil Jawa Barat. Di dapil Jawa Barat I misalnya, ada Sandy Nayoan (PKB) dan Junico BP Siahaan atau Nico Siahaan (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan/PDIP). Sementara itu, Ingrid Kansil (Partai Demokrat) akan bersaing dengan Desy Ratnasari (PAN) di dapil Jawa Barat IV. Beranjak ke dapil Jawa Barat VI, terdapat Derry Drajat (Partai Gerindra) yang akan bersaing dengan Lucky Hakim (PAN).
Gaya kampanye artis
Sementara itu, salah seorang caleg artis yang tengah menjadi sorotan saat ini adalah Angel Lelga. Guna meraih dukungan masyarakat, caleg PPP tersebut itu rajin menyambangi dapilnya di Jawa Tengah V.
Beberapa lalu, ia terlihat mengunjungi Pasar Gede, Solo. Angel mengatakan bahwa kunjungannya ke Pasar Gede dalam rangka menggerakkan cinta terhadap pasar tradisional.
"Saya akan keliling dan mengunjungi semua pasar tradisional, karena saya akan menggerakkan cinta pasar tradisional," ujar dia.
Saat menjalani sosialisasi sebagai calon legislatif, Angel telah melakukan kegiatan blusukan ke sejumlah tempat. Mulai dari daerah pertanian, balai perempuan hingga ke tempat, di mana komunitas pekerja seks komersial bermukim.
"Sehari bisa lima acara. Saya nggak banyak janji-janji, karena takut lupa sama janji."
Menurut artis sekaligus caleg dari Partai Golkar, Charles Bonar Sirait, masuk ke dunia politik tidak cukup hanya bermodalkan fisik bagus semata. Charles berpendapat, para artis yang bergabung ke parpol juga perlu menunjukkan kemampuannya di internal partai dan kepada publik.
"Seharusnya, mereka sudah lebih banyak mengedepankan visi, misi dan kecerdasannya. Jadi, tidak hanya sekadar menampilkan popularitas dan penampilan fisik semata," kata pria yang terdaftar sebagai caleg di dapil DKI Jakarta I ini.
Agar bisa mengenal dapilnya, Charles mengaku kerap menolak tawaran menjadi pembawa acara, bahkan dari partainya sendiri. Ditanya soal motivasinya terjun ke dunia politik, ia mengaku tertarik untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Menurutnya, pendidikan merupakan landasan menuju sebuah negara maju.
"Mungkin perubahan itu bisa dilakukan secara individu, tetapi tidak akan berdampak besar secara nasional. Sementara itu, apabila bergabung ke DPR, maka akan memiliki daya tekan yang lebih kuat. Jalur untuk ke sana hanya dengan bergabung parpol," kata Charles. (asp)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar