TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA --- Peneliti Polcommp Institute, Heri Budianto, mengatakan strategi menyerang kandidat lain tidak akan efektif jika digunakan di acara debat antara calon presiden, yang akan digelar pada 15 Juni mendatang.
Kepada wartawan usia acara pemaparan hasil riset Pusat Data Bersatu, (PDB), di hotel Puri Denpasar, Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu (14/6/2014), Heri mengatakan simpati masyarakat tidak akan bisa diraih dengan cara memojokan orang.
"Capres harus tampil elegan, dengan tidak menyudutkan salah satu," katanya.
Dalam kesempatan itu ia menyebutkan, bukan tidak mungkin masyarakat akan semakin tidak bersimpati terhadap capres yang kerap memojokan pasangan lain, dan simpati akhirnya diberikan ke pihak korban.
Pada debat antara pasangan nomor urut 1, Prabowo Subianto - Hatta Rajasa melawan Joko Widodo (Jokowi) - Jusuf Kalla (JK) yang digelar 15 Juni lalu, menurut Heri pasangan nomor urut 2 lebih banyak melakukan penyerangan.
JK bahkan sempat menanyakan soal Hak Asasi Manusia (HAM) ke Prabowo, walau pun pertanyaan tersebut sesuai dengan tema debat, Prabowo menjawab pertanyaan itu dengan nada seperti orang yang agak emosi.
Diketahui Prabowo memang sempat tersangkut kasus HAM, yakni ketika ia menjabat sebagai Danjend Kopassus TNI AD, dan terlibat kasus penculikan aktivis 1997 - 1998 lalu. Walau pun seluruh aktivis menurut Prabowo dikembalikan dalam keadaan hidup dan tidak pernah ada proses hukum untuknya, ia masih saja dipojokan oleh isu tersebut.
Heri mengatakan walau pun secara substansi yang dilontarkan JK adalah sesuatu yang substansial, namun ia percaya masyarakat lebih ingin melihat rencana masing-masing pasangan dalam membangun negri, ketimbang menjelek-jelekan satu sama lain.
"Kalau penampilan capres itu oke dan bisa menghargai lawan, masyarakat pasti simpati," tandasnya.
Rencananya debat berikutnya akan digelar pada 15 Juni mendatang. Kali ini yang berdebat adalah capres nomor urut 1 Prabowo, melawan capres nomor urut 2, Jokowi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar