BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Senin, 27 April 2015

Awas, Ada Narkoba Mirip Permen Karet

Jpnn
SURABAYA - Bandar narkoba semakin kreatif mendesain agar barang haramnya tidak mudah terdeteksi oleh aparat. Salah satunya mengubah kemasan menjadi barang yang familier di kalangan umum. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jatim menemukan narkoba berbentuk permen karet, prangko, agar-agar, bahkan rokok elektrik.
Barang haram itu ditemukan lembaga antimadat yang berkantor di Jalan Ngagel tersebut dalam operasi penyelidikan tertutup. Narkoba jenis itu lebih dahulu ditemukan di Jatim. Termasuk jenis CC4 yang ramai di Jakarta baru-baru ini.
Kepala BNNP Jatim Brigjen Pol Iwan Abdullah Ibrahim mengatakan, narkoba tersebut sudah beredar di masyarakat. Namun, hanya kalangan terbatas yang bisa mengakses produk narkoba dengan kemasan khusus itu. "Harganya relatif lebih mahal. Sebab, proses labeling dan packing-nya lebih rumit ketimbang narkoba biasa," katanya.
Dia menjelaskan, varian baru itu ditemukan petugas ketika menyelidiki peredaran narkoba di Jatim. Salah satunya berbentuk permen karet. Iwan mengatakan, secara kasat mata, narkoba tersebut bergambar permen karet dengan nama produk yang sudah banyak dikenal. Ketika dibuka, isinya sama persis dengan permen karet. Hanya, kandungan permen itu adalah narkoba. Jenis narkoba tersebut merupakan hasil olahan dari ekstasi. Cara mengonsumsinya layaknya permen. Efeknya baru muncul setelah permen tersebut habis diemut. Yang membuat petugas geleng-geleng kepala, ada permen isi narkoba dengan kemasan gambar kartun lucu.
Tidak hanya berbentuk permen, petugas juga menemukan narkoba dalam bentuk agar-agar. Bahan dasarnya sama, yaitu ekstasi yang diolah sedemikian rupa sehingga berbentuk jelly. Cara memakannya pun sama dengan agar-agar yang ditelan. "Kemasannya ya sama kayak jelly yang dijual di pasaran," ucapnya.
Varian lainnya berbentuk rokok elektrik. Cairan rasa yang tersimpan di tabung rokok tersebut merupakan narkoba jenis sabu-sabu. Hanya, jenisnya sabu-sabu cair. Secara kasat mata, lanjut Iwan, tidak ada perbedaan signifikan antara rokok elektrik yang benar-benar rokok dan narkoba.
Perbedaan hanya terlihat ketika dilakukan uji laboratorium mengenai kandungan cairan dalam tabung rokok elektrik. Setelah uji laboratorium tersebut, baru diketahui kandungan narkoba di dalam cairan itu. "Kalau tidak dites, tidak akan ketahuan kalau itu narkoba," jelasnya.
Cara kerjanya sama persis dengan penggunaan alat isap berupa bong. Sabu-sabu cair diubah menjadi uap melalui proses elektrik. Uap itu dikeluarkan melalui pipa yang dialirkan ke mulut pengguna layaknya mengisap rokok elektrik.
Terakhir, ada narkoba berbentuk prangko atau yang dikenal CC4. Narkoba yang baru saja booming di Jakarta itu pernah terendus di Surabaya pada 2013. "Kami sudah pernah temukan. Tapi, setiap kali kami telusuri langsung hilang," ucapnya.
Iwan mengatakan, peredaran narkoba jenis tersebut sangat terbatas. Menurut dia, hanya kalangan atas yang bisa mengaksesnya. Selain harganya lebih mahal ketimbang narkoba biasa, konsumennya tidak sembarangan. Berdasar analisis sementara, narkoba jenis baru itu hanya beredar di lingkungan eksklusif. (eko/oni/mas)

Tidak ada komentar: