BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Rabu, 25 Juni 2014

Di Balik Naik dan Turunnya Popularitas Dua Capres

Oleh  | Newsroom Blog – Sel, 24 Jun 2014

Persaingan Prabowo dan Jokowi dalam meraih kursi kepresidenan semakin ketat, malah Prabowo bisa saja menjadi kandidat favorit dengan peluang besar untuk menjadi presiden Indonesia berikutnya, sesuatu yang tidak terbayangkan sebulan lalu. 

Peneliti Program Asia Timur untuk Lowy Institute for International Policy Aaron L Connelly dalam tulisannya, “Indonesian election: Prabowo now the favourite”, mengatakan, bahwa Prabowo mengejar ketertinggalannya dari Jokowi. Jika persaingan kedua kandidat capres ini betul-betul ketat, maka Prabowolah pihak yang diuntungkan. 

Alasannya, menurut Connelly, pemimpin partai di tingkat lokal yang sampai sekarang “main dua kaki” akan langsung melompat ke gerbong Prabowo yang kini mendapat momentum. Begitu juga dengan para pengusaha yang akan memilih untuk menyumbang pada mesin kampanye Prabowo (yang sebenarnya tak kekurangan uang). 

Connelly juga bertanya kenapa tiga lembaga survey yang biasanya menjadi referensi karena angka-angkanya yang akurat — CSIS, SMRC, dan Indikator — belum mengeluarkan hasil polling yang dilakukan dengan metode wawancara tatap muka mengenai dua kandidat capres dalam sebulan terakhir. 

Menjawab pertanyaan Yahoo Indonesia lewat email, Connelly mengatakan bahwa, “Sangat tidak biasa bagi lembaga polling terkemuka di negara manapun jika mereka tidak mengeluarkan hasil jajak pendapat pada sebulan menjelang pemungutan suara. Wawancara telepon tidak akan memberikan hasil akurat di Indonesia, karena berbagai faktor sosial ekonomi, jadi wawancara tatap muka adalah satu-satunya cara untuk mendapat gambaran akurat soal kondisi persaingan dua kandidat.”

Dalam tulisannya, Conelly menduga bahwa fakta ketiganya terafiliasi dengan kubu Jokowi bisa jadi salah satu alasan mereka ‘diam’. Tetapi ia juga mempertimbangkan kemungkinan bahwa lembaga-lembaga survey ini menahan diri untuk mengeluarkan angka polling yang sebenarnya menunjukkan popularitas Prabowo terus menanjak naik. 

“Apakah lembaga-lembaga ini menahan hasil jajak pendapat yang menunjukkan kenaikan popularitas Prabowo yang lebih tinggi dari yang sebelumnya dilaporkan?”

“Mungkin mereka berasumsi bahwa jika mereka menunjukkan hasil polling yang sangat ketat atau dengan Prabowo memimpin, maka partai di tingkat daerah akan berlomba untuk menyatakan dukungan untuk Prabowo. Kader Golkar di tingkat provinsi dan kabupaten sudah diinstruksikan untuk mendukung Prabowo, sesuai afiliasi resmi Golkar, tapi mereka sering merasakan kedekatan kuat dengan cawapres Jokowi, mantan ketua partai, Jusuf Kalla. Banyak yang, jika melihat hasil polling yang tak positif, akan memilih untuk naik gerbong kemenangan sebelum terlambat. Dalam persaingan yang ketat, mesin partai Golkar bisa menjadi kunci kemenangan.”

Selain itu, ada juga faktor bahwa Prabowo memenangkan ‘perang media televisi’. Dua stasiun televisi besar yang bisa menjangkau 40% pemirsa mendukung Prabowo, sementara MetroTV yang mendukung Jokowi hanya punya jangkauan pemirsa 2%. 

Kami menanyakan lebih lanjut pada Aaron Connelly tentang alasan di balik naiknya popularitas Prabowo sebagai kandidat capres dan turunnya popularitas Jokowi dalam wawancara via email di bawah ini. 

Y(ahoo): Bagaimana Prabowo bisa meraih dan mempertahankan momentum popularitasnya? Anda menyebut soal kampanye Prabowo dengan pendanaan tak terbatas dan cara dia menguasai saluran televisi, tapi apa ada faktor lain? 

Aaron Connelly (AC): Selain kampanyenya berdana besar dan tertata rapi, Prabowo juga menawarkan narasi yang menggambarkan Indonesia sebagai korban dari kekuasaan asing yang tak bernama. Kekuasaan asing ini digambarkan berkolusi dengan elite di Jakarta untuk memeras kekayaan nasional. Narasi ini bukannya tak punya cacat, tapi jelas-jelas menyentuh banyak orang Indonesia. Prabowo meyakinkan banyak orang bahwa hanya dia yang bisa menyelamatkan Indonesia dengan menerapkan sikap “tegas” dan tak banyak omong kosong. 

Y: Jika pemilu digelar tiga bulan lalu, Jokowi mungkin akan menang, tapi, dalam opini Anda, apa yang terjadi dalam tiga bulan terakhir sehingga Jokowi kehilangan popularitasnya? Tidakkah PDIP belajar dari hasil pemilu legislatif yang tak sesuai harapan?

AC: Lagi-lagi, ini adalah peran kampanye media dan pendanaan, tapi yang terutama adalah tim Jokowi lambat bergerak setelah dari pemilu legislatif, salah satu sebabnya adalah ada banyak sekali perdebatan internal dalam PDIP sendiri tentang arah kampanye. Sementara PDIP sibuk meredakan perdebatan internal mereka pada April dan Mei lalu, Prabowo dan timnya membangun koalisi dari partai-partai politik yang mesin dan dominasi medianya tak tersaingi. Pada periode tersebut, mereka menggambarkan Jokowi sebagai sosok yang tak punya ide untuk memajukan Indonesia. Saat tim Jokowi mulai memberikan gambaran akan sosoknya, itu sudah terlambat. 

Saya tidak tahu apakah kubu PDIP belajar tentang hasil pemilu legislatif yang mengecewakan, tapi Megawati dan Puan terus-terusan mengecilkan peran Jokowi dalam partai saat pidato-pidato publik. Ini membuat orang berpikiran bahwa Jokowi akan merujuk ke Megawati saat menjabat presiden nanti, daripada dia sebagai pemimpin Indonesia dengan visi dan misinya sendiri. Tentu ini melukai posisinya di hadapan pemilih. 

Y: Dalam tulisan, Anda juga menyebut soal Prabowo yang menganggap Jokowi sebagai kelas bulu soal kebijakan dan citra Jokowi tak pernah pulih dari posisi itu. Padahal, dalam tiga debat capres, Jokowi menunjukkan dirinya sebagai seseorang dengan kemampuan untuk mengomunikasikan ‘isu besar’ sementara Prabowo seolah tak punya visi dengan terus-terusan menyebut retorika ‘anggaran bocor’. Apakah menurut Anda penampilan Jokowi dalam debat-debat tersebut tak berpengaruh pada reputasinya?

AC: Jokowi memang menunjukkan dirinya punya pengetahuan mendetail soal kebijakan saat debat-debat tersebut, tapi penampilannya juga menunjukkan bahwa dia sangat kurang dalam kemampuannya berorasi. Sikap positif Jokowi seperti kesederhanaannya, kemampuannya mendengarkan, dan keramahannya, memang menjadi kekuatan saat ia melakukan ‘blusukan’ tapi tidak saat debat. Pada debat, jawaban singkat dan menohok lebih mengesankan buat pemilih. Fokus Prabowo pada beberapa pesan kunci, yang terus-terusan ia ulang, adalah strategi debat yang efektif. 

Tidak ada komentar: