BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Kamis, 25 Agustus 2011

Iklas, Kunci Bekerja di Hari Raya

Oleh : Wahyu Pradityo Purnomo

INILAH.COM, Jakarta - Teriknya matahari siang ini seakan tak mempengaruhi aktivitas awak angkutan di terminal Utama, Pulo Gadung, Jakarta Timur. Memasuki H-6 Lebaran, aktivitas yang terjadi terlihat malah semakin padat. Buktinya, angkutan umum, baik bus dalam kota maupun luar kota semakin tinggi.
Disudut pool angkutan bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP), tampak duduk seorang pria bertopi dengan handuk kecil dikalungkan dileher. Tangannya yang hitam kering, sesekali menyeka kringat di wajahnya. Matanya menerawang tajam pada sebuah bus yang terparkir tak jauh dari tempat duduknya.
"Bukan tak ingin lebaran bersama keluarga, tapi perusahaan mempercayakan saya untuk beroprasi saat lebaran dan arus mudik. Hitung-hitung tambah penghasilan, bisa beli baju anak dan istri," tiba-tiba suara pria bernama Sutono (49) itu terucap, dengan logat Jawanya yang cukup kental.
Pria yang tinggal di Desa Mentoro, Pacitan, Jawa Timur ini mengaku, sudah dua tahun ini berprofesi sebagai supir bus Aneka Jaya, jurusan Jakarta-Pacitan. Bahkan saat Hari Raya Idul Fitri, dimana musim mudik tiba, Sutono rela jauh dari anak istrinya. "Dua kali lebaran, saya selalu merayakannya di jalan," katanya lirih.
Diakuinya, pekerjaan sebagai supir luar kota sempat, yang selalu sibuk saat Hari Raya, sempat mendapat protes dari Siti Rokhayah (45) istrinya. Tapi, setelah dijelaskan akhirnya keluarga bisa menerima. "Kita kerja untuk siapa, pasti untuk keluarga kan? Apalagi mengantarkan orang untuk merayakan lebaran besar pahalanya loh," katanya.
Sebagai kepala keluarga, berkumpul bersama anak dan istri saat merayakan Lebaran, diakuinya merupakan suatu kegembiraan yang dirasakan. "Saat itulah kita baru menyadari kalau umur telah lanjut dan menjadi orang tua. Sebagai manusia kita tak luput dari kesalah, termasuk terhadap anak," ungkap ayah tiga orang anak ini tanpa menggurui.
"Semua kuncinya adalah keiklasan. Kalau kita menjalankan sesuatunya secara iklas, pasti aja saja rejeki yang akan kita dapatkan. Kita yakin dan percaya Tuhan maha Adil. Jika tak bisa merayakan Hari Raya saat lebaran, kan masih ada waktu selama Hijriah untuk saling memaafkan," lanjut pria yang mengaku tetap menjalankan puasa ini.
Hal itulah yang dirasakan Sutono pada Lebaran 2010 lalu. Empat hari setelah Lebaran, dirinya baru dapat berkumpul bersama keluarga. Namun hasil jerih payahnya sebagai supir bus antar kota pun dapat dirasakannya. Bonus Hari Raya dari perusahannya bekerja, telah didapatkannya. Sebagai bekal untuk membahagiakan anak dan istrinya.[iaf]

Tidak ada komentar: