BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Selasa, 19 Mei 2015

Kebangkitan Nasional Harus jadi Momen Revolusi Mental

Jpnn
JAKARTA - Pengamat politik dari Universitas Nasional Muflizar mengingatkan, peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun ini haruslah menjadi perekat untuk mengingat kembali apa yang diharapakan oleh para pejuang nasional dulu dan para pendiri republik ini.
Tanggal 20 Mei, lanjutnya, merupakan momen terbaik untuk menyatukan langkah dan berkontribusi dalam pembangunan nasional. Dengan kata lain, harus menjadi momen memulai revolusi mental.
 “Bukan justru memanfaatkan peringatan kebangkitan nasional untuk melakukan hal yang sifatnya justru menjadi kontra produktif,” ujar Muflizar yang juga Direktur Publika Consulting itu dalam keterangan persnya, kemarin.
Khusus bagi kalangan generasi muda dalam hal ini mahasiswa, kebangkitan nasional harus dijadikan momentum untuk menunjukkan kiprah di bidang keilmuan dan fokus pada hal yang berkaitan dengan dunia kemhasiswaan.
Begitu pula halnya dengan para pekerja atau buruh, peringatan kebangkitan nasional ini haruslah dijadikan sebagai katalisator untuk sumbangsih pada dunia industri dan jasa.
 “Mengingat kompetisi global, kita membutuhkan buruh yang memiliki kemampuan khusus agar bisa terus bersaing,”jelasnya.
Disisi lain, Muflizar menilai program pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam semangat Nawacita, harus diarahkan bagi tercapainya akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional serta  pemerataan distribusi kekayaan nasional.
Tentunya, hal ini harus dibarengi dengan keberanian mengubah sikap mental jajaran birokrasi, agar punya kemahiran dalam melakukan terobosan-terobosan.
“Revolusi mental,dalam konteks mempersatukan seluruh energi positif nasional guna mewujudkan program program pemerintahan,tentunya menjadi begitu penting untuk dilaksanakan oleh seluruh elemen bangsa," sebutnya.
Menurut dia, ada begitu banyak “pekerjaan- rumah “ yang harus di selesaikan secara solutif oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo. Diantaranya bidang ekonomi dan aspek keamanan nasional. Roda perekonomian nasional tetaplah harus  terus digenjot untuk menghasilkan  pertumbuhan eknomi di atas 6 persen.
"Meskipun tren dunia sedang menunjukkan kelambanan, tetapi pemerintahan Joko Widodo harus tetap optimis mampu mencapai pertumbuhan signifikan," ujarnya.
Meski diakui, tugas pemerintah bukanlah pekerjaan yang mudah untuk dilaksanakan. "Diperlukan adanya stabilitas politik nasional dan kesamaan visi dari seluruh elemen bangsa untuk mendukung jalannya program pemerintahan yang dicanangkan Presiden Joko Widodo,” ucapnya. (rl/jpnn)

Tidak ada komentar: