Laurencius Simanjuntak - detikNews
Jakarta - Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD meminta masyarakat memahami hasil survei Indobarometer, yang menyebut Orde Baru lebih baik ketimbang Orde Reformasi, secara kontekstual. Menurutnya, hasil survei bisa beda jika penilaian terhadap Orde Reformasi dilakukan 10 tahun mendatang.
"Mungkin saja untuk saat ini survei itu benar, dan dari segi bahwa orang lebih suka Pak Harto dan lebih berhasil Orde Baru. Tapi kalau dinilai 10 tahun yang akan datang, saya kira beda, yang dinilai keadaan sekarang tapi menilainya 10 tahun yang akan datang, itu bisa beda," kata Mahfud.
Hal itu dikatakan Mahfud usai menghadiri pemberian penghargaan Seputar Indonesia Award 2011 di Studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Selasa (17/5/2011).
Menurut Mahfud, menilai Soeharto sekarang akan berbeda dengan menilainya pada tahun 1998. "Sekarang ini harus dinilai 10 tahun yang akan datang karena (saat ini) orang sedang marah, seperti halnya kalau kita nilai Pak Harto tahun 1998 tidak ada nilainya karena pada saat itu orang sedang marah," ujar mantan anggota DPR ini.
Dia mengatakan, konteks waktu dalam survei tidak boleh disamaratakan. "Sejarah yang sedang berlangsung sekarang lalu dibandingkan dengan sejarah yang sudah selesai. Sudah lewat, kurang fair juga," ujarnya.
Menurut Mahfud, secara faktual pemerintah sekarang memang menimbulkan kekecewaan. Namun, pemerintahan Soeharto saat itu pun menimbulkan kekecewaan juga.
"Tapi sudah lewat dan dinilai sekarang lalu menjadi orang bercampur romantisme juga mengingat masa lalu. Saya kira objektivitasnya, agak ragu, atau sekurang-kurangnya diberikan padanan waktu yang samalah. Kalau Soeharto lewat 10 tahun baru dinilai, kalau sekarang pun harus dinilai sesudah lewat 10 tahun," ujarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar