BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Jumat, 30 September 2011

Agar Pembangunan MRT Tak Bikin Macet Parah

VIVAnews - Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) sebagai transportasi umum massal Jakarta, harus dibarengi dengan strategi manajemen lalulintas yang baik. Manajemen lalu lintas diperlukan agar saat pembangunan fisik MRT pada pertengahan 2012 tidak membuat lalu lintas di kawasan Lebak Bulus hingga Bunderan Hotel Indonesia (HI) menjadi macet.

Disampaikan Direktur Utama PT MRT Jakarta, Tribudi Rahardjo, manajemen dan rekayasa lalulintas juga diperlukan untuk memperkecil dampak konstruksi saat pembangunan berlangsung. Karena itu perlu menggandeng konsultan manajemen lalulintas.

"Konsultan akan membantu dalam menyusun kajian untuk menganalisa dampak lalulintas saat pembangunan MRT Jakarta. Juga dibutuhkan untuk mengantisipasi kemacetan selama masa konstruksi maupun setelah beroperasinya MRT," kata Tribudi di Jakarta, Kamis, 29 September 2011.

Rekayasa lalulintas sangat dibutuhkan untuk menyesuaikan dengan pola operasional busway Transjakarta yang bersinggungan dengan operasi MRT Jakarta.

Tim konsultan terdiri dari para ahli dalam bidang perencanaan kota, rekayasa lalu lintas, permodelan transportasi, manajemen transportasi dan ekonomi transportasi.

Tim ini akan bekerja selama enam bulan untuk melakukan kajian, kemudian diharapkan membuat kesimpulan dari seluruh rangkaian analisa, sebagai bahan pemikiran bagi PT MRT Jakarta dan pihak terkait.

Kemudian menyusun rekomendasi dan skenario prioritas terkait jadwal dan tahap pembangunan sistem MRT Jakarta dan kaitannya dengan sistem transportasi lain yang maksimal. "Mereka juga akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan dan instansi terkait lainnya dalam menyusun kajian itu," ujar Tribudi.

Kajian yang akan dikerjakan tersebut antara lain konsep manajemen dan rekayasa lalu lintas selama dan setelah konstruksi proyek MRT di jaringan jalan daerah studi.

Prediksi titik-titik yang akan berdampak paling besar akibat pembangunan MRT Jakarta selama dalam tahap konstruksi maupun setelahnya, dan mempersiapkan jalur lalu lintas alternatif.

Kemudian menyediakan alternatif pengaturan Terminal Lebakbulus selama dan setelah konstruksi MRT Jakarta serta alternatif pengaturan pola operasional Transjakarta yang bersinggungan dengan operasional MRT Jakarta selama dan setelah konstruksi MRT Jakarta.

Hasil kajian ini nantinya akan menjadi bahan bagi instansi seperti Dinas Perhubungan DKI, PT MRT Jakarta maupun pihak lain yang berkaitan. Ini sebagai upaya meminimalisasikan dampak konstruksi terhadap lalulintas sepanjang koridor MRT tahap I dengan rute Lebak Bulus-Bunderan HI.

Seperti diketahui, setelah melalui proses prakualifikasi tender konstruksi fisik dan proses evaluasi, PT MRT Jakarta telah mengantongi sejumlah nama kontraktor yang telah lolos proses prakualifikasi tender.

Hingga saat ini daftar nama perusahaan kontraktor yang lolos prakualifikasi masih ada di tangan Japan International Corporate Agency (JICA) selaku pemberi pinjaman untuk dievaluasi lebih lanjut.

Direktur Fungsi Korporasi PT MRT Jakarta, Eddi Santosa menuturkan tender konstruksi fisik MRT akan segera dilakukan tahun ini. Ditargetkan, pengumuman pemenang lelang pada April 2012, dilanjutkan dengan persiapan kontrak kerja dan persyaratan administrasi pada Mei 2012. Lalu, pada Juli 2012 sudah bisa dimulai penggalian tanah untuk terowongan.

Untuk konstruksi, PT MRT Jakarta membagi paket pekerjaan fisik proyek MRT menjadi enam paket yang dikerjakan enam kontraktor. Paket itu terbagi dalam tiga paket fisik permukaan tanah dan tiga paket fisik bawah tanah.

Tiga paket fisik permukaan tanah yaitu cp 101 yang dimulai dari Depo Lebak Bulus hingga Fatmawati. Paket kedua cp 102 untuk pekerjaan fisik dari Blok M hingga Al-Azhar, dan paket ketiga cp 103 dari Patung Pemuda hingga Senayan.
Sementara paket fisik bawah tanah, PT MRT Jakarta membagi paket pekerjaan fisik cp 104 dari Senayan hingga Istora, paket cp 105 dari Setiabudi hingga Bendungan Hilir, dan paket cp 106 mulai dari Dukuh Atas hingga Bundaran HI. (adi)

Tidak ada komentar: