BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Jumat, 25 April 2014

Mantan Guru JIS Penjahat Seks, Ini Tanggapan Kedubes AS dan Australia

VIVAnews - Duta Besar Amerika Serikat untuk RI, Robert O. Blake Jr., tidak mau berkomentar banyak soal sepak terjang penjahat seks anak-anak, William James Vahey. Menurut Badan Penyelidik Federal AS, FBI, Vahey pernah sepuluh tahun mengajar di Jakarta International School, yang didirikan bersama oleh Kedubes Australia, AS, dan Inggris.
Menurut Blake, FBI sendiri masih menyelidiki kasus itu, sehingga dia untuk saat ini tidak bisa berbicara banyak. Demikian kata Blake dalam suatu acara di Pusat Kebudayaan Amerika Serikat di Jakarta Selatan, pada Kamis malam, 24 April 2014.

"Saya tidak bisa mengungkap hal tersebut, karena terkait proses penyelidikan yang saat ini masih terus berlangsung," kata dia.

Seperti anjuran FBI, Blake menyarankan kepada masyarakat di Indonesia, apabila memiliki informasi terkait kejahatan Vahey untuk segera menghubungi Kedutaan Besar AS di Jakarta.

"Anda dapat menyampaikannya ke kantor FBI atau atase di kantor kami," ujar Blake.

Respons serupa juga ditunjukkan oleh Kedutaan Besar Australia di Jakarta ketika kasus penyerangan seksual di sekolah elite itu menyeruak. Seorang pejabat Kedubes Australia kepadaVIVAnews mengatakan bahwa negaranya memang termasuk salah satu pendiri JIS.
"Kedubes Australia merupakan salah satu anggota pendiri sekolah itu bersama Kedubes AS dan Inggris di tahun 1951," ujar pejabat itu, yang tidak mau disebutkan namanya. 

Menurut dia, Kedubes Australia akan terus bekerja sama dengan Jakarta International School (JIS), termasuk soal keamanan dan keselamatan para murid.

Vahey pernah menjadi pengajar di JIS selama 1992 hingga 2002. Pria berusia 64 tahun itu diburu FBI karena telah melakukan kejahatan seksual terhadap 90 orang anak laki-laki.
Bunuh Diri
Kasus Vahey mulai terkuak usai seorang pegawai di American Nicaraguan School, Managua, Nikaragua, menyerahkan penyimpan data komputer mini USB milik Vahey ke Kedubes AS di sana. Media ini ternyata menyimpan setidaknya 90 gambar bugil bocah laki-laki.

Belum juga kasusnya tuntas, Vahey diketahui bunuh diri pada 21 Maret 2014, di tengah statusnya sebagai tersangka kejahatan seks internasional.
Menurut harian The Star Phoenix, 22 April 2014, warga AS berusia 64 tahun itu bunuh diri di kota Luverne, negara bagian Minnesota, dua hari setelah tim FBI di Houston mengeluarkan surat perintah penggeledahan rumahnya.

Namun, proses penyelidikan terus dilakukan oleh FBI. Mereka meminta kepada publik yang pernah menjadi korban perbuatan Vahey untuk melapor ke surel HOvictimassistance@ic.fbi.gov

FBI pun meminta partisipasi masyarakat untuk mengidentifikasi foto-foto korban Vahey yang mereka temukan. (ren)

Tidak ada komentar: