BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Minggu, 29 Juni 2014

Pastika: Prabowo Punya Pengetahuan Luas Karena Kutu Buku

 Jpnn
JAKARTA - Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika memiliki cerita sendiri. Pastika yang juga teman seangkatan Prabowo ini mengatakan, temanya yang sat ini menjadi Capres tersebut adalah sosok yang kutu buku.
Hal ini disaksikan langsung oleh Pastika saat menunggu pesawat sepulang pendidikan di Australia, saat pendidikan dulu.
Pastika dan rekan-rekannya memilih tidur sementara Prabowo asyik membaca buku."Prabowo ini kutu buku, berbagai macam buku dia baca. pengetahuannya sangat luas, bahkan dia selalu memberi buku kepada anak buahnya," kata Pastika saat memberikan sambutan di Lapangan Lumintang, Denpasar, Bali, Sabtu (28/6).
Pastika meyakini sosok Prabowo adalah sosok yang tepat untuk memimpin Indonesia ke depan. Karena Prabowo adalah sosok pemimpin yang benar-benar mencintai Indonesia, punya kapasitas, ketegasan, wibawa serta matang dalam mengambil keputusan.
Lain Pastika lain pula cerita Mayjen  TNI (Purn) Tono Suratman, mantan Asisten Operasi Panglima TNI.
Tono adalah teman seangkatan dengan Prabowo di Akademi Militer. “Selain itu, saya anak buahnya di Kopassus ketika bertugas di daerah operasi seperti Timor Timur (Timor Leste) dan Irian Jaya (Papua),” kata Tono, Sabtu (28/6)

Dia menceritakan Prabowo merupakan komandan kompi, sedang dirinya adalah komandan peleton saat bertugas di Timor Timur tahun 1978.

Dia mengatakan saat itu, dia mengalami kepemimpinan Prabowo yang langsung turun ke bawah. “Face to face leadership. Setiap ada kontak senjata, dia selalu bersama kami,” kata Tono.

Satuan tugas Rajawali pernah dibentuknya sebagai tim kecil yang efektif untuk melumpuhkan musuh. Tim itu berhasil ketika di Timor dan membantu operasi pembebasan para sandera pada peristiwa penculikan di Mapenduma, Papua.

Saat berhasil menangkap tokoh Fretilin, Nicolau Lobato tahun 1978, selain mendapat kenaikan pangkat istimewa, Prabowo juga berhak atas penghargaan Bintang Sakti. Namun dia meminta Bintang Sakti itu diberikan ke beberapa anak buahnya.

“Begitu sayang pada anak buah pada tahun 1995 dia membuat program sekolah ke luar negeri bagi 150 perwira muda yang pintar,” kata Tono.  Mereka dikirim ke beberapa universitas terkenal di Australia, Amerika Serikat dan Inggris.

Tono menceritakan dalam berbagai kesempatan,Prabowo mengajarkan bagaimana seorang pemimpin selain bisa bersikap adil tapi juga harus bisa menyejahterakan.

“Dia tak pernah menjelekkan orang lain dan atasannya. Dia teladan dan contoh bagi kami,” kata Tono. (jpnn)

Tidak ada komentar: