BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Senin, 03 Agustus 2015

Mereka yang Bertaruh Nyawa Demi Setetes Air

Oleh : Bayu Adi Wicaksono, Nila Chrisna Yulikaantv/tvOne
VIVA.co.id - Di tengah ekonomi yang melambat serta naiknya harga barang yang makin tak terkendali, rakyat Indonesia akan menghadapi musim kemarau panjang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, musim kemarau tahun 2015 ini, akan berlangsung lebih lama dari tahun-tahun sebelumnya.

"Jika dipantau dari peta Monitoring Hari Tanpa Hujan, wilayah-wilayah tersebut sudah kering sejak Mei 2015 lalu," ujar Ketua BMKG, Andi Eka Satya.
Panjangnya musim kemarau di beberapa tempat di Indonesia, terutama di sebelah selatan garis katulistiwa diduga sebagai dampak fenomena El Nino yang telah mencapai level moderat dan diprediksi akan menguat mulai Agustus sampai dengan Desember 2015.

"Tren penguatan El Nino 2015 ini ditunjukan kenaikan indeks Enso dari 1,6 pada Juni menjadi 2,2 pada  Desember 2015," katanya.

Andi menjelaskan, daerah-daerah yang berpotensi terkena dampak El Nino 2015 meliputi Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.

"Musim kemarau di NTB dan NTT diprediksi sampai November 2015. Sementara untuk di wilayah Jawa diprediksi hingga Oktober 2015," ujar Andi.
Dampak musim kemarau yang panjang ini, telah mulai dirasakan begitu 'menyiksa' bagi sebagian besar masyarakat di beberapa daerah. Fakta di lapangan rakyat sulit mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jangankan sumur, kini, sungai hingga telaga danau pun sudah kering kerontang.
Berebut air dengan beruang dan harimau

Memang, masyarakat masih bisa mendapatkan air dengan jumlah yang sangat minim. Tapi, itu pun harus didapatkan dengan cara mempertaruhkan nyawa.

Seperti halnya yang dialami masyarakat di Kabupaten Padang Lawas, Sumatera Utara. Mereka rela menantang maut, secara tak langsung harus berhadapan dengan binatang buas penghuni rimba hanya demi mendapatkan setetes air

Hariman Siregar salah satunya, ia dan masyarakat setempat, kini mau tidak mau harus pandai-pandai mencari waktu yang tepat untuk mengambil air bersih di aliran sungai di dalam hutan yang selama ini dikenal sebagai tempat Beruang dan Harimau Sumatera melepas dahaga.

Jika salah menerka waktu saat mengambil air, risikonya, mereka bisa bertemu langsung dengan satwa-satwa buas itu. Pertemuan dengan beruang dan harimau tentu bukan pertemuan biasa, karena bisa saja satwa buas itu marah dan menyerang karena merasa terusik dengan kehadiran manusia.

"Sumber air yang masih tersedia cuma ada di Sungai Halongonan. Cuma risikonya kami bisa berhadapan dengan Harimau atau Beruang. Mereka juga menggunakan air itu," kata Hariman.

Menurut Hariman, waktu yang paling tepat untuk masuk ke hutan berburu air adalah siang hari. Karena, biasanya Beruang dan Harimau hanya akan menghabiskan waktu di sumber air itu di sore hingga malam hari saja.

"Sumur-sumur sudah kering. Jadi bagi yang tak punya duit, mau tak mau ambil airnya ke dalam hutan," kata Hariman.

Berbagi air dengan sapi dan kerbau

Tak jauh beda dengan apa yang dialami masyarakat di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Kekeringan juga memaksa mereka untuk rela berbagi air dengan hewan ternak seperti sapi dan kerbau.

Fenomena ini berlangsung di Desa Reroroja dan Desa Magepanda, dua desa yang berada di sekitar pantai utara Kabupaten Sikka. Warga di dua desa ini, kini tak lagi memiliki air bersih, sumur-sumur yang mereka miliki sudah mengering sejak sebulan lalu.

Satu-satunya sumber air yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan minum, mandi, dan cuci hanya berasal dari Sungai Magepanda.

"Hanya di tempat ini yang masih ada airnya dan itu pun kami harus berbagi dengan ternak-ternak," kata Marsiadi, warga Desa Magepanda, Jumat 31 Juli 2015.

Memang, sapi dan kerbau tidak bakal memangsa mereka. Tapi, penyakit yang terkandung dalam kotoran hewan ternak itu, bisa saja mengancam jiwa mereka.

Setidaknya, bibit penyakit yang ada dalam kotoran hewan ternak bisa masuk ke tubuh mereka melalui air sungai yang tercemar kotoran sapi dan kerbau yang beraktivitas di sekitar sumber air.

Namun, Marsiadi menuturkan, warga tak lagi memikirkan apakah air yang mereka dapatkan di sungai itu bebas dari bibit penyakit yang mungkin saja dibawa ternak.

"Mau bagaimana lagi, pemerintah pernah bantu, sediakan pipa dan penampungan air, tapi airnya tidak ada," ujarnya.

Agar air yang didapatkan bisa dikonsumsi, warga berusaha melakukan penyaringan dengan cara menggali lubang yang dibatasi dengan tanah dan bebatuan kecil di sekitar sumber air.

Sementara hewan ternak dibiarkan berendam dan meminum air ke dalam aliran sungai. "Ternak juga butuh air, kita juga butuh air," katanya.

Berebut tetesan air di akar pohon

Masih dari Kabupaten Sikka. Kekeringan tak hanya melanda Desa Reroroja dan Desa Magepanda. Tapi juga melanda Desa Done.

Masyarakat di Desa Done masih kurang beruntung dibandingkan dua desa sebelumnya. Karena, di desa itu nyaris tidak ada lagi sumber air yang memancarkan air dari dalam tanah dan yang mengalir di permukaan tanah.

Aloysius Gehdo salah seorang warga Desa Dones menceritakan, masyarakat kini hanya mengandalkan tetesan akar pohon sebagai sumber utama air.

Mirisnya, air yang diteteskan dari akar pohon ke kubangan kecil sebagai penampung itu, didapatkan dengan cara yang tak mudah. Karena, masyarakat kerap harus saling berebut.

Aloysius Gehdo,  mengaku sumber air dari tetesan akar pohon tersebut sudah ada semenjak lama dan dimanfaatkan. Sebab, sejak 2013, meski di desa mereka telah dibangun penampungan air oleh pemerintah, namun tak bisa difungsikan.

"Sudah sejak belasan tahun kami gunakan air di tetesan pohon. Bak penampung di desa selalu kosong. Padahal, kami sudah dikutip uang Rp25 ribu per warga untuk pembangunannya," ujar Aloysius.

Kini, pemandangan antrean ratusan warga untuk mengambil air dari tetesan air menjadi aktivitas harian warga sekitar.

Demi menjaga ketersediaan, setiap warga dibatasi dua jerigen. Namun, bila tetap tak mencukupi, seluruh warga diharuskan menunggu hingga enam jam, agar air yang menetes dapat kembali mengisi kubangan.


Apa upaya pemerintah?

Presiden Joko Widodo mengimbau masyarakat tak khawatir soal kekeringan yang tengah terjadi. Pasalnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman terus berupaya mengatasi kekeringan yang melanda beberapa daerah di Indonesia.

"Memang alam seperti itu tetapi saya kira Mentan muter terus ke seluruh wilayah," kata Jokowi, Jumat 30 Juli 2015.

Jokowi mengatakan, Mentan saat ini tengah berupaya mengairi persawahan dengan cara memompa air ke lokasi yang memang membutuhkan. Cara ini diyakini Jokowi tepat untuk mengatasi kekeringan saat ini. "Saya kira tahapan yang paling cepat itu," kata dia.

Untuk jangka panjang, pemerintah akan membangun waduk embung (waduk berukuran kecil) yang akan dibangun di pelosok-pelosok. "Ada ribuan waduk mau kita bangun. Kecil-kecil tapi di semua tempat. Kuncinya kekeringan ada tampungan air," kata dia.

Jokowi mencontohkan Provinsi Nusa Tenggara Timur yang sudah puluhan tahun mengalami kekeringan. Program pembangunan embung salah satunya akan menyasar provinsi tersebut guna meningkatkan produktivitas pertanian.

"Kenaikan produksi ada kalau kita mau perbanyak waduk embung. Kuncinya di situ. Musim apapun El nino tampungan air ada, ya, sudah," kata Jokowi.

Rencananya kementerian pertanian akan menganggarkan Rp2 triliun untuk  pembangunan embung di seluruh Indonesia. Saat ini kementerian pertanian menyebut sudah menyiapkan pembangunan tersebut untuk lahan seluas 3,3 juta dari 8 juta hektar lahan tadah hujan.

Data kementerian pertanian menunjukkan 111.000 hektar lahan mengalami kekeringan sepanjang Januari-Juli 2015. Gagal panen atau puso bahkan terjadi pada 8.000 hektar lahan. Jumlah tersebut diklaim berkurang dibandingkan musim kekeringan pada periode yang sama tahun 2014, yaitu 200.000 hektar lahan mengalami kekeringan dan 35.000 hektar lainnya puso.

Tofik Koban/NTT dan Unggul Fahmi/Sumut
 
 

Tidak ada komentar: