BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Selasa, 27 Desember 2011

Selain Nunun, Kunci Kasus Ada di Emir Moeis

 Jpnn
JAKARTA - Tersangka kasus suap cek perjalanan dalam pemilihan deputi gubernur senior Bank Indonesia (DGS BI), Nunun Nurbaeti memang sudah mendekam lagi di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Namun, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih punya pekerjaan rumah berat. Yakni, menemukan cara untuk menginterogasi Nunun tanpa membuat dia sakit lagi.
   
Hingga Senin (26/12),  instansi pimpinan Abraham Samad tampaknya belum memiliki banyak terobosan untuk mengorek informasi dari Nunun. Bahkan, kemungkinan besar cara yang digunakan tetap sama dan bisa memicu sakit Nunun kambuh. "Belum ada (cara baru). Masih sama seperti sebelumnya," ujar Kepala Bagian Pemberitaan dan Informasi KPK Priharsa Nugraha.
   
Priharsa meyakini cara yang sama tetap bisa mengorek banyak informasi, meski Nunun selalu berdalih sakit saat diperiksa. Namun, pernyataan itu masih belum bisa dibuktikan dalam waktu dekat. Entah karena terhambat libur Natal dan tahun baru, pemeriksaan Nunun masih belum diagendakan.
   
Priharsa mengatakan, pihaknya belum tahu pasti kapan istri mantan Wakapolri Adang Daradjatun itu bakal diperiksa kembali. Termasuk, di mana lokasi Nunun bakal dicecar pertanyaan oleh penyidik. Apakah kembali dibawa ke gedung KPK di Jalan H.R Rasuna Said atau ditempat lain yang lebih kondusif. "Belum ada informasi tentang pemeriksaan," imbuhnya.
     
Yang pasti, KPK harus bisa menunjukkan kemampuannya dalam mengungkap kasus cek pelawat. Sebab, seperti yang diberitakan kalau internal KPK sempat memanas gara-gara Nunun. Abraham sempat marah kepada penyidik karena mengeluarkan izin pembantaran tanpa sepengetahuannya. Padahal, penyakit Nunun saat dirawat ke RS Abdi Waluyo ternyata tidak terlalu parah.
   
Nah, kelihaian KPK untuk mengorek informasi itu seolah mendapat "sambutan" dari pihak Nunun. Kemarin, kepada wartawan di Jakarta, pengacara Nunun yakni Ina Rachman mengatakan jika kondisi kliennya sudah membaik. "Ibu Alhamdulilah sudah membaik kondisinya," katanya.

Tidak hanya menyampaikan kabar kesehatan, Ina juga mengatakan jika kliennya sudah siap diperiksa penyidik KPK. Meski tidak ada jaminan apakah kesehatan sosialita itu bakal drop lagi, Ina mengaku sedang "menunggu" jadwal pemeriksaan. "Sudah siap, Tapi belum ada kabar kapan dan dimana jadwal pemeriksaan," tandasnya.

Ruwetnya mengorek informasi mendapat perhatian dari mantan terpidana sekaligus pelapor kasus cek perjalanan Agus Condro Prayitno. Agus mengatakan, KPK harus lihai untuk bisa mengorek informasi. Meski dia yakin jika Nunun benar-benar sakit, fakta bahwa dia tidak sakit parah harus bisa dimanfaatkan. "Saya rasa penyidik tahu caranya. Tetapi, harus dibuktikan," katanya.

Meski demikian, Agus mengatakan KPK harus mulai mencari cara lain kalau Nunun benar-benar tidak bisa lagi diperiksa. Jangan sampai karena Nunun sakit, maka kasus cek pelawat akan ikut terlantar.
   
Agus yang mendapat pengurangan hukuman penjara karena menjadi whistle blower dalam kasus pemilihan DGS BI menyarankan agar KPK membuka kembali fakta persidangan. Dia yakin ada petunjuk yang bisa membuat penyidikan kasus suap itu menjadi makin terang.
   
Dia lantas memberi contoh kesaksian anggota DPR Emir Moeis di Pengadilan Tipikor Jakarta. Saat menjadi saksi, Emir mengatakan pernah menerima uang dari Arie Malangjudo. Namun, sehari kemudian uang itu dikembalikan ke Panda Nababan. "Seingat saya, dia bilang tidak mau menerima uang dari Miranda karena (pernah menjadi) teman SMP," ingatnya.
   
Saat itu, disebutnya Panda mengatakan jika amplop berisi cek pelawat yang ada di tangan Emir Moeis bukan dari Miranda. Singkat cerita, amplop tersebut lantas diletakkan di meja Panda Nababan. "Pertanyaannya, kenapa Emir tiba-tiba sebut Miranda dan mengembalikan ke Panda, padahal amplopnya dari Arie," terangnya.
   
Nah, puzzle itulah yang menurut Agus Condro layak untuk dibuka dan disusun kembali. Dia yakin, jika semua itu didalami, KPK bisa menemukan banyak fakta baru tentang kasus cek kasus pelawat yang disebut-sebut menyeret nama Miranda Goeltom. "Setidaknya, kalau Nunun tidak bisa diperiksa, ada cara lain," tuturnya. (dim/agm)

Tidak ada komentar: