BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Selasa, 10 Februari 2015

Harga Solar Akan Turun Menjadi Rp 6.200

TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral I Gusti Nyoman Wiratmadja memperkirakan harga solar akan turun pada bulan ini. Hal itu jika mengacu pada tren kondisi harga MOPS (Mid Oil Platts Singapore, harga acuan Singapura) yang fluktuatif dan cenderung turun selama satu bulan ke belakang.

Menurut dia, harga MOPS sempat naik sebelum akhirnya turun menjadi US$ 45 per barel. "Seandainya tetap seperti ini (tidak berubah banyak) sampai 14 Februari, harga solar bisa turun menjadi Rp 6.200 per liter," katanya saat ditemui di kompleks Kementerian ESDM, Jakarta, Senin, 9 Februari 2014. (Baca: Harga Minyak Indonesia Januari US$ 45,30)

Kementerian Energi, kata dia, menghitung besaran harga solar setiap sebulan sekali berdasarkan harga minyak dunia. Penghitungan harga solar Rp 6.200 tersebut mengacu pada rata-rata harga MOPS selama satu bulan sebelumnya.

Menteri Energi Sudirman Said pernah mengatakan harga solar bisa lebih murah ketimbang saat ini, Rp 6.400 per liter. "Harga solar kami sudah cek per hari ini. Sebetulnya Rp 6.000 per liter bisa masuk," ujarnya, Selasa, 6 Februari 2015.

Penghitungan harga solar ditemukan setelah penghitungan alfa dalam pembentuk harga menggunakan acuan lama, yakni sebelum berpatokan pada regulasi baru, yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 191 Tahun 2014 tentang Harga BBM. Alfa adalah komponen pembentuk harga BBM yang berasal dari biaya distribusi dan margin. Pada acuan lama, alfa dihitung sebesar Rp 700 per liter, sedangkan pada acuan baru Rp 1.300 per liter.

Pemerintah belum memutuskan harga solar karena masih menunggu PT Pertamina. Dalam pembahasan bersama DPR, Sudirman meminta waktu agar Pertamina dapat membuat simulasi harga agar ketetapannya menjadi lebih terencana. (Baca: Harga MinyakAnjlok, Momentum Hapus Premium)

Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto mengatakan, jika harga solar ditetapkan di bawah Rp 6.200 per liter, akan menekan profit perusahaan. Menurut dia, harga paling visible bagi Pertamina adalah Rp 6.200 per liter. "Pertamina masih bisa bernapas (dengan harga Rp 6.200 per liter). Tetapi, apa pun keputusan pemerintah, kami laksanakan," ujarnya.

ALI HIDAYAT

Tidak ada komentar: