BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Kamis, 08 Oktober 2015

Inilah Penguatan Rupiah Terbesar Sepanjang Enam Tahun Terakhir

 Jpnn
JAKARTA - Kemarin nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) mencatat penguatan harian terbesar sepanjang enam tahun terakhir.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan, penguatan tajam rupiah dalam tiga hari terakhir tak lepas dari dorongan kombinasi faktor eksternal dan internal. ''Itu memicu pembalikan modal dari AS ke emerging markets, termasuk Indonesia,'' ujarnya di Kantor Presiden kemarin (7/9).
Sebagai gambaran, dalam dua hari terakhir saja, ada USD 82 juta dana tambahan yang dialokasikan manajer investasi asing ke pasar modal Indonesia. Menurut Mirza, faktor eksternal terkait melemahnya recovery perekonoian AS yang lantas meredam isu kenaikan suku bunga Bank Sentral AS atau The Fed, memicu penguatan mata uang global terhadap USD.
''Investor atau spekulan yang tadinya memegang dolar sudah mulai melakukan cut loss (jual rugi),'' katanya.
Sementara itu, dari internal, Mirza menyebut rilis paket kebijakan ekonomi oleh pemerintah mendapat respons positif pasar. Reformasi struktural itu, diyakini dalam jangka menengah panjang akan menurunkan inflasi dan meningkatkan suplai valas di dalam negeri. ''Makanya orang mulai jual dolar yang sebelumnya ditumpuk untuk spekulasi,'' ucapnya.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Offered Rate (Jisdor) yang dirilis BI menunjukkan, kemarin rupiah ditutup di level 14.065 per USD, menguat signifikan hingga 317 poin dibanding penutupan hari sebelumnya yang di posisi 14.382 per USD. Level 14.065 per USD tersebut merupakan yang terkuat sejak 31 Agustus 2015 lalu.
Sementara itu di pasar spot, rupiah sudah menguat lebih tajam. Data Bloomberg menunjukkan, kemarin rupiah langsung dibuka menguat di level 14.179 per USD dari penutupan sebelumnya di 14.241 per USD.
Setelah itu, rupiah tak sekalipun melemah, hingga mencatat level terkuat di 13.711 per USD, sebelum akhirnya ditutup pada sore kemarin di level 13.821 per USD, atau menguat 2,95 persen.
Penguatan tersebut menempatkan rupiah di posisi kedua mata uang di kawasan Asia Pasifik yang berhasil menaklukkan USD. Kemarin, USD memang babak belur akibat larinya dana investor dari Negeri Paman Sam.
Malaysia mencatat penguatan harian 3,51 persen atau yang terbesar sepanjang 17 tahun terakhir. Dari 13 mata uang utama di Asia Pasifik, hanya dolar Australia dan dolar New Zealand yang gagal membukukan penguatan terhadap USD.
Mirza mengatakan, aliran modal yang kembali ke Indonesia membuat situasi pasar keuangan dan pasar modal kian kondusif. Tak hanya rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menguat, namun juga di pasar Surat Utang Negara (SUN). Dia menyebut, yield atau imbal hasil SUN yang sebelumnya sempat mendekati level 10 persen, kemarin sudah turun tajam ke kisaran 8,7 persen.
''Ini sangat bermanfaat karena berarti biaya utang pemerintah turun,'' jelasnya. Namun, penguatan rupiah ini juga harus dibayar mahal. Sejak tekanan bertubi-tubi dalam satu bulan terakhir, BI terus berjibaku meredam anjloknya rupiah dengan melakukan operasi moneter di pasar uang. Akibatnya, cadangan devisa pun langsung terkuras.
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara mengungkapkan bahwa BI mencatat posisi cadangan devisa Indonesia akhir September 2015 senilai USD 101,7 miliar. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan posisi cadangan devisa akhir Agustus 2015 senilai USD 105,3 miliar.
"Perkembangan tersebut disebabkan oleh penggunaan cadangan devisa dalam rangka pembayaran utang luar negeri Pemerintah dan dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah," ujarnya di Jakarta, Rabu (7/10).
Tirta menuturkan penurunan tersebut sejalan dengan komitmen Bank Sentral yang telah dan akan terus berada di pasar untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya guna mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Dengan perkembangan tersebut, lanjutnya, posisi cadangan devisa per akhir September 2015 masih cukup membiayai 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. "Cadangan devisa saat ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," tambahnya.
Otoritas moneter menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. (owi/dee/wir/dim/gen)

Tidak ada komentar: