Pewarta: Norjani
Pangkalan Bun, Kalteng (ANTARA News) - Musibah jatuhnya pesawat AirAsia
QZ 8501 merupakan preseden buruk, tetapi juga menjadi moment untuk
melakukan evaluasi perizinan penerbangan di Indonesia.
"Seperti penerbangan pesawat yang mendapat musibah ini kan
informasinya tidak ada izin terbang di hari Minggu, tapi kenapa bisa
terbang? Ini harus selidiki hingga tuntas, termasuk jika ada "orang
dalam" yang bermain. Perizinan penerbangan lainnya juga harus
diperiksa," kata anggota DPR RI, Hamdhani di Pangkalan Bun, Senin.
Hamdhani yang merupakan putra daerah Kalimantan Tengah ini sengaja
pulang kampung untuk ikut memantau penanganan musibah jatuhnya pesawat
berpenumpang 155 orang ditambah tujuh kru di perairan Selat Karimata
saat terbang dari Surabaya menuju Singapura pada Minggu (28/12/2014)
lalu ini.
Dia menyampaikan duka mendalam terhadap keluarga korban atas
musibah. Dia berharap pemerintah menjadikan musibah ini sebagai bahan
evaluasi agar tidak terjadi lagi di kemudian hari. Seluruh penerbangan
harus diperiksa perizinan serta kondisi armada dan awak pesawat untuk
menghindari hal yang tidak diinginkan.
Musibah memang tidak dapat diduga karena bisa terjadi kapan dan di
mana saja. Namun prosedur tetap penerbangan serta kepatuhan terhadap
perizinan harus selalu dijalankan sebagaimana mestinya dalam pengawasan
pemerintah.
Meski bertugas di Komisi IV, namun Hamdhani berjanji akan memberi
masukan kepada rekan-rekannya di Komisi V untuk memanggil dan meminta
penjelasan pihak terkait musibah ini, seperti Kementerian Perhubungan,
manajemen AirAsia dan lainnya.
Sementara itu, Hamdhani terlihat menemui dan berbincang dengan tim
gabungan yang bertugas di RSUD Sultan Imanuddin. Dia juga memantau
peralatan lainnya yang sudah disiapkan seperti cold storage atau lemari
pendingin, tenda penampungan di sekitar kamar jenazah serta kesiapan
peti jenazah.
Blog ini merupakan kumpulan berita dari berbagai media elektronik, terutama yang berkaitan dengan langkah-langkah nyata dari seseorang/lembaga dalam rangka menegakan kebenaran, dan semoga blog ini akan berguna bagi pembaca.
BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN
Selasa, 06 Januari 2015
Perombakan Birokrasi di Lingkungan Pemprov DKI Harus Dirasakan Masyarakat
Laporan: Ruslan Tambak
RMOL. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama telah
melantik pegawai negeri sipil (PNS) sebagai pejabat baru sebanyak 4.676
orang untuk mengisi jabatan eselon II, III dan IV. Pemprov DKI juga
memangkas 1.835 jabatan.
Perombakan birokrasi besar-besaran di lingkungan Pemprov DKI bertujuan untuk memperbaiki kinerja birokrasi karena birokrasi merupakan garis terdepan yang berhubungan dengan pemberian pelayanan umum kepada masyarakat.
Menanggapi perombakan birokrasi tersebut Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKS Dite Abimanyu menyatakan, perbaikan kinerja PNS DKI Jakarta sangat penting dilakukan untuk menunjang pembangunan Ibukota, utamanya dalam hal pelayanan publik.
"Birokrasi ini memegang posisi yang strategis karena berhubungan langsung dengan hajat hidup masyarakat Jakarta, mulai dari kelahiran sampai kematian bersentuhan dengan birokrasi, untuk itu penting mempunyai birokrat yang baik yang punya orientasi pelayanan kepada masyarakat," tutur Dite dalam keterangannya, Selasa (6/1).
Birokrasi juga, masih menurut Dite, harus bersikap netral terkait dengan pilihan politiknya, bukan merupakan bagian dari kekuatan politik tertentu (partai politik). Sebab, apabila birokrasi menjadi bagian dari kekuatan politik tertentu maka akan menjadi tidak netral, memihak kepada kekuatan aliran politik tersebut.
"Padahal dalam memberikan pelayanan umum, birokrasi diharapkan tidak memihak kepada kelompok tertentu, agar pelayanan umum yang dilakukan oleh pemerintah bisa diberikan pada seluruh masyarakat, tanpa membedakan aliran atau partai politik dari masyarakat," sebut Dite yang juga Ketua DPD PKS Jakarta Timur.
Dirinya juga mengingatkan, perombakan besar-besaran di birokrasi Pemprov DKI harus membawa perubahan yang signifikan terhadap pelayanan publik. "Adanya perombakan birokrasi harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Jakarta, tanpa terkecuali," demikian Dite. [rus]
Perombakan birokrasi besar-besaran di lingkungan Pemprov DKI bertujuan untuk memperbaiki kinerja birokrasi karena birokrasi merupakan garis terdepan yang berhubungan dengan pemberian pelayanan umum kepada masyarakat.
Menanggapi perombakan birokrasi tersebut Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PKS Dite Abimanyu menyatakan, perbaikan kinerja PNS DKI Jakarta sangat penting dilakukan untuk menunjang pembangunan Ibukota, utamanya dalam hal pelayanan publik.
"Birokrasi ini memegang posisi yang strategis karena berhubungan langsung dengan hajat hidup masyarakat Jakarta, mulai dari kelahiran sampai kematian bersentuhan dengan birokrasi, untuk itu penting mempunyai birokrat yang baik yang punya orientasi pelayanan kepada masyarakat," tutur Dite dalam keterangannya, Selasa (6/1).
Birokrasi juga, masih menurut Dite, harus bersikap netral terkait dengan pilihan politiknya, bukan merupakan bagian dari kekuatan politik tertentu (partai politik). Sebab, apabila birokrasi menjadi bagian dari kekuatan politik tertentu maka akan menjadi tidak netral, memihak kepada kekuatan aliran politik tersebut.
"Padahal dalam memberikan pelayanan umum, birokrasi diharapkan tidak memihak kepada kelompok tertentu, agar pelayanan umum yang dilakukan oleh pemerintah bisa diberikan pada seluruh masyarakat, tanpa membedakan aliran atau partai politik dari masyarakat," sebut Dite yang juga Ketua DPD PKS Jakarta Timur.
Dirinya juga mengingatkan, perombakan besar-besaran di birokrasi Pemprov DKI harus membawa perubahan yang signifikan terhadap pelayanan publik. "Adanya perombakan birokrasi harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Jakarta, tanpa terkecuali," demikian Dite. [rus]
Mantan Danpaspampres Akui Penyelaman di Sana tak Gampang
Jpnn
JAKARTA - Pekatnya lumpur di dasar laut, menghambat proses pencarian korban dan black box pesawat Air Asia QZ8501.
Menurut Mantan Kepala Basarnas Nono
Sampono, pulau yang memiliki sungai-sungai besar seperti Pangkalan Bun,
Kalimantan Tengah, memang memiliki karakteristik laut yang berlumpur.
"Karena, sungai-sungai tersebut membawa
lumpur yang kemudian menyebar di sekitar perairan lokasi jatuhnya
pesawat tersebut. Jadi kondisi seperti itu memang menyulitkan karena di
dasar kondisinya cenderung keruh. Itu cukup menyulitkan para penyelam
dalam melakukan evakuasi," papar Nono pada Jawa Pos, kemarin (5/1).
Untuk itu, anggota Dewan Perwakilan
Daerah (DPD)dari Provinsi Maluku Utara itu menyarankan penggunaan
teknologi yang maksimal untuk membantu proses evakuasi.
Dia menyebut ada empat alat yang bisa digunakan untuk mendeteksi keberadaan tubuh korban, bangkai pesawat hingga black box.
Yang pertama, penggunaan Remotely
Operated Vehicle (ROV) yang merupakan robot dengan kemampuan mengamati
benda di lautan dan dikendalikan dengan remote control secara langsung
dari atas permukan air.
Di samping ROV, lanjut Nono, juga bisa
digunakan multibeam echosounder. Alat tersebut berfungsi untuk mengukur
kedalaman perariran hingga mengetahui bentuk dasar suatu perairan dengan
menggunakan sistem gema.
Yang ketiga, adalah alat pendeteksi
logam yang bisa dibawa oleh para penyelam, dan yang terakhir adalah
autonomous underwater vehicle, yang mirip dengan ROV. "Empat alat ini
sangat berguna di samping manusia sendiri," ujarnya.
Penggunaan alat tersebut juga dibarengi
diterjunkan tim penyelam. Nono menguraikan, untuk mengatasi medan dasar
laut yang berlumpur, para penyelam membuat pola pencarian di bawah laut.
Diantaranya, pola melingkar.
"Jadi lima sampai enam penyelam
menggunakan pola melingkar untuk menemukan objek di dalam laut. Kemudian
ada pola lain, yakni membuat barisan bersama maju dengan kompas
tertentu, barisan itu menyapu sehingga tidak ada yang terlewatkan,"
urainya.
Di samping kendala lumur, arus kuat juga
menjadi hambatan tim penyelamat. Menurut Mantan Danpaspampres era
Presiden Megawati itu, dalam sehari arus laut bisa berubah tiga kali,
akibat perputaran bumi, pasang surut pengaruh angin dan gelombang. Cuaca
juga ikut mempengaruhi.
Namun, dia menekankan, perairan di
Kalimantan, kedalamannya masih bisa dijangkau tim penyelam tanpa harus
menggunakan kapsul khusus.
"Karena kedalamannya antara 30 meter sekian lah, jadi masih terjangkau tanpa harus menggunakan kapsul," katanya.
"Namun, lanjut Nono, yang menjadi
masalah, dipastikan setiap harinya, luas daerah operasi akan terus
bertambah. Akibat kuatnya arus laut, objek seperti tubuh korban, bangkai
pesawat sangat mungkin terbawa arus.
"Karena benda-benda termasuk tubuh
korban itu ringan untuk dihanyutkan arus. Tapi saya melihat
komponen-komponen yang terlibat cukup luar biasa. Sehingga, proses
evakuasi masih berjalan baik sampai saat ini meski menemui sejumlah
kendala," imbuhnya. (mia/gun/ken)
OJK Pastikan Perusahaan Asuransi Siap Bayar Klaim Korban AirAsia
Jpnn
JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut andil dalam membantu penyelesaian asuransi korban dari kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501.
Kepala Eksekutif Pengawas Industri
Keuangan Non-Bank OJK Firdaus Djaelani mengungkapkan bahwa pihaknya akan
melakukan pertemuan mengenai permasalahan tersebut hari ini (6/1).
"Saya akan jelaskan masalah asuransi AirAsia besok (6/1). Agar semuanya tidak simpang siur," ujarnya Senin, (5/1).
Firdaus mengungkapkan bahwa banyak sekali isu simpang siur mengenai asuransi korban dari pesawat AirAsia. "Masalah jumlah, siapa yang mengcover," tambahnya.
"Saya akan jelaskan masalah asuransi AirAsia besok (6/1). Agar semuanya tidak simpang siur," ujarnya Senin, (5/1).
Firdaus mengungkapkan bahwa banyak sekali isu simpang siur mengenai asuransi korban dari pesawat AirAsia. "Masalah jumlah, siapa yang mengcover," tambahnya.
Oleh sebab itu, dia telah menanyakan
langsung perihal permasalahan asuransi tersebut ke AirAsia. "Semua sudah
saya tanyakan. Kapan bisa bayar klaim dan masalah lainnya. Besok (hari
ini) akan saya sampaikan," tambahnya.
OJK juga akan memastikan kepada Kementerian Perhubungan mengenai izin terbang Pesawat AirAsia. Selain itu, lanjutnya, ada beberapa perusahaan asuransi yang telah dipanggil oleh OJK, seperti Sinar Mas dan Jasindo.
Firdaus mengatakan semua perusahaan asuransi yang berhubungan dengan kecelakaan AirAsia akan dipanggil untuk mengumpulkan bahan dan masalah apa yang ada. "Sehingga semua clear," tambahnya.
Menurut Firdaus, semua perusahaan asuransi tersebut sebenarnya telah siap menanggung klaim pembayaran, namun kepastian kapan akan dibayarkan klaim tersebut belum pasti.
OJK juga akan memastikan kepada Kementerian Perhubungan mengenai izin terbang Pesawat AirAsia. Selain itu, lanjutnya, ada beberapa perusahaan asuransi yang telah dipanggil oleh OJK, seperti Sinar Mas dan Jasindo.
Firdaus mengatakan semua perusahaan asuransi yang berhubungan dengan kecelakaan AirAsia akan dipanggil untuk mengumpulkan bahan dan masalah apa yang ada. "Sehingga semua clear," tambahnya.
Menurut Firdaus, semua perusahaan asuransi tersebut sebenarnya telah siap menanggung klaim pembayaran, namun kepastian kapan akan dibayarkan klaim tersebut belum pasti.
"Karena semua menunggu pemerintah.
Ketika membayar asuransi, harus dibayar semua tapi pemerintah menyatakan
belum selesai mengevakuasi korban. Kan sampai sekarang masih lanjut
terus proses evakuasinya," ujarnya.
Selain itu, masalah administrasi yang berkaitan dengan persoalan ahli waris juga harus jelas. "Kaitannya apakah benar si A itu ahli waris dari salah satu korban. Semuanya harus jelas, karena jangan sampai salah bayar bukan ke ahli waris," tambahnya.
Yang jelas, keputusan proses evakuasi dari Basarnas akan sangat penting bagi proses pembayaran klaim tersebut. Firdaus mengungkapkan bahwa pihaknya juga akan bekerjasama dengan Pemkot Surabaya untuk memastikan data-data yang berkaitan dengan ahli waris.
Selain itu, masalah administrasi yang berkaitan dengan persoalan ahli waris juga harus jelas. "Kaitannya apakah benar si A itu ahli waris dari salah satu korban. Semuanya harus jelas, karena jangan sampai salah bayar bukan ke ahli waris," tambahnya.
Yang jelas, keputusan proses evakuasi dari Basarnas akan sangat penting bagi proses pembayaran klaim tersebut. Firdaus mengungkapkan bahwa pihaknya juga akan bekerjasama dengan Pemkot Surabaya untuk memastikan data-data yang berkaitan dengan ahli waris.
"Setelah itu semua selesai, baru dilakukan upacara pembayaran santunan," tutupnya. (dee)
Bos AirAsia Geram Soal Berita Pesawatnya Bermasalah Lagi
Oleh :
Ni Kumara Santi Dewi
VIVAnews
- Bos AirAsia, Tony Fernandes, mengaku kecewa dengan pemberitaan soal
insiden maskapainya yang mengalami masalah di Bandara Internasional
Juanda, Surabaya, Jawa Timur pada Sabtu, 3 Januari 2015. Pesawat dengan
nomor penerbangan QZ7633 itu terpaksa kembali ke apron bandara di saat
hampir siap untuk proses tinggal landas.
Stasiun berita Channel News Asia, Senin 5 Januari 2015
melaporkan media lokal di Malaysia dan Indonesia, penyebab dari kejadian
itu karena mesin pesawat mati. Hal itu diperparah dengan kesaksian
penumpang kepada stasiun televisi lokal yang mendengar adanya suara
keras di dalam pesawat.
Maka, sebagian besar penumpang pun ketakutan lantaran insiden jatuhnya pesawat AirAsia akan kembali terulang.
Namun, menurut Direktur Keselamatan dan Keamanan AirAsia Indonesia,
Raden Achmad Sadikin, insiden yang terjadi akhir pekan kemarin, hanya
peristiwa minor. Dia pun membantah adanya mesin pesawat yang mati
sehingga mengakibatkan burung besi jenis Airbus A320-200 itu gagal
terbang.
"Bukan disebabkan mesin pesawat mati. Pesawat memang ingin lepas
landas, tetapi unit daya tambahan (APU), yakni peralatan yang membantu
untuk menyalakan mesin, tiba-tiba mati," ungkap Sadikin.
Sementara, Bos AirAsia Indonesia, Sunu Widyatmoko, di tempat
berbeda mengatakan pesawat tersebut akhirnya bisa tiba dengan selamat di
kota tujuan, yakni Bandung. Hal itu terjadi setelah pesawat melalui
sebuah pemeriksaan.
Tony pun mengungkapkan kekesalan melalui akun resmi Twitternya
ketika mendengar laporan awal bahwa mesin salah satu pesawat milik
maskapainya disebut tidak berfungsi. Dia bahkan menyebut berita tersebut
sebagai berita konyol dan hanya sekedar mencari sensasi.
"Tajuk pemberitaan konyol di Malaysia. Pesawat AirAsia Indonesia
tidak mengalami mati mesin. APU yang menjadi tenaga di permukaan darat
harus dinyalakan kembali," tulis Tony yang memulai bisnis penerbangan
pada tahun 2001 lalu.
Menkopolhukam: Tak Ada Ancaman ISIS di Surabaya
Oleh :
Eko Priliawito, Nila Chrisna Yulika
VIVAnews -
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan HAM, Tedjo Edhy Purdijatno,
mengatakan bahwa pihaknya tidak mau menganggap bahwa travel warning
(peringatan bepergian) yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat
sebagai ancaman serius.
"Itu haknya pihak Amerika yang mengeluarkan travel warning,
tetap kita tidak mau bahwa itu dianggap ancaman serius hanya patut
kita waspadai agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan,"
kata Tedjo usai menghadiri HUT PPP di Gedung Djoang, Jakarta, Senin 5
Januari 2015.
Menurut Tedjo, peringatan bepergian untuk warga negara
Amerika ke Surabaya adalah karena mereka melihat bahwa banyak kelompok
yang bergabung ke Islamic State of Irak and Syria berangkat dari
Surabaya.
Namun, tentu Tedjo tak mempercayai hal itu. Sebab, aparat
keamanan telah sigap dengan memberikan data-data kelompok yang dianggap
berafiliasi dengan ISIS. Apalagi itu bisa dicegah.
"Salah satu contohnya untuk yang (WNI) tertangkap di Malaysia setelah ditelusuri tidak ada kaitannya (dengan ISIS)," ujarnya.
Tedjo menegaskan bahwa di Surabaya tidak ada ancaman ISIS.
Sehingga peringatan Amerika itu tak beralasan. "Selama ini biasa saja,
tahun baru, natalan tidak ada masalah," ujar dia.
Bahkan, Tedjo memberikan garansi bahwa di Surabaya aman dan tidak ada
ancaman ISIS. "Insyaalah, asal kita benar-benar berikan informasi dan
informasi diberikan kepada pemerintah," katanya. (ren)
13 Fakta di Balik Tragedi AirAsia QZ8501
Oleh :
Hadi Suprapto, Harry Siswoyo
VIVAnews -
Sepekan sudah tragedi jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501. Upaya pencarian
badan pesawat dan korban yang diduga hilang di perairan laut Selat
Karimata, Kalimantan Tengah, terus dioptimalkan.
Insiden ini bahkan menarik perhatian sejumlah negara. Mulai dari Singapura, Rusia, Amerika, Malaysia, Korea Selatan, hingga Jepang. Semua ikut terlibat mencari pesawat Airbus 320-200 yang membawa 155 penumpang dan tujuh awak ini.
Apalagi rumor beredar bahwa rute penerbangan Juanda Surabaya-Changi Singapura ini merupakan salah satu rute paling aman dan nyaman bagi para pilot. "Ibarat jalan tol, rute ini paling enak," kata Staf Khusus Menteri Perhubungan Hadi Mustafa Djuraid.
"Kejadian jatuhnya pesawat di jalur ini merupakan kali pertama dalam sejarah penerbangan di Indonesia," katanya, melanjutkan.
Kecelakaan ini memantik sejumlah spekulasi tentang kronologi jatuhnya pesawat ini. Namun demikian, satu yang pasti, semua ini akan terungkap bila kotak hitam yang menyimpan rekaman data penerbangan dan rekaman suara di kokpit ditemukan.
Berikut sejumlah fakta kronologi seputar jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501, yang layak Anda diketahui:
1. Jadwal terbang semula pesawat dengan tujuan Singapura ini adalah pukul 07.20 WIB pada Minggu 28 Desember 2014. Namun, manajemen memajukan jadwalnya menjadi pukul 05.36, lewat pengumuman surat elektronik yang dikirimkan kepada 155 penumpang.
2. Usai lepas landas, sekira 30 menit terbang, pesawat yang diawaki Pilot Irianto dan Kopilot Remi Emmanuel sempat meminta bergeser ke kiri sejauh tujuh mil dari lintasan. "Permintaan itu (bergeser ke kiri) sudah terkonfirmasi dan disetujui oleh ATC (Air Traffic Control) di Ujung Pandang dan diketahui oleh ATC Jakarta," ujar General Manager ATC Bandar Udara Soekarno Hatta, Budi Hendro.
3. Tak lama setelah itu, pilot kembali meminta perubahan tinggi level terbang. Semula dengan ketinggian 32 ribu kaki menjadi 38 ribu kaki. Permintaan itu tanpa disertai alasan. Padahal perjalanan pesawat baru 50 mil laut. Kala itu, posisi pesawat sudah di batas kewenangan ATC Ujung Pandang Makassar dan Jakarta.
4. Perubahan level terbang tersebut langsung direspons ATC Jakarta untuk selanjutnya dikoordinasikan dengan ATC Makassar dan Singapura. Namun, karena trafik pesawat padat, yakni GIA320 di ketinggian 35 ribu kaki, AWQ502 38 ribu kaki, GIA602 35 ribu kaki, UAE409 36 ribu kaki, LNI626 37 ribu kaki, LNI 763 34 ribu kaki dan GIA531 36 ribu kaki.
Maka, perubahan level terbang hanya disetujui untuk di ketinggian 34 ribu kaki atau di bawah LNI 626 yang sedang terbang menyilang di atas QZ8501 di ketinggian 37 ribu kaki. "Ketinggian 34 ribu kaki adalah ketinggian paling aman yang kami pertimbangkan. Pesawat masih bisa leluasa bergerak dan tidak mengganggu pesawat lain yang terbang di hari yang sama," kata General Manager ATC Bandar Udara Soekarno Hatta, Budi Hendro.
5. Perubahan level terbang menjadi lebih tinggi yang diminta AirAsia QZ8501 adalah permintaan biasa. Tidak ada sinyal darurat saat meminta perubahan tersebut. "Awalnya kami pikir itu cuma permintaan economic level pilot saja. Atau tinggi terbang paling nyaman dari pilot. Sebab tidak ada sekali pun sinyal darurat dan alasan yang dilaporkan pilot saat meminta menaikkan level terbang," kata Direktur Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia, Bambang Thahjono.
6. Menurut mantan pilot Airbus 330, Megi H Helmadi, umumnya permintaan menaikkan level terbang lebih tinggi memang sering dilakukan oleh pilot. Hal itu ditujukan untuk menghemat konsumsi bahan bakar dan mengurangi turbulensi pesawat. "Semakin tinggi kita terbang, maka pesawat akan semakin irit. Turbulensi juga sangat kecil, sehingga kita lebih nyaman terbang," kata Megi.
7. Masih menurut Megi, sesuai prosedur penerbangan, saat kondisi cuaca buruk tidak diperkenankan bagi seorang pilot untuk menambah ketinggian pesawat. Pilot hanya bisa melakukan pergeseran ke kiri atau kanan maupun menurunkan ketinggian. "Jika terjadi deviasi cuaca mendadak, pilot itu cuma boleh geser ke kiri, ke kanan, atau turun. Tidak boleh naik, itu sudah jadi prosedur," katanya.
8. Tragedi terjadi. Tepat pukul 07.14 WIB atau sekitar 1 jam 15 menit perjalanan, pesawat dilaporkan hilang kontak. Hilangnya status AirAsia QZ8501 tersebut tak lama setelah permintaan perubahan level terbang dari 32 ribu menjadi 34 ribu kaki yang disetujui ATC Jakarta. "Kami mencoba mengontak hingga delapan kali ke AirAsia QZ8501. Tapi tidak terdengar respons," kata GM ATC Soekarno Hatta, Budi Hendro.
9. Sejak dilaporkan hilang kontak, tidak pernah sekali pun terdengar sinyal darurat, baik dari Emergency Locater Transmitter (ELT) maupun dari Underwater Locator Beacon (ULB) dari QZ8501. Begitu juga dengan sinyal 'PING' dari black box. Hingga hari ketujuh pencarian, Sabtu 3 Januari 2015, belum pernah tertangkap sinyal tersebut oleh tim pencari.
"Sampai kini belum ada sinyal ping yang tertangkap dari black box. Kami masih terus mengupayakan pencariannya seoptimal mungkin," kata Kepala Badan SAR Nasional Maresekal Madya TNI F Henry Bambang Soelistyo, Sabtu.
10. Selasa, 30 Desember 2014, sekira pukul 14.49, Badan SAR Nasional melaporkan telah menemukan sejumlah serpihan pesawat dan enam terduga korban AirAsia yang mengapung di perairan laut Selat Karimata. Hingga memasuki hari ketujuh pencarian, 3 Januari, total 30 korban sudah terevakuasi dan di bawa ke Bandara Juanda Surabaya.
11. Jumat 2 Januari 2015, sekira pukul 23.40, tim SAR gabungan menemukan dua objek besar di bawah laut, dengan ukuran 9,4 x 4,8 x 0,4 meter. Diduga kuat objek ini merupakan bagian dari badan pesawat.
12. Selanjutnya pada Sabtu 3 Januari, pada pukul 05.43 ditemukan kembali satu objek besar seukuran 7,2 x 0,9 x 0,4 meter. Selanjutnya pukul 13.30 berupa objek berukuran 18 x 5,4 x 2,2 meter dan pada pukul 14.25 dengan objek seukuran 12,4 x 0,6 x 0,5 meter.
"Total ada empat objek besar yang ditemukan di lokasi prioritas pencarian. Namun kami belum bisa mendeskripsikan apa bentuk objek ini. Diperkirakan empat bagian besar dari pesawat AirAsia," kata Kepala Basarnas Soelistyo.
13. Simpang siur penyebab jatuhnya pesawat AirAsia, menjadi perhatian serius pemerintah. Rute AirAsia Surabaya-Singapura pun dibekukan. Bahkan Kementerian Perhubungan akan melakukan investigasi khusus. Pertama soal baru diambilnya laporan cuaca leh AirAsia usai kejadian dan kedua soal jadwal penerbangan yang diajukan lebih awal dari seharusnya.
"Kami akan selidiki ini. Dalam sepekan kedepan kita usahakan sudah ada titik terangnya," kata Staf Khusus Menteri Perhubungan Hadi Mustafa Djuraid.
Insiden ini bahkan menarik perhatian sejumlah negara. Mulai dari Singapura, Rusia, Amerika, Malaysia, Korea Selatan, hingga Jepang. Semua ikut terlibat mencari pesawat Airbus 320-200 yang membawa 155 penumpang dan tujuh awak ini.
Apalagi rumor beredar bahwa rute penerbangan Juanda Surabaya-Changi Singapura ini merupakan salah satu rute paling aman dan nyaman bagi para pilot. "Ibarat jalan tol, rute ini paling enak," kata Staf Khusus Menteri Perhubungan Hadi Mustafa Djuraid.
"Kejadian jatuhnya pesawat di jalur ini merupakan kali pertama dalam sejarah penerbangan di Indonesia," katanya, melanjutkan.
Kecelakaan ini memantik sejumlah spekulasi tentang kronologi jatuhnya pesawat ini. Namun demikian, satu yang pasti, semua ini akan terungkap bila kotak hitam yang menyimpan rekaman data penerbangan dan rekaman suara di kokpit ditemukan.
Berikut sejumlah fakta kronologi seputar jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501, yang layak Anda diketahui:
1. Jadwal terbang semula pesawat dengan tujuan Singapura ini adalah pukul 07.20 WIB pada Minggu 28 Desember 2014. Namun, manajemen memajukan jadwalnya menjadi pukul 05.36, lewat pengumuman surat elektronik yang dikirimkan kepada 155 penumpang.
2. Usai lepas landas, sekira 30 menit terbang, pesawat yang diawaki Pilot Irianto dan Kopilot Remi Emmanuel sempat meminta bergeser ke kiri sejauh tujuh mil dari lintasan. "Permintaan itu (bergeser ke kiri) sudah terkonfirmasi dan disetujui oleh ATC (Air Traffic Control) di Ujung Pandang dan diketahui oleh ATC Jakarta," ujar General Manager ATC Bandar Udara Soekarno Hatta, Budi Hendro.
3. Tak lama setelah itu, pilot kembali meminta perubahan tinggi level terbang. Semula dengan ketinggian 32 ribu kaki menjadi 38 ribu kaki. Permintaan itu tanpa disertai alasan. Padahal perjalanan pesawat baru 50 mil laut. Kala itu, posisi pesawat sudah di batas kewenangan ATC Ujung Pandang Makassar dan Jakarta.
4. Perubahan level terbang tersebut langsung direspons ATC Jakarta untuk selanjutnya dikoordinasikan dengan ATC Makassar dan Singapura. Namun, karena trafik pesawat padat, yakni GIA320 di ketinggian 35 ribu kaki, AWQ502 38 ribu kaki, GIA602 35 ribu kaki, UAE409 36 ribu kaki, LNI626 37 ribu kaki, LNI 763 34 ribu kaki dan GIA531 36 ribu kaki.
Maka, perubahan level terbang hanya disetujui untuk di ketinggian 34 ribu kaki atau di bawah LNI 626 yang sedang terbang menyilang di atas QZ8501 di ketinggian 37 ribu kaki. "Ketinggian 34 ribu kaki adalah ketinggian paling aman yang kami pertimbangkan. Pesawat masih bisa leluasa bergerak dan tidak mengganggu pesawat lain yang terbang di hari yang sama," kata General Manager ATC Bandar Udara Soekarno Hatta, Budi Hendro.
5. Perubahan level terbang menjadi lebih tinggi yang diminta AirAsia QZ8501 adalah permintaan biasa. Tidak ada sinyal darurat saat meminta perubahan tersebut. "Awalnya kami pikir itu cuma permintaan economic level pilot saja. Atau tinggi terbang paling nyaman dari pilot. Sebab tidak ada sekali pun sinyal darurat dan alasan yang dilaporkan pilot saat meminta menaikkan level terbang," kata Direktur Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia, Bambang Thahjono.
6. Menurut mantan pilot Airbus 330, Megi H Helmadi, umumnya permintaan menaikkan level terbang lebih tinggi memang sering dilakukan oleh pilot. Hal itu ditujukan untuk menghemat konsumsi bahan bakar dan mengurangi turbulensi pesawat. "Semakin tinggi kita terbang, maka pesawat akan semakin irit. Turbulensi juga sangat kecil, sehingga kita lebih nyaman terbang," kata Megi.
7. Masih menurut Megi, sesuai prosedur penerbangan, saat kondisi cuaca buruk tidak diperkenankan bagi seorang pilot untuk menambah ketinggian pesawat. Pilot hanya bisa melakukan pergeseran ke kiri atau kanan maupun menurunkan ketinggian. "Jika terjadi deviasi cuaca mendadak, pilot itu cuma boleh geser ke kiri, ke kanan, atau turun. Tidak boleh naik, itu sudah jadi prosedur," katanya.
8. Tragedi terjadi. Tepat pukul 07.14 WIB atau sekitar 1 jam 15 menit perjalanan, pesawat dilaporkan hilang kontak. Hilangnya status AirAsia QZ8501 tersebut tak lama setelah permintaan perubahan level terbang dari 32 ribu menjadi 34 ribu kaki yang disetujui ATC Jakarta. "Kami mencoba mengontak hingga delapan kali ke AirAsia QZ8501. Tapi tidak terdengar respons," kata GM ATC Soekarno Hatta, Budi Hendro.
9. Sejak dilaporkan hilang kontak, tidak pernah sekali pun terdengar sinyal darurat, baik dari Emergency Locater Transmitter (ELT) maupun dari Underwater Locator Beacon (ULB) dari QZ8501. Begitu juga dengan sinyal 'PING' dari black box. Hingga hari ketujuh pencarian, Sabtu 3 Januari 2015, belum pernah tertangkap sinyal tersebut oleh tim pencari.
"Sampai kini belum ada sinyal ping yang tertangkap dari black box. Kami masih terus mengupayakan pencariannya seoptimal mungkin," kata Kepala Badan SAR Nasional Maresekal Madya TNI F Henry Bambang Soelistyo, Sabtu.
10. Selasa, 30 Desember 2014, sekira pukul 14.49, Badan SAR Nasional melaporkan telah menemukan sejumlah serpihan pesawat dan enam terduga korban AirAsia yang mengapung di perairan laut Selat Karimata. Hingga memasuki hari ketujuh pencarian, 3 Januari, total 30 korban sudah terevakuasi dan di bawa ke Bandara Juanda Surabaya.
11. Jumat 2 Januari 2015, sekira pukul 23.40, tim SAR gabungan menemukan dua objek besar di bawah laut, dengan ukuran 9,4 x 4,8 x 0,4 meter. Diduga kuat objek ini merupakan bagian dari badan pesawat.
12. Selanjutnya pada Sabtu 3 Januari, pada pukul 05.43 ditemukan kembali satu objek besar seukuran 7,2 x 0,9 x 0,4 meter. Selanjutnya pukul 13.30 berupa objek berukuran 18 x 5,4 x 2,2 meter dan pada pukul 14.25 dengan objek seukuran 12,4 x 0,6 x 0,5 meter.
"Total ada empat objek besar yang ditemukan di lokasi prioritas pencarian. Namun kami belum bisa mendeskripsikan apa bentuk objek ini. Diperkirakan empat bagian besar dari pesawat AirAsia," kata Kepala Basarnas Soelistyo.
13. Simpang siur penyebab jatuhnya pesawat AirAsia, menjadi perhatian serius pemerintah. Rute AirAsia Surabaya-Singapura pun dibekukan. Bahkan Kementerian Perhubungan akan melakukan investigasi khusus. Pertama soal baru diambilnya laporan cuaca leh AirAsia usai kejadian dan kedua soal jadwal penerbangan yang diajukan lebih awal dari seharusnya.
"Kami akan selidiki ini. Dalam sepekan kedepan kita usahakan sudah ada titik terangnya," kata Staf Khusus Menteri Perhubungan Hadi Mustafa Djuraid.
Evakuasi Truk Nyangkut di KM 21 Butuh 7 Jam karena Harus Melepas JPO
Fajar Pratama - detikNews
Jakarta - Dibutuhkan waktu tujuh jam untuk melepas truk Hino yang nyangkut di jembatan penyeberangan orang (JPO) yang ada di KM 21 Tol Jagorawi. Evakuasi memakan waktu lama karena jembatan itu juga harus dilepas.
"Jadi sampai pukul 05.50 WIB tadi baru selesai dilakukan. Sepenuhnya selesai setelah JPO-nya kami lepas dan dipinggirkan," kata Kepala Induk PJR Jagorawi AKP Sutinah dalam perbincangan, Selasa (6/1/2015).
Dia menjelaskan kendala yang dihadapi adalah drooling truk yang penyok akibat menabrak jembatan itu rupanya tersangkut pengait jembatan. Dikhawatirkan bila dievakuasi secara terburu-buru bukan tidak mungkin membuat jembatan tersebut ambruk terlebih sudah terdapat retakan di jembatan itu.
Sutinah mengatakan, truk sudah berhasil dikeluarkan sekitar pukul 04.00 WIB pagi tadi. Namun proses itu belum selesai lantaran JPO yang ditabrak truk itu dianggap membahayakan jika dibiarkan. Akhirnya diputuskan agar JPO tersebut sekalian ikut dilepas.
"Untuk keselamatan, dilepas saja JPO-nya," ujar Sutinah.
Proses evakuasi itu sendiri dilakukan sejak pukul 23.00 WIB Senin malam tadi. "Saat ini truk tersebut dibawa ke Gunung Putri," kata Sutinah.
Jakarta - Dibutuhkan waktu tujuh jam untuk melepas truk Hino yang nyangkut di jembatan penyeberangan orang (JPO) yang ada di KM 21 Tol Jagorawi. Evakuasi memakan waktu lama karena jembatan itu juga harus dilepas.
"Jadi sampai pukul 05.50 WIB tadi baru selesai dilakukan. Sepenuhnya selesai setelah JPO-nya kami lepas dan dipinggirkan," kata Kepala Induk PJR Jagorawi AKP Sutinah dalam perbincangan, Selasa (6/1/2015).
Dia menjelaskan kendala yang dihadapi adalah drooling truk yang penyok akibat menabrak jembatan itu rupanya tersangkut pengait jembatan. Dikhawatirkan bila dievakuasi secara terburu-buru bukan tidak mungkin membuat jembatan tersebut ambruk terlebih sudah terdapat retakan di jembatan itu.
Sutinah mengatakan, truk sudah berhasil dikeluarkan sekitar pukul 04.00 WIB pagi tadi. Namun proses itu belum selesai lantaran JPO yang ditabrak truk itu dianggap membahayakan jika dibiarkan. Akhirnya diputuskan agar JPO tersebut sekalian ikut dilepas.
"Untuk keselamatan, dilepas saja JPO-nya," ujar Sutinah.
Proses evakuasi itu sendiri dilakukan sejak pukul 23.00 WIB Senin malam tadi. "Saat ini truk tersebut dibawa ke Gunung Putri," kata Sutinah.
Ini Kecanggihan Pesawat Orion Korsel yang Sudah Temukan 6 Korban QZ8501
Elza Astari Retaduari - detikNews
Jakarta - Pesawat P-3C Orion KN-01 milik Korea Selatan dikirimkan ke Indonesia untuk membantu pencarian Pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di sekitar selatan Perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Pesawat buatan pabrikan Amerika Lockheed Martin Amerika ini bahkan berhasil menemukan 6 jenazah korban melalui pantauan udara.
Berdasarkan informasi dari Dispen TNI AU dan juga dirangkum dari berbagai sumber, pesawat ini memiliki kecepatan Patroli205 knot (375 kmpj) dengan jarak jelajah 300 Nautical Miles (NM). Pesawat intai maritim anti kapal selam milik angkatan udara Negeri Ginseng itu dilengkapi dengan berbagai peralatan canggih.
Pesawat ini memiliki teknologi khusus di bagian ekor pesawatnya yang dibuat untuk menemukan obyek di dalam laut. Orion tipe P-3 dilengkapi dengan detektor anomali magnetik di ekornya untuk untuk menemukan kapal selam di bawah laut. Sayangnya jangkauan alat tersebut terbatas sehingga pesawat harus terbang dekat-dekat dengan permukaan laut.
Saat pencarian AirAsia di hari keduanya, Jumat (2/1) lalu, pesawat ini terbang cukup rendah yakni pada ketinggian 300 feet atau sekitar 100 meter dari permukaan laut. Alat ini diletakkan di bagian ekornya karena dapat menimbulkan kebisingan elektromagnetik karena sensitivitas detektor sehingga dapat mengganggu alat lain di pesawat.
Orion mampu bertahan hingga 14 jam dan diterbangkan oleh sekitar 10 kru pesawat dengan 4 mesin turboprop Allison T56-A-14. Masing-masing turboprop itu memutarkan 4 pisau baling.
Sistem anti-kapal selam untuk teknologi pemindaian pesawat ini terdiri atas AN/ARR-78 (V) sistem alat sonar atau sonobuoy, AN/ARR-72, indikator rekaman, 2 analis arah akuistik frekuensi dan tape perekam sonar. Sonobuoys diluncurkan dari dalam kabin utama dan juga dari cantelan luar.
Pesawat ini dilengkapi dengan digital multi-mode radar. Di mana sistem pengawasan penerima elektroniknya bisa secara otomatis beroperasi dalam mode pencarian yang bisa menjadi radar kapal selam. Saat sinyal radar kapal selam terdeteksi, sistem ini bisa beralih ke modus untuk menemukan arah dan menandai sinyal yang ditangkap oleh pesawat.
Orion Korsel ini sebelum ikut SAR AirAsia ini disebut pernah melakukan pencarian Pesawat Boeing 777 MH 370 milik Malaysia Airlines dengan rute Kuala Lumpur-Beijing yang hilang pada bulan Maret 2014. Pada misinya kali ini, Orion membawa 2 pilot dan 8 kru pesawat.
Satgas P-3C Orion Korsel ini dibawah pimpinan Mission Commander Colonel Yoon Kiheui, dengan Captain Pilot Mayor Lee Jung Bong dan Captain Song Yong Hoon, serta Copilot Captain Jang Woo Yong dan Captain Lee Gyu Yoon. Tim Korsel juga melibatkan personil perwira penerbang CN-295 TNI AU Mayor Pnb Trinanda Hasan dari Skadron Udara 2 Halim yang bertindak selaku observer sekaligus penerjemah.
Pesawat ini sebenarnya memiliki misi untuk membantu mencari badan pesawat AirAsia yang hilang pada Minggu (28/12/2014) lalu. "Pesawat intai Maritim anti Kapal Selam AU Korsel ini akan membantu melokalisir badan utama pesawat Airbus yang hilang," ujar Kadispenau Marsma Hadi Tjahjanto beberapa waktu lalu.
Jakarta - Pesawat P-3C Orion KN-01 milik Korea Selatan dikirimkan ke Indonesia untuk membantu pencarian Pesawat AirAsia QZ8501 yang jatuh di sekitar selatan Perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Pesawat buatan pabrikan Amerika Lockheed Martin Amerika ini bahkan berhasil menemukan 6 jenazah korban melalui pantauan udara.
Berdasarkan informasi dari Dispen TNI AU dan juga dirangkum dari berbagai sumber, pesawat ini memiliki kecepatan Patroli205 knot (375 kmpj) dengan jarak jelajah 300 Nautical Miles (NM). Pesawat intai maritim anti kapal selam milik angkatan udara Negeri Ginseng itu dilengkapi dengan berbagai peralatan canggih.
Pesawat ini memiliki teknologi khusus di bagian ekor pesawatnya yang dibuat untuk menemukan obyek di dalam laut. Orion tipe P-3 dilengkapi dengan detektor anomali magnetik di ekornya untuk untuk menemukan kapal selam di bawah laut. Sayangnya jangkauan alat tersebut terbatas sehingga pesawat harus terbang dekat-dekat dengan permukaan laut.
Saat pencarian AirAsia di hari keduanya, Jumat (2/1) lalu, pesawat ini terbang cukup rendah yakni pada ketinggian 300 feet atau sekitar 100 meter dari permukaan laut. Alat ini diletakkan di bagian ekornya karena dapat menimbulkan kebisingan elektromagnetik karena sensitivitas detektor sehingga dapat mengganggu alat lain di pesawat.
Orion mampu bertahan hingga 14 jam dan diterbangkan oleh sekitar 10 kru pesawat dengan 4 mesin turboprop Allison T56-A-14. Masing-masing turboprop itu memutarkan 4 pisau baling.
Sistem anti-kapal selam untuk teknologi pemindaian pesawat ini terdiri atas AN/ARR-78 (V) sistem alat sonar atau sonobuoy, AN/ARR-72, indikator rekaman, 2 analis arah akuistik frekuensi dan tape perekam sonar. Sonobuoys diluncurkan dari dalam kabin utama dan juga dari cantelan luar.
Pesawat ini dilengkapi dengan digital multi-mode radar. Di mana sistem pengawasan penerima elektroniknya bisa secara otomatis beroperasi dalam mode pencarian yang bisa menjadi radar kapal selam. Saat sinyal radar kapal selam terdeteksi, sistem ini bisa beralih ke modus untuk menemukan arah dan menandai sinyal yang ditangkap oleh pesawat.
Orion Korsel ini sebelum ikut SAR AirAsia ini disebut pernah melakukan pencarian Pesawat Boeing 777 MH 370 milik Malaysia Airlines dengan rute Kuala Lumpur-Beijing yang hilang pada bulan Maret 2014. Pada misinya kali ini, Orion membawa 2 pilot dan 8 kru pesawat.
Satgas P-3C Orion Korsel ini dibawah pimpinan Mission Commander Colonel Yoon Kiheui, dengan Captain Pilot Mayor Lee Jung Bong dan Captain Song Yong Hoon, serta Copilot Captain Jang Woo Yong dan Captain Lee Gyu Yoon. Tim Korsel juga melibatkan personil perwira penerbang CN-295 TNI AU Mayor Pnb Trinanda Hasan dari Skadron Udara 2 Halim yang bertindak selaku observer sekaligus penerjemah.
Pesawat ini sebenarnya memiliki misi untuk membantu mencari badan pesawat AirAsia yang hilang pada Minggu (28/12/2014) lalu. "Pesawat intai Maritim anti Kapal Selam AU Korsel ini akan membantu melokalisir badan utama pesawat Airbus yang hilang," ujar Kadispenau Marsma Hadi Tjahjanto beberapa waktu lalu.
Senin, 05 Januari 2015
Siapa yang Mengeluarkan 'Izin Hantu' AirAsia QZ8501?
Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Jakarta - Simpang siur izin penerbangan AirAsia pada hari Minggu (28/12) lalu masih jadi tanda tanya. Kemenhub menuding AirAsia terbang tanpa izin, namun maskapai yang kehilangan pesawat dengan nomor penerbangan QZ8501 merasa sudah sesuai prosedur. Siapa sebenarnya yang menerbitkan 'izin hantu' AirAsia QZ8501?
Kemenhub memutuskan membekukan penerbangan Indonesia AirAsia tujuan Surabaya-Singapura untuk sementara sampai proses investigasi tuntas. Kemenhub menilai AirAsia melanggar jadwal terbang yaitu hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu. Padahal, AirAsia diberi izin terbang pada Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu.
Namun pemilik AirAsia sampai saat ini masih yakin penerbangan pesawat nahas tersebut sudah sesuai prosedur. Sama halnya sejumlah pengamat penerbangan yang menilai tak mungkin maskapai berani sembarangan terbang tanpa mengantongi izin. Perkara 'izin hantu' itu diperoleh dengan cara di luar mekanisme resmi, itu urusan lain yang harus jadi bahan evaluasi Kemenhub.
Hal ini juga yang dilihat Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Waketum Gerindra ini meminta Kementerian Perhubungan tidak hanya menyalahkan maskapai terkait izin ilegal penerbangan AirAsia. Fadli menduga ada permainan juga di internal kementerian pimpinan Ignasius Jonan itu.
"It takes two to tango. Pasti ada dua pihak, karena sudah common practice. Kemenhub tidak bisa hanya salahkan maskapai. Kalau bisa terbang tidak mungkin tidak ada keterlibatan Kemenhub. Ada yang bermain," tuding Fadli di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (5/1/2015).
Pertanyaan besar saat ini adalah siapa yang bermain menerbitkan 'izin hantu' penerbangan AirAsia QZ8501. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sendiri berjanji akan menindak tegas bila ada oknum internal yang bermain terkait izin ilegal penerbangan. Upaya audit secara keseluruhan siap dilakukan.
"Bahwa seandainya mencakup yang terlibat adalah internal di Kemenhub, maka akan mendapatkan sanksi," kata staf khusus Menhub, Hadi M Djuraid, saat jumpa pers di Kemenhub, Jl Medan Merdeka Barat, Senin (5/1/2015).
Jakarta - Simpang siur izin penerbangan AirAsia pada hari Minggu (28/12) lalu masih jadi tanda tanya. Kemenhub menuding AirAsia terbang tanpa izin, namun maskapai yang kehilangan pesawat dengan nomor penerbangan QZ8501 merasa sudah sesuai prosedur. Siapa sebenarnya yang menerbitkan 'izin hantu' AirAsia QZ8501?
Kemenhub memutuskan membekukan penerbangan Indonesia AirAsia tujuan Surabaya-Singapura untuk sementara sampai proses investigasi tuntas. Kemenhub menilai AirAsia melanggar jadwal terbang yaitu hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu. Padahal, AirAsia diberi izin terbang pada Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu.
Namun pemilik AirAsia sampai saat ini masih yakin penerbangan pesawat nahas tersebut sudah sesuai prosedur. Sama halnya sejumlah pengamat penerbangan yang menilai tak mungkin maskapai berani sembarangan terbang tanpa mengantongi izin. Perkara 'izin hantu' itu diperoleh dengan cara di luar mekanisme resmi, itu urusan lain yang harus jadi bahan evaluasi Kemenhub.
Hal ini juga yang dilihat Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Waketum Gerindra ini meminta Kementerian Perhubungan tidak hanya menyalahkan maskapai terkait izin ilegal penerbangan AirAsia. Fadli menduga ada permainan juga di internal kementerian pimpinan Ignasius Jonan itu.
"It takes two to tango. Pasti ada dua pihak, karena sudah common practice. Kemenhub tidak bisa hanya salahkan maskapai. Kalau bisa terbang tidak mungkin tidak ada keterlibatan Kemenhub. Ada yang bermain," tuding Fadli di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (5/1/2015).
Pertanyaan besar saat ini adalah siapa yang bermain menerbitkan 'izin hantu' penerbangan AirAsia QZ8501. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sendiri berjanji akan menindak tegas bila ada oknum internal yang bermain terkait izin ilegal penerbangan. Upaya audit secara keseluruhan siap dilakukan.
"Bahwa seandainya mencakup yang terlibat adalah internal di Kemenhub, maka akan mendapatkan sanksi," kata staf khusus Menhub, Hadi M Djuraid, saat jumpa pers di Kemenhub, Jl Medan Merdeka Barat, Senin (5/1/2015).
800 Kg Sabu Disita BNN di Cengkareng
Andri Haryanto - detikNews
Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) menggerebek gudang penyimpanan sabu di Cengkareng. Gudang itu menyimpan 800 kilogram sabu. Pengungkapan terbesar mengawali tahun 2015.
"Ada 800 kilogram sabu, itu berat net," kata salah seorang perwira di lingkungan BNN, kepada detikcom, Senin (5/1/2015).
Barang tersebut diduga berasal dari China. Belum dijelaskan bagaimana barang haram tersebut bisa sampai ke Indonesia. Namun dipastikan ada sejumlah tersangka yang saat ini ditahan.
"Ada tujuh orang," ujar salah seorang penyidik.
Saat ini, gedung berbentuk rumah yang dijadikan tempat penyimpanan tersebut dijaga ketat aparat BNN bersenjata lengkap. Pengungkapan dilakukan Senin (25/1) sore.
"Masih ada beberapa yang kami kejar," kata penyidik yang enggan namanya disebutkan itu.
Jakarta - Badan Narkotika Nasional (BNN) menggerebek gudang penyimpanan sabu di Cengkareng. Gudang itu menyimpan 800 kilogram sabu. Pengungkapan terbesar mengawali tahun 2015.
"Ada 800 kilogram sabu, itu berat net," kata salah seorang perwira di lingkungan BNN, kepada detikcom, Senin (5/1/2015).
Barang tersebut diduga berasal dari China. Belum dijelaskan bagaimana barang haram tersebut bisa sampai ke Indonesia. Namun dipastikan ada sejumlah tersangka yang saat ini ditahan.
"Ada tujuh orang," ujar salah seorang penyidik.
Saat ini, gedung berbentuk rumah yang dijadikan tempat penyimpanan tersebut dijaga ketat aparat BNN bersenjata lengkap. Pengungkapan dilakukan Senin (25/1) sore.
"Masih ada beberapa yang kami kejar," kata penyidik yang enggan namanya disebutkan itu.
Kendala Baru Pencarian Korban AirAsia
Oleh :
Suryanta Bakti Susila, Erick Tanjung
VIVAnews - Pencarian dan evakuasi korban beserta pesawat AirAsia QZ 8501 di perairan Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, telah lewat dari sepekan.
Tim SAR bakal menghadapi kendala baru untuk melakukan pencarian jenazah korban yang tenggelam bersama kapal di dasar laut. Menurut ahli forensik, jenazah yang lebih dari sepekan berada di laut sulit mengapung.
Hal itu disampaikan Ahli forensik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Oktavinda, di Jakarta, Senin 5 Januari 2015.
"Karena gas di dalam tubuh telah habis," ujar Oktavinda saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Jenazah yang diketemukan lewat dari seminggu juga bakal menyulitkan tim DVI. Sebab tubuh korban diperkirakan akan rusak karena terlalu lama berada di dalam air laut, seperti kulitnya terkelupas, jaringan-jaringan dan ototnya juga akan putus.
"Ciri-ciri fisik juga akan hilang, misalkan ada ciri lahir itu akan hilang. Seperti tahi lalat, nah itu tidak ada lagi," ujarnya.
Oktavinda menyarankan agar tim SAR gabungan dalam mengevakuasi jenazah yang sudah lewat dari delapan hari, harus dibekali dengan peralatan khusus seperti alat pelindung diri (APD). Sebab jasad mengandung banyak bakteri dan mudah menjadi penyakit.
"Jenazah korban berpotensi menular (penyakit), karena jenazah akan membawa kuman," terangnya.
VIVAnews - Pencarian dan evakuasi korban beserta pesawat AirAsia QZ 8501 di perairan Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, telah lewat dari sepekan.
Tim SAR bakal menghadapi kendala baru untuk melakukan pencarian jenazah korban yang tenggelam bersama kapal di dasar laut. Menurut ahli forensik, jenazah yang lebih dari sepekan berada di laut sulit mengapung.
Hal itu disampaikan Ahli forensik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Oktavinda, di Jakarta, Senin 5 Januari 2015.
"Karena gas di dalam tubuh telah habis," ujar Oktavinda saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Jenazah yang diketemukan lewat dari seminggu juga bakal menyulitkan tim DVI. Sebab tubuh korban diperkirakan akan rusak karena terlalu lama berada di dalam air laut, seperti kulitnya terkelupas, jaringan-jaringan dan ototnya juga akan putus.
"Ciri-ciri fisik juga akan hilang, misalkan ada ciri lahir itu akan hilang. Seperti tahi lalat, nah itu tidak ada lagi," ujarnya.
Oktavinda menyarankan agar tim SAR gabungan dalam mengevakuasi jenazah yang sudah lewat dari delapan hari, harus dibekali dengan peralatan khusus seperti alat pelindung diri (APD). Sebab jasad mengandung banyak bakteri dan mudah menjadi penyakit.
"Jenazah korban berpotensi menular (penyakit), karena jenazah akan membawa kuman," terangnya.
"Pintu Terbuka, Artinya Air Masuk ke Dalam Pesawat"
Jpnn
SURABAYA – Proses identifikasi jenazah penumpang AirAsia QZ8501 mendapat atensi Menteri Kesehatan Nila Moeloek.
Dia meninjau langsung proses identifikasi
di RS Bhayangkara kemarin (3/1). Nila datang pukul 11.30. Setiba di
rumah sakit, Nila langsung masuk ke ruang pemeriksaan post mortem.
Setelah itu, dia menuju posko keluarga di
Polda Jatim. Saat itu, banyak keluarga yang meminta penjelasan langsung
dari Nila mengenai perkembangan terbaru pencarian. Mereka mengaku
berharap masih ada penumpang yang hidup.
Nila pun menyampaikan duka
sedalam-dalamnya sekaligus menguatkan keluarga agar menghadapi realitas.
Menurut dia, pesawat hingga kini belum ditemukan dalam bentuk utuh. Itu
berarti, besar kemungkinan banyak penumpang masih ada di dalam pesawat
bertipe airbus A 320-200.
Apalagi pintu emergency yang berhasil
ditemukan membuktikan air sudah masuk ke dalam pesawat. ”Coba berpikir
logis. Pintu terbuka, artinya air masuk ke dalam. Dalam kurun wakru yang
cepat pesawat itu juga terjun langsung ke laut. Orang sulit keluar,"
ujarnya.
Menurut Nila Moeloek, pihaknya juga
seorang dokter yang pernah terlibat dalam pemeriksaan forensik. Dia
mengatakan, manusia yang tenggelam membutuhkan oksigen. Masalahnya, di
dalam laut tidak ada oksigen. Bahkan manusia yang terus menyedot air
laut nyawanya bisa melayang.
Belum lagi aliran air begitu deras.
Tingginya mencapai empat meter. Arus bisa membawa pesawat ke jarak yang
jauh. Pergeseran itu membuat penumpang di dalam pesawat sulit ditemukan
dalan kondisi hidup.
Namun, dia mengaku akan terus bekerja
optimal untuk menemukan pesawat itu. Apalagi ada bantuan dari Singapura,
Malaysia, dan Korea Selatan. Negara tersebut juga membantu proses
identifikasi. Misalnya Singapura yang membantu proses pemeriksaan
fingerprint. ”Manusia ada keterbatasan. Mari terus berdoa," ujar Nila.
Menurut dia, RS Bhayangkara dan RS
Imanudin akan memaksimalkan usaha identifikasi. Namun proses itu memang
tidak bisa cepat. Sebab, kondisi jasad saat ditemukan sangat
berpengaruh. Dia berharap jenazah segera ditemukan. Yakni agar organ
tidak rusak. Sebab, jasad yang berada di dalam air akan menggelembung.
Kulit pun rusak.
Nila mengatakan, baju yang masih melekat
pada jenazah juga bisa membantu identifikasi awal. Kondisi jasad dibuat
sepersis mungkin saat ditemukan. Nila tidak menolerasi adanya kesalahan
yang bisa berdampak besar..
Sementara itu, Ahli Forensik FK UI Prof
Budi Sampurna menambahkan, salah satu penyebab proses identifikasi
membutuhkan waktu lama adalah lantaran tes DNA. Lalu, pemeriksaan fisik
jenazah yang kulitnya sudah lepas dan bekas jaringannya hilang. Proses
identifikasi juga harus membandingkan data sewaktu masih hidup dengan
yang dijenazah. ”Banyak item yang diperiksa. Banyak langkah,” ujarnya.
Menurut Budi, langkah dimulai dari tanda
di tubuh hingga properti. Langkah selanjutnya berturut-turut mulai dari
sidik jari, data gigi, dan pengambilan bahan untuk DNA. Pemeriksaan bisa
berlangsung cepat jika jenazah dalam kondisi baik. Artinya, kecepatan
penemuan jenazah sangat berpengaruh.
Budi mengatakan, sidik jari pada jenazah
yang ditemukan lebih awal bisa mudah diidentifikasi. Sementara itu, gigi
bergantung pada data yang dimiliki keluarga. Yang paling bagus, ada
gambarnya dari dokter gigi atau hasil foto ronsen.
Sebab, organ yang bisa bertahan lama hanya
gigi. Lalu, DNA dari keturunan vertikal. Sampel DNA bisa bertahan 100
tahun. ”Kalau meninggalnya sudah tiga hari ke atas, harus pakai cara
lebih canggih. Misalnya gigi. Makin lama lagi harus pakai DNA.
Mudah-mudahan penemuan jenazah cepat,” ucapnya.
Lama proses identifikasi ternyata tidak
sama. Budi menuturkan, pada kasus Bom Bali, identifikasi membutuhkan
waktu dua bulan. Untuk kasus jatuhnya pesawat Sukhoi, hanya perlu waktu
sepekan.
Menurut Budi, sebenarnya pemeriksaan tidak
membutuhkan waktu lama. Bisa sekitar dua hari saja. Namun, proses
analisis lah yang membuat identifikasi terkesan memakan waktu.
Karena itu, sebanyak apapun jumlah jenazah
harus langsung diserahkan rumah sakit. Tujuannya, identifikasi bisa
segera dilakukan. Budi mengaku identifikasi masih terus berjalan. Tidak
jarang, Tim DVI meminta tambahan data dari keluarga.
Selain itu, dari 30 jenazah yang
diidentifikasi, satu di antaranya menjalani otopsi. Hal itu dilakukan
untuk mengetahui penyebab kematian. Misalnya apakah saat kematian ada
trauma. Kemudian, kapan trauma terjadi. Apakah sebelum, saat, atau
sesudah pesawat jatuh. ”Tidak semua jenazah otopsi. Kalau tubuh sudah
terlanjur terbuka, akan kami periksa. Bisa otopsi karena langsung
dilihat,” imbuh Menkes Nila Moeloek.
Saat ini dia mengaku akan memprioritaskan
identifikasi, bukan otopsi. Nila menyatakan tidak bisa menyampaikan nama
jenazah yang di otopsi. Namun, dia memastikan Kemenkes telah
mengerahkan ahli forensik terbaik dari UI, UGM, dan Unair. Ada juga tim
psikiater dan psikolog untuk memotivasi keluarga. ”Kami tahu perasan
berduka keluarga. Mereka dalam tahap shock. Itu juga kami berusaha
atasi,” ujarnya.
Sementara itu, sesuai aturan, ada beberapa
penumpang lagi yang akan menjalani otopsi. Terutama kru pesawat.
Sebelumnya, tim forensik akan berkonsultasi dengan kepolisian untuk
otopsi. Menurut Budi Sampurno, otopsi tetap penting dilakukan untuk
mengetahui penyebab kematian. ”Paling tidak pilot, co pilot, dan contoh
jenazah penumpang,” ucapnya.
Kabiddokkes Polda Jatim Kombespol Budiyono
menambahkan, otopsi tidak dilakukan pada semua jenazah lantaran adanya
local wisdom. Selain itu, tidak semua keluarga korban mau jenazah
kerabatnya diotopsi.
”Otopsi hanya untuk konteks kepentingan
investigasi. Ada protokolnya. Yang penting identifikasi dulu. Khusus
untuk jenazah warga negara asing, nanti kami koordinasi dengan kedutaan
dan manajemen AirAsia,” tandasnya. (riq/nir)
IPW harap Presiden Jokowi segera serahkan nama calon Kapolri
Pewarta: Anita P Dewi
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia Police Watch (IPW) berharap Presiden Joko Widodo segera mengirimkan nama calon kandidat kapolri baru ke Komisi III DPR.
"Presiden Jokowi diharapkan pada pekan ini bisa segera mengirimkan nama calon kapolri baru ke Komisi III DPR. Dengan adanya kapolri baru diharapkan institusi Polri bisa menjalankan konsep Revolusi Mental yang dikumandangkan Presiden Jokowi," kata Ketua Presidium IPW Neta S. Pane, dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Minggu.
Menurut dia, jika presiden dapat mengirimkan nama calon kandidat kapolri baru pada pekan ini, maka pada pekan depan Komisi III DPR bisa segera memproses uji kelayakan dan kepatutan.
IPW berharap, jajaran Polri bisa tetap solid dalam menentukan kapolri baru seperti yang terjadi di tubuh TNI ketika menetapkan KSAL dan KSAU.
Menurut dia, banyak tugas yang menanti kapolri baru diantaranya harus segera melakukan konsolidasi organisasi agar Polri bisa segera menerapkan Revolusi Mental yang membawa perubahan kongkrit pada sikap, perilaku dan kinerja kepolisian. Selain itu kapolri baru juga harus mendorong Kejaksaan Agung maupun pemerintah agar segera mengeksekusi mati para terpidana narkoba.
"Bagaimanapun Polri punya tanggung jawab moral menuntaskannya sebab di tahap awal Polri yang memproses kasusnya. Dengan adanya eksekusi tersebut diharapkan ada efek jera bagi bandar narkoba internasional untuk mempecundangi Indonesia," kata Neta.
Sementara sebelumnya Kapolri Jenderal Polisi Sutarman menyerahkan sepenuhnya penunjukkan calon kapolri baru kepada Presiden Joko Widodo.
"Itu hak prerogatif presiden, bukan pada tempatnya saya memberi komentar. Jangan mengurangi hak prerogatif presiden," kata Sutarman saat ditanya calon kandidat kapolri baru.
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia Police Watch (IPW) berharap Presiden Joko Widodo segera mengirimkan nama calon kandidat kapolri baru ke Komisi III DPR.
"Presiden Jokowi diharapkan pada pekan ini bisa segera mengirimkan nama calon kapolri baru ke Komisi III DPR. Dengan adanya kapolri baru diharapkan institusi Polri bisa menjalankan konsep Revolusi Mental yang dikumandangkan Presiden Jokowi," kata Ketua Presidium IPW Neta S. Pane, dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Minggu.
Menurut dia, jika presiden dapat mengirimkan nama calon kandidat kapolri baru pada pekan ini, maka pada pekan depan Komisi III DPR bisa segera memproses uji kelayakan dan kepatutan.
IPW berharap, jajaran Polri bisa tetap solid dalam menentukan kapolri baru seperti yang terjadi di tubuh TNI ketika menetapkan KSAL dan KSAU.
Menurut dia, banyak tugas yang menanti kapolri baru diantaranya harus segera melakukan konsolidasi organisasi agar Polri bisa segera menerapkan Revolusi Mental yang membawa perubahan kongkrit pada sikap, perilaku dan kinerja kepolisian. Selain itu kapolri baru juga harus mendorong Kejaksaan Agung maupun pemerintah agar segera mengeksekusi mati para terpidana narkoba.
"Bagaimanapun Polri punya tanggung jawab moral menuntaskannya sebab di tahap awal Polri yang memproses kasusnya. Dengan adanya eksekusi tersebut diharapkan ada efek jera bagi bandar narkoba internasional untuk mempecundangi Indonesia," kata Neta.
Sementara sebelumnya Kapolri Jenderal Polisi Sutarman menyerahkan sepenuhnya penunjukkan calon kapolri baru kepada Presiden Joko Widodo.
"Itu hak prerogatif presiden, bukan pada tempatnya saya memberi komentar. Jangan mengurangi hak prerogatif presiden," kata Sutarman saat ditanya calon kandidat kapolri baru.
Calon Kapolri dituntut mampu tuntaskan Korupsi-HAM
Pewarta: Subaqyo
Jakarta (ANTARA News) - Calon Kapolri penganti Jenderal Sutarman dituntut mampu menerjemahkan pikiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait pemberantasan korupsi serta menuntaskan kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
"Pemikiran Presiden Jokowi, Kejaksaan dan Kepolisian akan didorong untuk penanganan korupsi yang lebih intensif," kata Ketua Masyarakat Anti-Korupsi (Marak) Agus Yohanes, di Jakarta, Minggu.
Mengingat selama ini, tambahnya, penanganan korupsi di dua institusi itu kalah jauh dibandingkan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Menurut Agus, pemberantasan korupsi hanya dapat dilakukan pimpinan lembaga dan institusi yang mempunyai moralitas, profesional, wibawa, memiliki panutan dan integritas yang tinggi.
"Feeling saya cuma satu, yakni Komjen Budi Gunawan yang cocok memimpin Polri ke depan. Budi sangat mendukung pemberantasan korupsi, utamanya di institusi Polri. Juga masalah HAM dia adalah sosok yang bersih dari masalah itu," katanya.
Memang, tambah pendiri LSM Kontras ini, pernah ada tudingan yang tak mengenakkan dilontarkan kepada Komjen Budi Gunawan, ternyata tudingan itu tidak terbukti setelah internal Polri melakukan penyidikan dan pemeriksaan mendalam.
Agus menambahkan dalam penanganan korupsi ini bukan berarti peran KPK dibatasi, namun sebagai dua lembaga penegak hukum yang sudah lama berdiri akan lebih dioptimalkan lagi.
Bahkan, menurut dia, akan ada pembagian tugas peran, yakni KPK menangani penanganan korupsi dalam skala nasional, sedangkan Kejaksaan dan Kepolisian lebih diutamakan menangani korupsi di daerah-daerah.
Tak bisa dipungkiri, lanjut pemerhatian korupsi itu, masalah korupsi di Indonesia sudah menyebar luas ke penjuru Nusantara.
Dia mengatakan KPK jelas tak mampu menangani secara total, karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan juga tidak memiliki perwakilan di daerah dibandingkan dengan Kejaksaan dan Kepolisian yang menyebar di setiap daerah.
Selain korupsi, lanjutnya, juga masalah HAM yang selalu menjadi perhatian serius Presiden Jokowi, seperti kasus Munir, kasus Udin Bernas, kasus Marsinah, kasus penculikan mahasiswa, dan sebagainya.
Paling tidak dalam perjalanan ke depan kasus HAM yang dilakukan oleh aparat, termasuk kepolisian harus dapat dieliminasi, tambahnya, mengingat banyak kasus HAM masa lalu membuat masyarakat tidak puas dengan kinerja Kepolisian.
"Nah ini tugas Kapolri Baru untuk penanganan HAM yang lebih baik lagi, sehingga masyarakat kembali memiliki kepercayaan yang tinggi kepada institusi kepolisian dalam penegakan HAM," katanya.
Agus menambahkan pimpinan Kejaksaan sudah ada, kini tinggal pimpinan Kepolisian yang belum ditunjuk, namun sudah ada beberapa calon pengganti Jenderal Sutarman.
"Kalau saya amati lebih dari lima calon, malah jumlah ini bisa terus bertambah. Nah, semua calon itu pasti mengerucut kepada satu orang untuk diserahkan ke Presiden Jokowi," katanya.
Jakarta (ANTARA News) - Calon Kapolri penganti Jenderal Sutarman dituntut mampu menerjemahkan pikiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait pemberantasan korupsi serta menuntaskan kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM).
"Pemikiran Presiden Jokowi, Kejaksaan dan Kepolisian akan didorong untuk penanganan korupsi yang lebih intensif," kata Ketua Masyarakat Anti-Korupsi (Marak) Agus Yohanes, di Jakarta, Minggu.
Mengingat selama ini, tambahnya, penanganan korupsi di dua institusi itu kalah jauh dibandingkan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Menurut Agus, pemberantasan korupsi hanya dapat dilakukan pimpinan lembaga dan institusi yang mempunyai moralitas, profesional, wibawa, memiliki panutan dan integritas yang tinggi.
"Feeling saya cuma satu, yakni Komjen Budi Gunawan yang cocok memimpin Polri ke depan. Budi sangat mendukung pemberantasan korupsi, utamanya di institusi Polri. Juga masalah HAM dia adalah sosok yang bersih dari masalah itu," katanya.
Memang, tambah pendiri LSM Kontras ini, pernah ada tudingan yang tak mengenakkan dilontarkan kepada Komjen Budi Gunawan, ternyata tudingan itu tidak terbukti setelah internal Polri melakukan penyidikan dan pemeriksaan mendalam.
Agus menambahkan dalam penanganan korupsi ini bukan berarti peran KPK dibatasi, namun sebagai dua lembaga penegak hukum yang sudah lama berdiri akan lebih dioptimalkan lagi.
Bahkan, menurut dia, akan ada pembagian tugas peran, yakni KPK menangani penanganan korupsi dalam skala nasional, sedangkan Kejaksaan dan Kepolisian lebih diutamakan menangani korupsi di daerah-daerah.
Tak bisa dipungkiri, lanjut pemerhatian korupsi itu, masalah korupsi di Indonesia sudah menyebar luas ke penjuru Nusantara.
Dia mengatakan KPK jelas tak mampu menangani secara total, karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan juga tidak memiliki perwakilan di daerah dibandingkan dengan Kejaksaan dan Kepolisian yang menyebar di setiap daerah.
Selain korupsi, lanjutnya, juga masalah HAM yang selalu menjadi perhatian serius Presiden Jokowi, seperti kasus Munir, kasus Udin Bernas, kasus Marsinah, kasus penculikan mahasiswa, dan sebagainya.
Paling tidak dalam perjalanan ke depan kasus HAM yang dilakukan oleh aparat, termasuk kepolisian harus dapat dieliminasi, tambahnya, mengingat banyak kasus HAM masa lalu membuat masyarakat tidak puas dengan kinerja Kepolisian.
"Nah ini tugas Kapolri Baru untuk penanganan HAM yang lebih baik lagi, sehingga masyarakat kembali memiliki kepercayaan yang tinggi kepada institusi kepolisian dalam penegakan HAM," katanya.
Agus menambahkan pimpinan Kejaksaan sudah ada, kini tinggal pimpinan Kepolisian yang belum ditunjuk, namun sudah ada beberapa calon pengganti Jenderal Sutarman.
"Kalau saya amati lebih dari lima calon, malah jumlah ini bisa terus bertambah. Nah, semua calon itu pasti mengerucut kepada satu orang untuk diserahkan ke Presiden Jokowi," katanya.
Pembusukan Jenazah Sudah Berbahaya
REPUBLIKA.CO.ID, PANGKALAN BUN -- Memasuki hari ke delapan
musibah jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501, jenazah yang ditemukan sudah
mengalami pembusukan lanjut dalam tahap berbahaya sehingga tim evakuasi
harus lebih berhati-hati.
"Tim SAR pakai baju khusus tadi itu karena sudah pembusukan tingkat berbahaya dan berisiko," kata Direktur RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, dr Suyuti Syamsul, Ahad (4/1)
Sekitar pukul 15.00 WIB, tiga jenazah kembali dievakuasi ke RSUD Sultan Imanuddin. Berbeda dari evakuasi yang dilakukan terhadap 30 jenazah pada hari-hari sebelumnya, kali ini tim evakuasi menggunakan pakaian pelindung khusus berwarna serba putih.
Ada empat kantong yang dibawa tim evakuasi. Namun Suyuti memastikan jenazah yang dievakuasi hanya tiga jenazah, sedangkan sisanya adalah properti yang mungkin milik korban.
Petugas evakuasi berpakaian khusus tersebut terlihat masuk mengantar jenazah sampai ke Posko DVI Biddokkes Polda Kalteng di rumah sakit tersebut. Namun setelah keluar ruangan, mereka tidak lagi mengenakan pakaian khusus tersebut.
"Pakaian khusus itu harus dimusnahkan dan di sini hanya di rumah sakit ini yang ada alat untuk pemusnahannya. Nanti itu dibakar di tempat pembakaran kami yang suhunya mencapai 1.100 derajat celsius. Mereka itu kan satu ruangan dengan jenazah saat di ambulans, jadi pakaian mereka sangat rentan terkontaminasi," kata Suyuti.
Suyuti menjelaskan, dalam tubuh manusia terdapat banyak kuman. Ketika manusia meninggal, kuman-kuman tersebut berproses dan bisa membahayakan manusia lainnya sehingga harus diwaspadai.
Pihak rumah sakit pun makin memperketat perlakuan untuk mencegah penyebaran kuman. Rembesan air dari kantong jenazah yang menetes di lantai langsung dibersihkan menggunakan cairan keras pemutih pakaian. Lantai dan dinding jenazah yang sudah kosong pun juga dibersihkan untuk mencegah penyebaran kuman.
"Makanya kami bersyukur cold storage (lemari pendingin) sehingga kalau jenazah tidak diberangkatkan di hari yang sama maka bisa kami simpan di cold storage sehingga ruangan bisa langsung dibersihkan untuk sterilisasi kuman," kata Suyuti.
Pesawat AirAsia QZ 8501 yang hilang kontak di Selat Karimata pada Minggu (28/12/2014) lalu. Sebanyak 155 penumpang dan tujuh kru berada dalam pesawat nahas tersebut. Hingga Minggu sore, sudah ada 30 jenazah yang dievakuasi.
"Tim SAR pakai baju khusus tadi itu karena sudah pembusukan tingkat berbahaya dan berisiko," kata Direktur RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, dr Suyuti Syamsul, Ahad (4/1)
Sekitar pukul 15.00 WIB, tiga jenazah kembali dievakuasi ke RSUD Sultan Imanuddin. Berbeda dari evakuasi yang dilakukan terhadap 30 jenazah pada hari-hari sebelumnya, kali ini tim evakuasi menggunakan pakaian pelindung khusus berwarna serba putih.
Ada empat kantong yang dibawa tim evakuasi. Namun Suyuti memastikan jenazah yang dievakuasi hanya tiga jenazah, sedangkan sisanya adalah properti yang mungkin milik korban.
Petugas evakuasi berpakaian khusus tersebut terlihat masuk mengantar jenazah sampai ke Posko DVI Biddokkes Polda Kalteng di rumah sakit tersebut. Namun setelah keluar ruangan, mereka tidak lagi mengenakan pakaian khusus tersebut.
"Pakaian khusus itu harus dimusnahkan dan di sini hanya di rumah sakit ini yang ada alat untuk pemusnahannya. Nanti itu dibakar di tempat pembakaran kami yang suhunya mencapai 1.100 derajat celsius. Mereka itu kan satu ruangan dengan jenazah saat di ambulans, jadi pakaian mereka sangat rentan terkontaminasi," kata Suyuti.
Suyuti menjelaskan, dalam tubuh manusia terdapat banyak kuman. Ketika manusia meninggal, kuman-kuman tersebut berproses dan bisa membahayakan manusia lainnya sehingga harus diwaspadai.
Pihak rumah sakit pun makin memperketat perlakuan untuk mencegah penyebaran kuman. Rembesan air dari kantong jenazah yang menetes di lantai langsung dibersihkan menggunakan cairan keras pemutih pakaian. Lantai dan dinding jenazah yang sudah kosong pun juga dibersihkan untuk mencegah penyebaran kuman.
"Makanya kami bersyukur cold storage (lemari pendingin) sehingga kalau jenazah tidak diberangkatkan di hari yang sama maka bisa kami simpan di cold storage sehingga ruangan bisa langsung dibersihkan untuk sterilisasi kuman," kata Suyuti.
Pesawat AirAsia QZ 8501 yang hilang kontak di Selat Karimata pada Minggu (28/12/2014) lalu. Sebanyak 155 penumpang dan tujuh kru berada dalam pesawat nahas tersebut. Hingga Minggu sore, sudah ada 30 jenazah yang dievakuasi.
Data Ante Mortem Korban AirAsia QZ8501 Sudah Lengkap
Rois Jajeli - detikNews
Surabaya - Pengumpulan data korban sebelum meninggal (ante mortem) pesawat AirAsia QZ8501 tujuan Surabaya-Singapura sudah lengkap. Termasuk data milik co pilot Remi Emanuel Plesel asal Prancis.
Hal itu disampaikan Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Awi Setiyono saat jumpa pers bersama Direktur Avsec AirAsia Achmad Sadikin di Crisis Center di Mapolda Jatim, Jalan A Yani, Surabaya, Minggu (4/1/2015) malam.
"Data ante mortem, alhamdulillah sudah lengkap," kata Kombes Pol Awi Setiyono.
Sedangkan data sampel DNA, dari 162 orang, yang sudah terkumpulkan sebanyak 146.
"DNA sampel sudah terkumpulkan 146," jelasnya.
Mantan Kapolres Magetan ini menambahkan, jumlah jenazah yang diterima di Rumah Sakit Bhayangkara sampai malam ini sebanyak 34 jenazah. Dari jumlah tersebut, 9 jenazah sudah diterima serahkan ke maskapai AirAsia dan keluarga sebanyak 5 berjenis kelamin perempuan dan 4 laki-laki.
"9 Jenazah proses pendalaman rekonsiliasi. 12 jenazah tadi pukul 18.00 wib sudah dilakukan pemeriksaan post mortem. dan 4 jenazah pukul 21.00 WIB tadi dari Pangkalan Bun," jelasnya.
Surabaya - Pengumpulan data korban sebelum meninggal (ante mortem) pesawat AirAsia QZ8501 tujuan Surabaya-Singapura sudah lengkap. Termasuk data milik co pilot Remi Emanuel Plesel asal Prancis.
Hal itu disampaikan Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Awi Setiyono saat jumpa pers bersama Direktur Avsec AirAsia Achmad Sadikin di Crisis Center di Mapolda Jatim, Jalan A Yani, Surabaya, Minggu (4/1/2015) malam.
"Data ante mortem, alhamdulillah sudah lengkap," kata Kombes Pol Awi Setiyono.
Sedangkan data sampel DNA, dari 162 orang, yang sudah terkumpulkan sebanyak 146.
"DNA sampel sudah terkumpulkan 146," jelasnya.
Mantan Kapolres Magetan ini menambahkan, jumlah jenazah yang diterima di Rumah Sakit Bhayangkara sampai malam ini sebanyak 34 jenazah. Dari jumlah tersebut, 9 jenazah sudah diterima serahkan ke maskapai AirAsia dan keluarga sebanyak 5 berjenis kelamin perempuan dan 4 laki-laki.
"9 Jenazah proses pendalaman rekonsiliasi. 12 jenazah tadi pukul 18.00 wib sudah dilakukan pemeriksaan post mortem. dan 4 jenazah pukul 21.00 WIB tadi dari Pangkalan Bun," jelasnya.
Jumat, 02 Januari 2015
Blusukan ke Kantor AirAsia Cengkareng, Menhub Jonan Marah Besar
Feby Dwi Sutianto - detikNews
Jakarta - Hari ini, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan melakukan blusukan ke kantor pusat Indonesia AirAsia di daerah Cengkareng, Tangerang, Banten. Di sana, Jonan sempat marah besar karena AirAsia tidak mematuhi satu prosedur.
"Pak Jonan marah-marah di kantor AirAsia. Marah besar," ungkap Hadi M Djuraid, Staf Khusus Menteri Perhubungan, kepada detikcom, Jumat (2/1/2015).
Selama di kantor AirAsia, lanjut Hadi, Jonan meninjau prosedur yang dilaksanakan sebelum sebuah pesawat diterbangkan. Dari situ diketahui bahwa AirAsia melewatkan satu tahapan.
"Jelang keberangkatan, pilot seharusnya mendapat briefing secara langsung oleh Flight Operation Officer (FOO) khususnya mengenai cuaca. Tapi AirAsia selama ini cuma mengandalkan website BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)," papar Hadi.
Diungkapkan Hadi, hal ini membuat Jonan marah besar. Dia pun meminta AirAsia untuk mematuhi seluruh prosedur, dan bila ada pelanggaran maka pemerintah bisa saja memberi tindakan tegas.
"Kalau ada aturan seperti itu, Anda harus patuhi. Kalau tidak patuh, saya bisa cabut izin Anda," tegas Jonan seperti ditirukan oleh Hadi.
Ke depan, menurut Hadi, pihak AirAsia berjanji untuk mematuhi aturan ini. "Bahkan salah seorang pilot senior di AirAsia mengatakan lebih enak di-briefing langsung secara fisik," ujarnya
Soal cuaca, sebelumnya diketahui ada surat beredar dari Kepala BMKG Andi Eka Sakya kepada Menhub bahwa pihak AirAsia baru mengambil bahan informasi cuaca dari stasiun BMKG Juanda Surabaya setelah ada kejadian hilang kontak pada Minggu (28/12/2014). BMKG Juanda membenarkan informasi yang ada dalam surat itu.
"Iya, betul. Baru diambil pukul 07.00 WIB," jawab Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Bandara Juanda Bambang Setiajid saat dikonfirmasi detikcom, Senin (2/1/2014).
Sementara AirAsia QZ8501 rute Surabaya-Singapura, menurut AirNav Indonesia, sudah tidak merespons panggilan ATC pada pukul 06.14 WIB.
Bambang menjelaskan, setiap hari stasiun BMKG Juanda Surabaya menyiapkan berkas peta cuaca sejak pukul 04.00 WIB dan diperbarui terus setiap 3 jam. Namun Bambang menambahkan bahwa BMKG bukanlah satu-satunya penyedia layanan informasi cuaca bagi maskapai penerbangan dan pilot.
"Perlu diketahui bahwa informasi cuaca itu bukan hanya dari BMKG, bisa dari Singapura, Australia, pada akhirnya kontennya sama. Kita bertukar data juga. Dari sisi itu saya yakin bahwa penerbang tidak mungkin terbang tanpa membawa informasi cuaca," tambahnya.
Jadi, bisa jadi AirAsia tidak mengambil peta cuaca BMKG namun dari provider layanan cuaca lainnya?
"Ya begitu. Karena dia mengambil terlambat, tapi bukan berarti pilot tak memiliki informasi cuaca," jawab Bambang.
Bambang membenarkan bahwa surat yang beredar dari Kepala BMKG ke Menhub itu benar adanya. "Ya itu kan laporan ya. Kronologi. Memang betul," jawab Bambang saat ditanya kebenaran isi surat yang beredar itu.
Jakarta - Hari ini, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan melakukan blusukan ke kantor pusat Indonesia AirAsia di daerah Cengkareng, Tangerang, Banten. Di sana, Jonan sempat marah besar karena AirAsia tidak mematuhi satu prosedur.
"Pak Jonan marah-marah di kantor AirAsia. Marah besar," ungkap Hadi M Djuraid, Staf Khusus Menteri Perhubungan, kepada detikcom, Jumat (2/1/2015).
Selama di kantor AirAsia, lanjut Hadi, Jonan meninjau prosedur yang dilaksanakan sebelum sebuah pesawat diterbangkan. Dari situ diketahui bahwa AirAsia melewatkan satu tahapan.
"Jelang keberangkatan, pilot seharusnya mendapat briefing secara langsung oleh Flight Operation Officer (FOO) khususnya mengenai cuaca. Tapi AirAsia selama ini cuma mengandalkan website BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika)," papar Hadi.
Diungkapkan Hadi, hal ini membuat Jonan marah besar. Dia pun meminta AirAsia untuk mematuhi seluruh prosedur, dan bila ada pelanggaran maka pemerintah bisa saja memberi tindakan tegas.
"Kalau ada aturan seperti itu, Anda harus patuhi. Kalau tidak patuh, saya bisa cabut izin Anda," tegas Jonan seperti ditirukan oleh Hadi.
Ke depan, menurut Hadi, pihak AirAsia berjanji untuk mematuhi aturan ini. "Bahkan salah seorang pilot senior di AirAsia mengatakan lebih enak di-briefing langsung secara fisik," ujarnya
Soal cuaca, sebelumnya diketahui ada surat beredar dari Kepala BMKG Andi Eka Sakya kepada Menhub bahwa pihak AirAsia baru mengambil bahan informasi cuaca dari stasiun BMKG Juanda Surabaya setelah ada kejadian hilang kontak pada Minggu (28/12/2014). BMKG Juanda membenarkan informasi yang ada dalam surat itu.
"Iya, betul. Baru diambil pukul 07.00 WIB," jawab Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Bandara Juanda Bambang Setiajid saat dikonfirmasi detikcom, Senin (2/1/2014).
Sementara AirAsia QZ8501 rute Surabaya-Singapura, menurut AirNav Indonesia, sudah tidak merespons panggilan ATC pada pukul 06.14 WIB.
Bambang menjelaskan, setiap hari stasiun BMKG Juanda Surabaya menyiapkan berkas peta cuaca sejak pukul 04.00 WIB dan diperbarui terus setiap 3 jam. Namun Bambang menambahkan bahwa BMKG bukanlah satu-satunya penyedia layanan informasi cuaca bagi maskapai penerbangan dan pilot.
"Perlu diketahui bahwa informasi cuaca itu bukan hanya dari BMKG, bisa dari Singapura, Australia, pada akhirnya kontennya sama. Kita bertukar data juga. Dari sisi itu saya yakin bahwa penerbang tidak mungkin terbang tanpa membawa informasi cuaca," tambahnya.
Jadi, bisa jadi AirAsia tidak mengambil peta cuaca BMKG namun dari provider layanan cuaca lainnya?
"Ya begitu. Karena dia mengambil terlambat, tapi bukan berarti pilot tak memiliki informasi cuaca," jawab Bambang.
Bambang membenarkan bahwa surat yang beredar dari Kepala BMKG ke Menhub itu benar adanya. "Ya itu kan laporan ya. Kronologi. Memang betul," jawab Bambang saat ditanya kebenaran isi surat yang beredar itu.
Ahok Larang Pejabat DKI Dikawal Voorijder
Ayunda W Savitri - detikNews
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengimbau agar mobil pejabat tidak dikawal oleh voorijder. Ia menyarankan pengawalan itu lebih baik diberikan kepada pemadam kebakaran dan ambulans.
"Tidak boleh pakai kawalan motor karena lawan UU, saya pun nggak pakai. Jadi wali kota nggak boleh, kecuali ada acara apa. Kalau ramai-ramai naik bus bisa," ujar Ahok kepada wartawan di Lapangan Sila Monas, Jakarta Pusat, Jumat (2/1/2015).
"Jadi motor hanya buat kawal pemadam kebakaran dan ambulans, kalau kawal kita sebagai pejabat nggak boleh. Siapapun itu nggak boleh," sambungnya.
Mantan Bupati Belitung Timur itu bahkan mengancam jika ada satuan Dinas Perhubungan yang memberi pengawalan maka ia tak segan-segan mencopot jabatannya. "Kalau ada Dishub berikan kawalan itu saya akan copot Dishub!" tegas Ahok.
Sementara itu Ketua DPRD DKI Prasetyo Edi Marsudi yang juga berdiri di sebelahnya berjanji tidak lagi menggunakan pengawalan voorijder. "Nggak, nggak dengan aturan baru ini nggak pakai. Tadi pas berangkat pakai, entar pulangnya gue nggak deh," kata Pras sambil tertawa.
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengimbau agar mobil pejabat tidak dikawal oleh voorijder. Ia menyarankan pengawalan itu lebih baik diberikan kepada pemadam kebakaran dan ambulans.
"Tidak boleh pakai kawalan motor karena lawan UU, saya pun nggak pakai. Jadi wali kota nggak boleh, kecuali ada acara apa. Kalau ramai-ramai naik bus bisa," ujar Ahok kepada wartawan di Lapangan Sila Monas, Jakarta Pusat, Jumat (2/1/2015).
"Jadi motor hanya buat kawal pemadam kebakaran dan ambulans, kalau kawal kita sebagai pejabat nggak boleh. Siapapun itu nggak boleh," sambungnya.
Mantan Bupati Belitung Timur itu bahkan mengancam jika ada satuan Dinas Perhubungan yang memberi pengawalan maka ia tak segan-segan mencopot jabatannya. "Kalau ada Dishub berikan kawalan itu saya akan copot Dishub!" tegas Ahok.
Sementara itu Ketua DPRD DKI Prasetyo Edi Marsudi yang juga berdiri di sebelahnya berjanji tidak lagi menggunakan pengawalan voorijder. "Nggak, nggak dengan aturan baru ini nggak pakai. Tadi pas berangkat pakai, entar pulangnya gue nggak deh," kata Pras sambil tertawa.
Basarnas Butuh Alat Pendeteksi Metal di Bawah Air
VIVAnews - Badan SAR
Nasional membutuhkan alat pendeteksi logam dalam proses pencarian
penumpang dan badan pesawat AirAsia QZ 8501. Menurut Kepala Basarnas,
Marsekal Madya FHB Soelistyo, alat pendeteksi logam ini akan sangat
membantu menentukan titik lokasi jatuhnya pesawat
"Alat yang utama kita butuhkan adalah, alat yang bisa mendeteksi benda-benda metal di bawah air," kata Soelistyo di kantor Basarnas, Jakarta Pusat, Kamis, 1 Januari 2015.
Soelistyo mengatakan, alat pendeteksi logam ini nantinya akan menuntun tim di lapangan untuk mencari titik lokasi badan pesawat di dasar laut. Dengan begitu, tim SAR dapat menyimpulkan di bagian mana pesawat berada.
"Itu prioritas saya, untuk melakukan penyelaman," ujarnya.
Untuk operasi besok, Soelistyo menjelaskan bahwa timnya mendapat bantuan alat-alat untuk mendeteksi bawah laut dari Singapura. Alat tersebut sudah dipasang di kapal Singapura.
Di samping itu, kapal canggih milik BPPT, Baruna Jaya, juga sudah berada di lokasi pencarian, begitu juga Kapal Geo Survey ikut dikerahkan. Kapal Geo Survey merupakan bantuan dari Asosiasi Kontraktor Survey Laut Indonesia, rencananya akan tiba di lokasi pencarian pukul 2 dini hari.
"Kita akan menggunakan alat deteksi bawah air di Kapal Baruna Jaya, Geo Survey ditambah kemampuan sonar di Kapal KRI, maupun Kapal Amerika," terang dia. (one)
"Alat yang utama kita butuhkan adalah, alat yang bisa mendeteksi benda-benda metal di bawah air," kata Soelistyo di kantor Basarnas, Jakarta Pusat, Kamis, 1 Januari 2015.
Soelistyo mengatakan, alat pendeteksi logam ini nantinya akan menuntun tim di lapangan untuk mencari titik lokasi badan pesawat di dasar laut. Dengan begitu, tim SAR dapat menyimpulkan di bagian mana pesawat berada.
"Itu prioritas saya, untuk melakukan penyelaman," ujarnya.
Untuk operasi besok, Soelistyo menjelaskan bahwa timnya mendapat bantuan alat-alat untuk mendeteksi bawah laut dari Singapura. Alat tersebut sudah dipasang di kapal Singapura.
Di samping itu, kapal canggih milik BPPT, Baruna Jaya, juga sudah berada di lokasi pencarian, begitu juga Kapal Geo Survey ikut dikerahkan. Kapal Geo Survey merupakan bantuan dari Asosiasi Kontraktor Survey Laut Indonesia, rencananya akan tiba di lokasi pencarian pukul 2 dini hari.
"Kita akan menggunakan alat deteksi bawah air di Kapal Baruna Jaya, Geo Survey ditambah kemampuan sonar di Kapal KRI, maupun Kapal Amerika," terang dia. (one)
Perbandingan Fakta Kecelakaan Air Asia QZ8501 dan Adam Air KI574
Nograhany Widhi K - detikNews
tahun lalu, saat euforia pergantian tahun baru belum berlalu, Indonesia dikejutkan kabar pesawat AdamAir KI574 jatuh di perairan Majene, Sulawesi Barat. Menjelang pergantian tahun ke 2015, Indonesia dikejutkan lagi, AirAsia QZ8501 hilang. Ini perbandingan fakta kedua kecelakaan pesawat itu.
WAKTU HILANG
Adam Air: 1 Januari 2007 pukul 14.07 WIB
AirAsia: 28 Desember 2014 pukul 06.14 WIB
JENIS PESAWAT
Adam Air: Boeing 737-400
AirAsia: Airbus 320-200
KETINGGIAN TERBANG SAAT HILANG
Adam Air: 35 ribu kaki
AirAsia: 32 ribu kaki
KEDALAMAN LAUT LOKASI KECELAKAAN
Adam Air: 2000 meter di Laut Majene Sulbar
AirAsia: 30 meter di Laut Jawa
SERPIHAN PERTAMA DITEMUKAN
Adam Air: 12 hari setelah hilang, 13 Januari 2007. Saat itu ditemukannya bagian sayap belakang pesawat naas itu di perairan Bojodua, Mallusetasi, Pare-pare, Sulawesi oleh Bakrie (45), nelayan setempat.
Selain itu, fiber pembungkus jok, tiga kursi, baterai pelontar dan sebuah pelampung ditemukan Tim SAR di perairan lepas pantai di Kecamatan Palanro, Kabupaten Barru sekitar 30 menit perjalanan darat dari Kota Pare-pare.
AirAsia: 2 hari setelah hilang, 30 Desember 2014. Tim Basarnas dan TNI AU berhasil mendeteksi sejumlah serpihan dan jasad penumpang pesawat AirAsia QZ8501 di Laut Jawa sebelah selatan Kalimantan, di dekat Selat Karimata.
SAKSI PERTAMAAdam Air: nelayan yang saat itu melaut di perairan Majene mendengar ledakan keras.
"Nelayan yang sedang melaut di perairan Majene mendengar ledakan sangat keras," ujar Kepala Penerangan Lanud Hasanuddin Makassar Kapten TNI Mulyadi di Lanud Hasanuddin, Selasa (2/1/2007).
Menurut Mulyadi, nelayan itu melapor ke kepolisian setempat. Polisi lalu menghubungi Lanud Hasanuddin. Lanud Hasanuddin memberangkatkan pesawat Boeing 737-200 pada pukul 07.30 Wita. Pesawat berawak 12 kru ini akan mencari lokasi Adam Air di dua lokasi di Majene, Sulawesi Barat, dan Rantepao, Toraja, Sulawesi Selatan.
AirAsia: nelayan yang melaut dekat Pulau Senggaro ,Nelayan Rahmat (44) yang berangkat di hari Minggu (28/12) pagi dan pulang Senin (29/12) siang, mendengar adanya dentuman keras saat berangkat melaut.
"Saya duga kalau dentuman yang saya dengar kemarin harinya itu adalah pesawat yang sedang dicari. Saya langsung ke rumah Pak Lurah Desa Kubu untuk ceritakan itu," tutur Rahmat saat berbagi cerita di Pelabuhan Panglima Utar, Kumai, Kalimantan Tengah, Rabu (31/12/2014).
Lurah desa tempat Rahmat tinggal itu langsung menyebarkan informasi dari pria nelayan warganya itu. Rahmat pun segera diminta datang ke posko utama evakuasi AirAsia QZ8501 di Lanud Iskandar Pangkalan Bun.
Nelayan Hartono (36) juga nelayan dan melihat detik-detik AirAsia QZ8501 menghilang. Sama seperti Rahmat, Hartono melaut di hari Minggu (28/12) kelabu itu. Saat itu cuaca sangat buruk menurut penuturan Hartono yang melaut di Tanjung Pandan. "Ombak sangat tinggi. Saya tidak berani terus melaut dan memilih ke pulau. Waktu lihat matahari baru terbit, saya lihat ada pesawat terbang rendah. Jadi kelihatan besar sekali ke arah Tanjung Puting," ungkap Hartono pada sebuah dermaga di Pelabuhan Panglima Utar, Kumai, Kalimantan Tengah, Rabu (31/12/2014).Tak heran jika hanya pesawat terbang saja, bagi Hartono di wilayah ini sudah banyak pesawat melintas. Meski kali itu dia melihat pesawat yang terbang lebih rendah. "Agak lama saya lihat, itu kok agak miring ke kiri pesawatnya. Habis itu dia belok ke kiri malah ke arah laut," imbuh dia.
BANGKAI PESAWAT TERDETEKSI
Adam Air: 8 Januari 2007 oleh KRI Fatahillah yang dilengkapi sonar mendeteksi benda logam di perairan Mamuju, Sulbar, di kedalaman 1.500 meter.
24 Januari 2007 USNS Mary Sears juga mendeteksi logam besar yang diduga bangkai Adam Air di perairan Majene dengan kedalaman 1.800-2.000 di bawah permukaan laut.
Saat itu dikaji mengangkat benda logam diduga badan pesawat Adam Air. Namun menurut Ketua KNKT saat itu Setio Rahardjo, dibutuhkan alat canggih dan biaya besar untuk mengangkatnya, minimal dibutuhkan dana 1,1 juta dolar AS atau setara Rp 9,9 miliar. Padahal saat itu untuk operasi SAR saja pemerintah mengeluarkan sekitar Rp 1,7 miliar-Rp 1,8 miliar per hari yang diambil dari APBN.
"Kita tergantung dengan negara lain, katakanlah AS. Itu biayanya untuk mendatangkan alatnya saja 1 juta dolar AS, belum lagi sewa per harinya 100 ribu dolar AS," kata Setio pada Januari 2007 lalu.
Setio mendapatkan gambaran biaya yang harus dikeluarkan pemerintah setelah berbicara dengan NTSB, KNKT-nya Amerika. Bila ada pengangkatan bawah laut harus ada alat crane dan ROV alias remote operator vehicle.
AirAsia: Selasa 30 Desember 2014, Komandan Gugus Keamanan Laut Barat (Danguskamlabar) yang bertugas sebagai Komandan SAR Laut, Laksma Abdul Rasyid di atas KRI Banda Aceh kepada wartawan, Rabu (31/12/2014). Pada Selasa (30/12) pukul 20.35 WIB, KRI Bung Tomo menemukan kontak sonar.
"Diduga bangkai kapal AirAsia, di lokasi dekat dengan penemuan mayat," jelas Abdul Rasyid.
BLACK BOX DIANGKAT
Adam Air: Flight Data Recorder (FDR) berhasil diangkat pukul 12.29 WIB tanggal 27 Agustus 2007 di kedalaman 2.000 meter. Sedangkan Cockpit Voice Recorder (CVR) ditemukan pukul 10.00 WIB tanggal 28 Agustus di kedalaman 1.900 meter. Jarak antara FDR dengan CVR di bawah laut sekitar 1.400 meter atau mengalami pergeseran 21 meter. Menurut Menhub saat itu, Jusman Syafii Djamal, biaya untuk pengangkatan kotak hitam ini diperkirakan 3 juta dolar AS atau Rp 28,2 miliar. Biaya tersebut dikeluarkan untuk mendatangkan kapal khusus berbendera Cyprus dan robot ROV dari Phoenix, AS, yang bisa dioperasikan di bawah laut. AirAsia: masih dicari
JUMLAH JASAD DITEMUKAN
Adam Air: nihil. Jumlah penumpang terdiri dari 96 orang yang terdiri dari 85 orang dewasa, 7 anak-anak, 5 balita, 4 awak kabin serta pilot dan kopilotnya tak ada yang ditemukan alias nihil.
AirAsia: hingga artikel ini diturunkan, Basarnas mengkonfirmasikan 9 jasad ditemukan dari total penumpang 162 orang terdiri dari 137 orang dewasa, 17 anak-anak, 1 balita dan 7 kru kabin serta pilot-kopilot.
LAPORAN KECELAKAAN KNKT
Adam Air: dirilis 25 Maret 2008 atau 1 tahun 2 bulan sejak tanggal kecelakaan.
Saat terbang di ketinggian 35 ribu kaki, posisi autopilot adalah on. Untuk mempertahankan sayap pesawat tidak miring, autopilot menahan posisi stir kemudi aileron(kemudi guling) 5 derajat ke kiri.
Namun pilot melihat posisi IRS di kiri dan kanan tidak sama, alias menyimpang. Lalu kru memutuskan memindahkan IRS kanan dari posisi NAV (navigation) ke posisi ATT (attitude). Hal semacam ini biasa dilakukan saat di darat. Tetapi autopilot malah jadi off atau disengaged. Pesawat pun perlahan miring ke kanan. Tet... Tet... Tet... Terdengar alarm peringatan autopilot mati di ruang kokpit. Tapi tak lama bunyi itu menghilang, diduga tidak sengaja dimatikan oleh pilot dan kopilotnya. Perhatian mereka berdua terfokus untuk mengoreksi IRS. "Karena autopilot mati, seharusnya dikemudikan secara manual oleh pilot. Namun mereka tidak sadar kalau autopilot mati. Jadi pesawat terbang tanpa kendali," kata investigator KNKT Mardjono Siswosuwarno dalam jumpa pers 25 Maret 2008 lalu.
"Bila IRS bermasalah, pesawat masih bisa terbang. Apabila alat ini bermasalah, maka sebaiknya tidak usah diotak-atik dan menghubungi tower bandara," imbuh Mardjono. Tiba-tiba terdengar "bank angle" sebanyak 3 kali, yang merupakan peringatan bahwa pesawat telah miring ke kanan melewati 35 derajat. Ketika bank angle 100 derajat dengan pitch attitude mendekati 60 derajat nose down, pilot tidak berusaha memiringkan pesawat ke sisi sebaliknya untuk menyeimbangkan. Tidak terdapat tanda-tanda kedua pilot dapat mengendalikan pesawat secara tepat dan seksama sesudah peringatan bank angle berbunyi. KNKT menyebut, kecelakaan terjadi sebagai kombinasi beberapa faktor termasuk kegagalan kedua pilot dalam intensitas memonitor instrumen penerbangan, khususnya dalam 2 menit terakhir penerbangan. Burung besi itu pun meluncur ke bawah dengan kecepatan 330 meter per detik atau sekitar 1.050 km per jam. Saat itu, pilot baru berusaha memegang kendali pesawat secara manual. Mereka belum menyadari kemiringan pesawat lantaran kemiringan terjadi sangat perlahan, yakni 1 derajat per detik. Kepanikan pun menyergap kedua pilot itu ketika menyadari pesawat miring. "Jangan dimiringin, jangan dimiringan," teriakan terdengar dari ruang kokpit. Keduanya sempat membuka quick reference hand book yang tersedia pada chapter 11. Sayangnya mereka hanya membaca judul tanpa melakukan prosedur yang tertera dalam buku tersebut. Upaya mengendalikan pesawat terlambat dilakukan. Bahkan salah satu bagian pesawat patah. Burung besi itu pun menghunjam ke perairan Majene dengan kecepatan sangat tinggi. Di dalam air, pesawat itu pecah. Karena berat jenisnya lebih besar daripada berat jenis air, serpihan pesawat banyak yang tidak mengambang.
AirAsia: masih dalam investigasi KNKT
tahun lalu, saat euforia pergantian tahun baru belum berlalu, Indonesia dikejutkan kabar pesawat AdamAir KI574 jatuh di perairan Majene, Sulawesi Barat. Menjelang pergantian tahun ke 2015, Indonesia dikejutkan lagi, AirAsia QZ8501 hilang. Ini perbandingan fakta kedua kecelakaan pesawat itu.
WAKTU HILANG
Adam Air: 1 Januari 2007 pukul 14.07 WIB
AirAsia: 28 Desember 2014 pukul 06.14 WIB
JENIS PESAWAT
Adam Air: Boeing 737-400
AirAsia: Airbus 320-200
KETINGGIAN TERBANG SAAT HILANG
Adam Air: 35 ribu kaki
AirAsia: 32 ribu kaki
KEDALAMAN LAUT LOKASI KECELAKAAN
Adam Air: 2000 meter di Laut Majene Sulbar
AirAsia: 30 meter di Laut Jawa
SERPIHAN PERTAMA DITEMUKAN
Adam Air: 12 hari setelah hilang, 13 Januari 2007. Saat itu ditemukannya bagian sayap belakang pesawat naas itu di perairan Bojodua, Mallusetasi, Pare-pare, Sulawesi oleh Bakrie (45), nelayan setempat.
Selain itu, fiber pembungkus jok, tiga kursi, baterai pelontar dan sebuah pelampung ditemukan Tim SAR di perairan lepas pantai di Kecamatan Palanro, Kabupaten Barru sekitar 30 menit perjalanan darat dari Kota Pare-pare.
AirAsia: 2 hari setelah hilang, 30 Desember 2014. Tim Basarnas dan TNI AU berhasil mendeteksi sejumlah serpihan dan jasad penumpang pesawat AirAsia QZ8501 di Laut Jawa sebelah selatan Kalimantan, di dekat Selat Karimata.
SAKSI PERTAMAAdam Air: nelayan yang saat itu melaut di perairan Majene mendengar ledakan keras.
"Nelayan yang sedang melaut di perairan Majene mendengar ledakan sangat keras," ujar Kepala Penerangan Lanud Hasanuddin Makassar Kapten TNI Mulyadi di Lanud Hasanuddin, Selasa (2/1/2007).
Menurut Mulyadi, nelayan itu melapor ke kepolisian setempat. Polisi lalu menghubungi Lanud Hasanuddin. Lanud Hasanuddin memberangkatkan pesawat Boeing 737-200 pada pukul 07.30 Wita. Pesawat berawak 12 kru ini akan mencari lokasi Adam Air di dua lokasi di Majene, Sulawesi Barat, dan Rantepao, Toraja, Sulawesi Selatan.
AirAsia: nelayan yang melaut dekat Pulau Senggaro ,Nelayan Rahmat (44) yang berangkat di hari Minggu (28/12) pagi dan pulang Senin (29/12) siang, mendengar adanya dentuman keras saat berangkat melaut.
"Saya duga kalau dentuman yang saya dengar kemarin harinya itu adalah pesawat yang sedang dicari. Saya langsung ke rumah Pak Lurah Desa Kubu untuk ceritakan itu," tutur Rahmat saat berbagi cerita di Pelabuhan Panglima Utar, Kumai, Kalimantan Tengah, Rabu (31/12/2014).
Lurah desa tempat Rahmat tinggal itu langsung menyebarkan informasi dari pria nelayan warganya itu. Rahmat pun segera diminta datang ke posko utama evakuasi AirAsia QZ8501 di Lanud Iskandar Pangkalan Bun.
Nelayan Hartono (36) juga nelayan dan melihat detik-detik AirAsia QZ8501 menghilang. Sama seperti Rahmat, Hartono melaut di hari Minggu (28/12) kelabu itu. Saat itu cuaca sangat buruk menurut penuturan Hartono yang melaut di Tanjung Pandan. "Ombak sangat tinggi. Saya tidak berani terus melaut dan memilih ke pulau. Waktu lihat matahari baru terbit, saya lihat ada pesawat terbang rendah. Jadi kelihatan besar sekali ke arah Tanjung Puting," ungkap Hartono pada sebuah dermaga di Pelabuhan Panglima Utar, Kumai, Kalimantan Tengah, Rabu (31/12/2014).Tak heran jika hanya pesawat terbang saja, bagi Hartono di wilayah ini sudah banyak pesawat melintas. Meski kali itu dia melihat pesawat yang terbang lebih rendah. "Agak lama saya lihat, itu kok agak miring ke kiri pesawatnya. Habis itu dia belok ke kiri malah ke arah laut," imbuh dia.
BANGKAI PESAWAT TERDETEKSI
Adam Air: 8 Januari 2007 oleh KRI Fatahillah yang dilengkapi sonar mendeteksi benda logam di perairan Mamuju, Sulbar, di kedalaman 1.500 meter.
24 Januari 2007 USNS Mary Sears juga mendeteksi logam besar yang diduga bangkai Adam Air di perairan Majene dengan kedalaman 1.800-2.000 di bawah permukaan laut.
Saat itu dikaji mengangkat benda logam diduga badan pesawat Adam Air. Namun menurut Ketua KNKT saat itu Setio Rahardjo, dibutuhkan alat canggih dan biaya besar untuk mengangkatnya, minimal dibutuhkan dana 1,1 juta dolar AS atau setara Rp 9,9 miliar. Padahal saat itu untuk operasi SAR saja pemerintah mengeluarkan sekitar Rp 1,7 miliar-Rp 1,8 miliar per hari yang diambil dari APBN.
"Kita tergantung dengan negara lain, katakanlah AS. Itu biayanya untuk mendatangkan alatnya saja 1 juta dolar AS, belum lagi sewa per harinya 100 ribu dolar AS," kata Setio pada Januari 2007 lalu.
Setio mendapatkan gambaran biaya yang harus dikeluarkan pemerintah setelah berbicara dengan NTSB, KNKT-nya Amerika. Bila ada pengangkatan bawah laut harus ada alat crane dan ROV alias remote operator vehicle.
AirAsia: Selasa 30 Desember 2014, Komandan Gugus Keamanan Laut Barat (Danguskamlabar) yang bertugas sebagai Komandan SAR Laut, Laksma Abdul Rasyid di atas KRI Banda Aceh kepada wartawan, Rabu (31/12/2014). Pada Selasa (30/12) pukul 20.35 WIB, KRI Bung Tomo menemukan kontak sonar.
"Diduga bangkai kapal AirAsia, di lokasi dekat dengan penemuan mayat," jelas Abdul Rasyid.
BLACK BOX DIANGKAT
Adam Air: Flight Data Recorder (FDR) berhasil diangkat pukul 12.29 WIB tanggal 27 Agustus 2007 di kedalaman 2.000 meter. Sedangkan Cockpit Voice Recorder (CVR) ditemukan pukul 10.00 WIB tanggal 28 Agustus di kedalaman 1.900 meter. Jarak antara FDR dengan CVR di bawah laut sekitar 1.400 meter atau mengalami pergeseran 21 meter. Menurut Menhub saat itu, Jusman Syafii Djamal, biaya untuk pengangkatan kotak hitam ini diperkirakan 3 juta dolar AS atau Rp 28,2 miliar. Biaya tersebut dikeluarkan untuk mendatangkan kapal khusus berbendera Cyprus dan robot ROV dari Phoenix, AS, yang bisa dioperasikan di bawah laut. AirAsia: masih dicari
JUMLAH JASAD DITEMUKAN
Adam Air: nihil. Jumlah penumpang terdiri dari 96 orang yang terdiri dari 85 orang dewasa, 7 anak-anak, 5 balita, 4 awak kabin serta pilot dan kopilotnya tak ada yang ditemukan alias nihil.
AirAsia: hingga artikel ini diturunkan, Basarnas mengkonfirmasikan 9 jasad ditemukan dari total penumpang 162 orang terdiri dari 137 orang dewasa, 17 anak-anak, 1 balita dan 7 kru kabin serta pilot-kopilot.
LAPORAN KECELAKAAN KNKT
Adam Air: dirilis 25 Maret 2008 atau 1 tahun 2 bulan sejak tanggal kecelakaan.
Saat terbang di ketinggian 35 ribu kaki, posisi autopilot adalah on. Untuk mempertahankan sayap pesawat tidak miring, autopilot menahan posisi stir kemudi aileron(kemudi guling) 5 derajat ke kiri.
Namun pilot melihat posisi IRS di kiri dan kanan tidak sama, alias menyimpang. Lalu kru memutuskan memindahkan IRS kanan dari posisi NAV (navigation) ke posisi ATT (attitude). Hal semacam ini biasa dilakukan saat di darat. Tetapi autopilot malah jadi off atau disengaged. Pesawat pun perlahan miring ke kanan. Tet... Tet... Tet... Terdengar alarm peringatan autopilot mati di ruang kokpit. Tapi tak lama bunyi itu menghilang, diduga tidak sengaja dimatikan oleh pilot dan kopilotnya. Perhatian mereka berdua terfokus untuk mengoreksi IRS. "Karena autopilot mati, seharusnya dikemudikan secara manual oleh pilot. Namun mereka tidak sadar kalau autopilot mati. Jadi pesawat terbang tanpa kendali," kata investigator KNKT Mardjono Siswosuwarno dalam jumpa pers 25 Maret 2008 lalu.
"Bila IRS bermasalah, pesawat masih bisa terbang. Apabila alat ini bermasalah, maka sebaiknya tidak usah diotak-atik dan menghubungi tower bandara," imbuh Mardjono. Tiba-tiba terdengar "bank angle" sebanyak 3 kali, yang merupakan peringatan bahwa pesawat telah miring ke kanan melewati 35 derajat. Ketika bank angle 100 derajat dengan pitch attitude mendekati 60 derajat nose down, pilot tidak berusaha memiringkan pesawat ke sisi sebaliknya untuk menyeimbangkan. Tidak terdapat tanda-tanda kedua pilot dapat mengendalikan pesawat secara tepat dan seksama sesudah peringatan bank angle berbunyi. KNKT menyebut, kecelakaan terjadi sebagai kombinasi beberapa faktor termasuk kegagalan kedua pilot dalam intensitas memonitor instrumen penerbangan, khususnya dalam 2 menit terakhir penerbangan. Burung besi itu pun meluncur ke bawah dengan kecepatan 330 meter per detik atau sekitar 1.050 km per jam. Saat itu, pilot baru berusaha memegang kendali pesawat secara manual. Mereka belum menyadari kemiringan pesawat lantaran kemiringan terjadi sangat perlahan, yakni 1 derajat per detik. Kepanikan pun menyergap kedua pilot itu ketika menyadari pesawat miring. "Jangan dimiringin, jangan dimiringan," teriakan terdengar dari ruang kokpit. Keduanya sempat membuka quick reference hand book yang tersedia pada chapter 11. Sayangnya mereka hanya membaca judul tanpa melakukan prosedur yang tertera dalam buku tersebut. Upaya mengendalikan pesawat terlambat dilakukan. Bahkan salah satu bagian pesawat patah. Burung besi itu pun menghunjam ke perairan Majene dengan kecepatan sangat tinggi. Di dalam air, pesawat itu pecah. Karena berat jenisnya lebih besar daripada berat jenis air, serpihan pesawat banyak yang tidak mengambang.
AirAsia: masih dalam investigasi KNKT
Ini Dua Analisis Penyebab Jatuhnya AirAsia QZ8501
JAKARTA -
Sejumlah Analis Penerbangan dalam dan luar negeri sepakat, jatuhnya
Airbus 320-200 AirAsia QZ8501 di perairan Pangkalan Bun, Kalimantan
Tengah pada Minggu (28/12) memang karena cuaca super ekstrem dan aneh.
Tak ada yang bisa dilakukan pilot untuk menyelamatkan 162 orang di
dalamnya...
Analis menggambarkan, AirAsia QZ8501
jatuh dengan turun secara vertikal seolah-olah didorong oleh tangan
raksasa. "Airbus 320-200 itu naik dengan cara yang tidak mungkin dicapai
oleh pilot, kemudian tidak jatuh dari langit seperti pesawat terbang,"
kata analis penerbangan Indonesia, Gerry Soejatman kepada Fairfax Media,
dan dilansir oleh The Sydney Morning Herald, Kamis (1/1).
Gerry menjelaskan, pesawat yang sedang
dalam perjalanan Surabaya-Singapura itu terjebak dalam cengkeraman cuaca
yang tak bisa dibayangkan secara umum. "Seperti sepotong logam yang
dilemparkan ke bawah. Ini sangat sulit untuk dipahami, berbatasan di
tepi logika," ujarnya.
Setelah merangkum bocoran angka
kecepatan dan ketinggian AirAsia QZ8501, Gerry mengatakan bahwa pesawat
itu dilengkapi dengan radar mode S, peralatan relatif baru yang bisa
mengirimkan informasi yang lebih komprehensif, secara real time, dari
pesawat ke darat.
Angka bocoran menunjukkan pesawat naik
pada tingkat hampir belum pernah terjadi sebelumnya dari 6000-9000ft per
menit. "Dan Anda tidak bisa melakukannya di ketinggian itu bersama
Airbus 320 dengan tindakan pilot. Yang paling bisa biasanya diharapkan
akan 1000-1500 kaki secara berkelanjutan, dengan sampai 3000 meter di
burst," katanya.
Pesawat kemudian jatuh pada tingkat yang
lebih luar biasa: 11.000 kaki per menit dengan lonjakan hingga 24.000
kaki per menit. Gerry membandingkan, Air France A330 Airbus yang jatuh
pada tahun 2009 menewaskan 228 penumpang juga mencapai tingkat pendakian
dan keturunan memusingkan.
"Kita tidak bisa mengesampingkan bahwa
data yang salah, namun data ini berasal dari pesawat itu sendiri,
dikirim melalui radar mode S. Ini misterius," ujarnya.
Sementara ahli penerbangan Australia,
Peter Marosszeky, mengatakan tingkat naik dari 6000 kaki per menit akan
menunjukkan peristiwa memang terjadi dalam cuaca buruk. "Tingkat
pendakian adalah domain untuk jet tempur. Namun itu mungkin karena
daerah tropis," katanya.
Dalam kasus Air France, penyelidikan
mengungkap bahwa kesalahan pilot telah diperparah kondisi cuaca yang
sulit sehingga terjadi kecelakaan.
Dalam kasus AirAsia, Kapten Iriyanto,
pilot, adalah mantan pilot Angkatan Udara pilot dan dihormati dengan
pengalaman 23.000 jam terbang pengalaman, Pesawatnya berusia enam tahun
dan terakhir telah melalui perawatan rutin di bulan November.
"Jadi salah satu kemungkinan (penyebab)
adalah updraft yang sangat kuat, diikuti oleh ground draft yang kuat,
atau kegagalan struktural dari pesawat," pungkas Marosszeky. (adk/jpnn)
Kamis, 01 Januari 2015
Ini Penampakan Bagian-bagian Black Box dan Cara Membacanya
Sukma Indah Permana - detikNews

Jakarta - Serpihan-serpihan AirAsia QZ8501 sudah ditemukan. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kini menunggu tim SAR menemukan kotak hitam. Dalam kotak hitam yang berwarna oranye itu, semua informasi penyebab QZ8501 jatuh ke laut bisa dikuak. Seperti ini penampakan bagian-bagian kotak hitam dan membacanya.
Gambar di atas adalah model Black Box saat dipertunjukkan di kantor KNKT pada tahun 2007 lalu. 2 Jenis black box itu adalah Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR).
Keduanya terdiri dari tiga bagian:
1. Kotak yang menghubungkan black box dengan instrumen yang akan direkam.
2. Kotak tempat alat untuk merekam berada seperti kaset, CD, atau chip.
3. Sedangkan yang bundar adalah Underwater Locator Beacon (ULB) yang bisa dilacak sinyalnya apabila pesawat jatuh ke dalam air.
Dalam model black box seperti gambar di atas, CVR berukuran 30 x 12,5 cm. Alat ini untuk merekam percakapan pilot, kopilot, pilot dengan ATC, serta para awak pesawat. Sedangkan yang satunya bernama Flight Data Recorder (FDR) berukuran lebih panjang, 49 x 12,5 cm. Alat ini merekam data-data teknis pesawat seperti ketinggian, kecepatan, putaran mesin, radar, auto pilot dan lain-lain. Ada 5 sampai 300 parameter data penerbangan yang direkam dalam black box ini.
Durasi perekaman untuk CVR adalah 30 menit. Maksudnya setiap 30 menit data percakapan akan terhapus dan diganti dengan yang baru secara otomatis. Sedangkan FDR mempunyai durasi rekaman hingga 25-30 jam. Artinya setelah 25-30 jam, data akan terhapus dengan sendirinya. CVR dan FDR ini akan hidup secara otomatis apabila mesin pesawat dihidupkan.
Saat detikcom berkunjung ke laboratorium KNKT pada tahun 2012 lalu di Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, analis black box KNKT Nugroho Budi menjelaskan CVR memiliki 4 saluran.
Saluran 1 terhubung dengan pengeras suara yang biasa digunakan pramugari kepada penumpang.
Saluran 2 dari kokpit
Saluran 3 dari pilot yang terhubung dengan air traffic controller (ATC)
Saluran 4 merekam seputar kokpit (misalnya mesin yang berisik atau hujan).
Singkatnya CVR adalah perekam yang dihubungkan dengan sistem audio.
"CVR dan FDR diletakkan di bagian pesawat yang paling aman yaitu di ekor pesawat. Di ekor karena kalau ada apa-apa dia tidak frontal. Sudah ada studi bahwa area yang paling aman adalah bagian ekor pesawat," terang Budi.
Nah, jika black box ini jatuh ke laut, karena ada ULB maka posisinya bisa terdeteksi. ULB ini merupakan transmitter yang akan memancarkan gelombang akustik untuk memudahkan pendeteksian.
Black box sengaja didesain untuk tahan air, tahan benturan, dan tahan panas. Benda ini bisa tahan air sampai dengan 2 bulan. "Tahan panas bisa sampai 1.000 derajat, tapi dalam waktu terbatas, tidak terus menerus seribu derajat. Kalau black box rusak itu artinya rusak luarnya. Memorinya tidak," terang Budi.
Black box yang kondisinya rusak ditemui pada kondisi black box Sukhoi Superjet 100 yang ditemukan di Gunung Salak yang ditemukan Kopassus di ketinggian 100 meter. Black box itu ditemukan pada bagian ekor pesawat, dalam keadaan berwarna hitam gosong karena terbakar. Namun seperti keterangan Budi, memori atau alat perekam dalam kotak hitam itu aman.
Kenapa berwarna oranye? Warna itu sudah merupakan standar yang telah ditetapkan International Civil Aviation Organization (ICAO/Organisasi Penerbangan Sipil Internasional). Selain itu, warna oranye ngejreng dimaksudkan agar mencolok mata untuk memudahkan pencarian bila pesawat mengalami insiden atau kecelakaan di medan atau lokasi sulit.
"Black box adalah sesuatu yang hitam, diartikan sesuatu yang mengandung misteri. Kenapa warnanya oranye? Karena itu yang paling mencolok di mata. Warnanya tidak kamuflase," kata Budi yang ditemui detikcom pada Selasa (15/5/2012) lalu
Bagaimana Membaca Black Box?
Tidak sembarang orang bisa mengakses data black box. Bahkan pilot pun tidak boleh mengaksesnya. Demikian halnya dengan orang KNKT pun tidak boleh asal.
Data yang diperoleh dari rekaman atau memori black box lantas ditampilkan dalam bentuk grafik maupun transkrip apabila data tersebut berupa percakapan. Kemudian data bisa divisualkan dengan animasi melalui software, yang seperti Insight View. Dengan demikian bisa diperkirakan posisi pesawat terakhir sebelum kecelakaan.
"Kalau download datanya paling satu jam. Tapi yang lama adalah analisisnya. Tidak bisa dipatok karena harus seteliti mungkin. Tergantung kerumitan pesawat juga, kan pesawat juga macam-macam. Ada yang sederhana, ada yang modern. Kalau makin modern akan lebih banyak parameter yang direkam dan harus dibaca. Tapi ada standar pada dasarnya," tutur Budi.
Membaca kotak hitam ini, bukan tanpa kesulitan. Jenis pesawat yang berbeda-beda memiliki konfigurasi kotak hitam yang berbeda-beda pula.
"Kesulitannya, karena pesawat itu beda-beda. Dari Boeing, Airbus, beda konfigurasi. Misal kita analisa punya Boeing, ya kita harus pakai software dan database Boeing. Jadi kita harus kontak pabrikan Boeing," imbuhnya.
Laboratorium KNKT sendiri sudah diresmikan pada 17 Agustus 2009 lalu, bertepatan dengan HUT RI yang ke-64. Saat itu KNKT masih di bawah Kemenhub yang dipimpin Jusman Syafii Djamal. Dalam laboratorium ada dua alat baca yang sesuai dengan jenis black box yang terdiri dari pembaca flight data recorder (FDR) dan pembaca cockpit voice recorder (CVR).
"Alat ini ada yang beli sendiri dari Kanada dan ada yang bantuan dan hasil kerjasama dengan Jepang," jelas Nugroho Budi, investigator dan analis kotak hitam di KNKT kepada detikcom.
Berdasarkan data detikcom, pembaca FDR didatangkan dari Kanada, sedangkan CVR dibeli di Australia. Pengadaan alat software itu memakan dana sebesar US$ 250 ribu. Sementara hardware-nya berasal dari hibah negara Jepang seharga US$ 300.000.
"Laboratorium ini kurang lebih sudah membaca sekitar 20-an black box yang kita analisa. Baik cockpit voice recorder maupun flight data recorder. Baik yang sudah rusak ataupun yang masih bagus kondisinya," papar Budi pada 2012 lalu.
Untuk peningkatan kapasitas operatornya, imbuh Budi, Australia menjadi tempat pendidikannya.
Sedangkan untuk pesawat AirAsia QZ8501, Ketua Investigator Prof Dr Mardjono Siswosuwarno mengatakan black box AirAsia akan dibaca di laboratorium black box KNKT Indonesia. Menurut dia data yang terekam di CVR bisa diumumkan ke publik dalam waktu 3 bulan setelah ditemukan.
"Kita kan sudah punya alatnya, jadi tidak harus dibawa ke Prancis," kata Mardjono ketika berbincang dengan detikcom, Rabu (31/12/2014) malam.

Jakarta - Serpihan-serpihan AirAsia QZ8501 sudah ditemukan. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) kini menunggu tim SAR menemukan kotak hitam. Dalam kotak hitam yang berwarna oranye itu, semua informasi penyebab QZ8501 jatuh ke laut bisa dikuak. Seperti ini penampakan bagian-bagian kotak hitam dan membacanya.
Gambar di atas adalah model Black Box saat dipertunjukkan di kantor KNKT pada tahun 2007 lalu. 2 Jenis black box itu adalah Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR).
Keduanya terdiri dari tiga bagian:
1. Kotak yang menghubungkan black box dengan instrumen yang akan direkam.
2. Kotak tempat alat untuk merekam berada seperti kaset, CD, atau chip.
3. Sedangkan yang bundar adalah Underwater Locator Beacon (ULB) yang bisa dilacak sinyalnya apabila pesawat jatuh ke dalam air.
Dalam model black box seperti gambar di atas, CVR berukuran 30 x 12,5 cm. Alat ini untuk merekam percakapan pilot, kopilot, pilot dengan ATC, serta para awak pesawat. Sedangkan yang satunya bernama Flight Data Recorder (FDR) berukuran lebih panjang, 49 x 12,5 cm. Alat ini merekam data-data teknis pesawat seperti ketinggian, kecepatan, putaran mesin, radar, auto pilot dan lain-lain. Ada 5 sampai 300 parameter data penerbangan yang direkam dalam black box ini.
Durasi perekaman untuk CVR adalah 30 menit. Maksudnya setiap 30 menit data percakapan akan terhapus dan diganti dengan yang baru secara otomatis. Sedangkan FDR mempunyai durasi rekaman hingga 25-30 jam. Artinya setelah 25-30 jam, data akan terhapus dengan sendirinya. CVR dan FDR ini akan hidup secara otomatis apabila mesin pesawat dihidupkan.
Saat detikcom berkunjung ke laboratorium KNKT pada tahun 2012 lalu di Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, analis black box KNKT Nugroho Budi menjelaskan CVR memiliki 4 saluran.
Saluran 1 terhubung dengan pengeras suara yang biasa digunakan pramugari kepada penumpang.
Saluran 2 dari kokpit
Saluran 3 dari pilot yang terhubung dengan air traffic controller (ATC)
Saluran 4 merekam seputar kokpit (misalnya mesin yang berisik atau hujan).
Singkatnya CVR adalah perekam yang dihubungkan dengan sistem audio.
"CVR dan FDR diletakkan di bagian pesawat yang paling aman yaitu di ekor pesawat. Di ekor karena kalau ada apa-apa dia tidak frontal. Sudah ada studi bahwa area yang paling aman adalah bagian ekor pesawat," terang Budi.
Nah, jika black box ini jatuh ke laut, karena ada ULB maka posisinya bisa terdeteksi. ULB ini merupakan transmitter yang akan memancarkan gelombang akustik untuk memudahkan pendeteksian.
Black box sengaja didesain untuk tahan air, tahan benturan, dan tahan panas. Benda ini bisa tahan air sampai dengan 2 bulan. "Tahan panas bisa sampai 1.000 derajat, tapi dalam waktu terbatas, tidak terus menerus seribu derajat. Kalau black box rusak itu artinya rusak luarnya. Memorinya tidak," terang Budi.
Black box yang kondisinya rusak ditemui pada kondisi black box Sukhoi Superjet 100 yang ditemukan di Gunung Salak yang ditemukan Kopassus di ketinggian 100 meter. Black box itu ditemukan pada bagian ekor pesawat, dalam keadaan berwarna hitam gosong karena terbakar. Namun seperti keterangan Budi, memori atau alat perekam dalam kotak hitam itu aman.
Kenapa berwarna oranye? Warna itu sudah merupakan standar yang telah ditetapkan International Civil Aviation Organization (ICAO/Organisasi Penerbangan Sipil Internasional). Selain itu, warna oranye ngejreng dimaksudkan agar mencolok mata untuk memudahkan pencarian bila pesawat mengalami insiden atau kecelakaan di medan atau lokasi sulit.
"Black box adalah sesuatu yang hitam, diartikan sesuatu yang mengandung misteri. Kenapa warnanya oranye? Karena itu yang paling mencolok di mata. Warnanya tidak kamuflase," kata Budi yang ditemui detikcom pada Selasa (15/5/2012) lalu
Bagaimana Membaca Black Box?
Tidak sembarang orang bisa mengakses data black box. Bahkan pilot pun tidak boleh mengaksesnya. Demikian halnya dengan orang KNKT pun tidak boleh asal.
Data yang diperoleh dari rekaman atau memori black box lantas ditampilkan dalam bentuk grafik maupun transkrip apabila data tersebut berupa percakapan. Kemudian data bisa divisualkan dengan animasi melalui software, yang seperti Insight View. Dengan demikian bisa diperkirakan posisi pesawat terakhir sebelum kecelakaan.
"Kalau download datanya paling satu jam. Tapi yang lama adalah analisisnya. Tidak bisa dipatok karena harus seteliti mungkin. Tergantung kerumitan pesawat juga, kan pesawat juga macam-macam. Ada yang sederhana, ada yang modern. Kalau makin modern akan lebih banyak parameter yang direkam dan harus dibaca. Tapi ada standar pada dasarnya," tutur Budi.
Membaca kotak hitam ini, bukan tanpa kesulitan. Jenis pesawat yang berbeda-beda memiliki konfigurasi kotak hitam yang berbeda-beda pula.
"Kesulitannya, karena pesawat itu beda-beda. Dari Boeing, Airbus, beda konfigurasi. Misal kita analisa punya Boeing, ya kita harus pakai software dan database Boeing. Jadi kita harus kontak pabrikan Boeing," imbuhnya.
Laboratorium KNKT sendiri sudah diresmikan pada 17 Agustus 2009 lalu, bertepatan dengan HUT RI yang ke-64. Saat itu KNKT masih di bawah Kemenhub yang dipimpin Jusman Syafii Djamal. Dalam laboratorium ada dua alat baca yang sesuai dengan jenis black box yang terdiri dari pembaca flight data recorder (FDR) dan pembaca cockpit voice recorder (CVR).
"Alat ini ada yang beli sendiri dari Kanada dan ada yang bantuan dan hasil kerjasama dengan Jepang," jelas Nugroho Budi, investigator dan analis kotak hitam di KNKT kepada detikcom.
Berdasarkan data detikcom, pembaca FDR didatangkan dari Kanada, sedangkan CVR dibeli di Australia. Pengadaan alat software itu memakan dana sebesar US$ 250 ribu. Sementara hardware-nya berasal dari hibah negara Jepang seharga US$ 300.000.
"Laboratorium ini kurang lebih sudah membaca sekitar 20-an black box yang kita analisa. Baik cockpit voice recorder maupun flight data recorder. Baik yang sudah rusak ataupun yang masih bagus kondisinya," papar Budi pada 2012 lalu.
Untuk peningkatan kapasitas operatornya, imbuh Budi, Australia menjadi tempat pendidikannya.
Sedangkan untuk pesawat AirAsia QZ8501, Ketua Investigator Prof Dr Mardjono Siswosuwarno mengatakan black box AirAsia akan dibaca di laboratorium black box KNKT Indonesia. Menurut dia data yang terekam di CVR bisa diumumkan ke publik dalam waktu 3 bulan setelah ditemukan.
"Kita kan sudah punya alatnya, jadi tidak harus dibawa ke Prancis," kata Mardjono ketika berbincang dengan detikcom, Rabu (31/12/2014) malam.
Tahun Baru 2015, Anis Matta Ingatkan Janji Kampanye Jokowi
Jpnn
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta menilai tahun 2014 sebagai tonggak demokrasi Indonesia.
"Kita berhasil merampungkan pileg dan
pilpres yg kompetitif dan partisipatif dlm sejarah kita," jelas Anis
lewat akun Twitter-nya @anismatta Rabu malam.
Menurutnya, itu adalah buah dari
perjalanan 16 tahun reformasi kita. Keseimbangan antara kehadiran negara
dan aspirasi rakyat mulai bertemu.
"Negara bukan lagi bermakna rejim, tapi institusi politik hasil konsensus rakyat utk memenuhi hajat hidupnya," jelasnya.
Untuk Pemerintahan Jokowi-JK, Anis
mempersilakan untuk bekerja. Sedangkan Koalisi Merah Putih yang berada
di luar pemerintahan akan mengimbangi dengan kritik konstruktif dalam
koridor checks & balances.
"2015 adalah tahun pemenuhan janji2..
Bukan saja janji pemerintah yg menang pemilu, tapi juga janji
@PKSejahtera kpd konstituennya," ungkapnya.
Untuk PKS, dia menegaskan, akan tetap melayani Indonesia dengan cinta, kerja dan harmoni apa pun yang terjadi.
"Artinya, @PKSejahtera hrs berbenah
diri. Kita berhsl melewati badai. Saatnya mmbangun bahtera yg lbh kokoh.
Untuk ummat,untuk Indonesia," ucap Anis.
Dalam twit pergantian tahun tersebut,
Anis mengingatkan rakyat Indonesia dirundung musibah di penghujung tahun
2014 ini. Mulai dari longsor di Banjarnegara hingga insiden yang
menimpa Air Asia QZ8501. Dia mengajak untuk mendoakan para korban.
"Mari kita menutup 2014 dgn rasa syukur
dan rendah hati, tanpa perlu pesta pora dan hingar bingar. Mari temani
saudara2 kita dgn doa," tandasnya.
"Dan kita membuka 2015 dgn harapan.
Semoga Allah memberkati Indonesia," tandasnya seraya menambahkan
Kobarkan semangat Indonesia! (zul/rmo/jpnn)
Jokowi Sebut Banyak Belajar dari Falsafah Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Jpnn
JAKARTA -
Presiden Joko Widodo secara tak langsung meminta masyarakat percaya,
bahwa pemerintahan selalu berusaha yang terbaik mencari dan memberikan
solusi dari permasalahan bangsa.
Lewat akun resmi facebook-nya, Kamis
(1/1) siang tadi, Jokowi menegaskan rakyat tidak sendiri di dalam
mengatasi musibah atau persoalan. "Negara akan selalu hadir ketika
musibah datang, ketika muncul persoalan-persoalan di masyarakat dan
negara harus ada dalam pergumulan sehari-hari, sehingga rakyat tidak
ditinggalkan sendiri, sehingga rakyat merasa negara ada untuk menjamin
daya geraknya dalam kehidupan....," tulis Jokowi.
Jokowi juga mengaku banyak menyelami
falsafah kenegaraan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX, seorang Sultan
yang pernah memimpin di Kasultanan Yogyakarta (1940-1988), dan merupakan
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama setelah kemerdekaan
Indonesia.
"Saya belajar banyak tentang falsafah
tata negara dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX, falsafah dari Sri Sultan
Hamengkubuwono IX adalah "Tahta Untuk Rakyat", yaitu kekuasaan yang
dipercaya lalu kekuasaan itu tumbuh dari rasa cintanya rakyat karena
pemimpin selalu hadir dalam persoalan-persoalannya rakyat," urai Jokowi.
Presiden berharap, negera yang kini dia
pimpin ini menjadi makmur karena kesatuan rakyat dan pemimpin. "Semoga
bangsaku Indonesia mendapatkan kemakmurannya karena adanya satu nafas
(napas) antara pemimpin dan rakyatnya..." tutup Jokowi, yang juga sempat
menuliskan ucapan selamat tahun baru 2015 di akun tersebut. (adk/jpnn)
Langganan:
Postingan (Atom)