BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Kamis, 26 Juni 2014

Soal Alutsista, Presiden SBY: Indonesia Menuju Kemandirian Industri Pertahanan

Oleh : DESK INFORMASI

Saat memberikan sambutan pada pelantikan 453 calon perwira remaja (Capaja) untuk menjadi perwira TNI, di Lapangan Dirgantara, AAU, Yogyakarta, Kamis (26/6) pagi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga menyinggu upaya peningkatan postur dan kemampuan tentara, termasuk penambahan, dan modernisasi sistem persenjataan dan alat perlengkatannya.
Presiden menyebutkan, kehadiran para lulusan perwira remaja, sangat penting pada saat negara tengah meningkatkan postur dan kemampuan tentara, termasuk penambahan, dan modernisasi sistem persenjataan dan alat perlengkatannya.
"Hal ini kita laksanakan agar TNI selalu siap dan memiliki kemampuan yang makin tinggi dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI," tandas Presiden SBY.
TNI, kata Presiden, harus mampu menghadapi berbagai ancaman, baik yang tradisional maupun yang non-tradisional, termasuk persiapan memasuki peperangan modern yang sarat dengan teknologi yang canggih.
Alutsista
Menurut Presiden SBY, dalam sepuluh tahun terakhir, disamping modernisasi alutsista (alat utama sistem persenjataan), sarana, prasarana, pemerintah juga meningkatkan pofesionalisme, dan kecakapan para prajurit, dan kesejahteraannya.
Para perwira TNI, kata Presiden, dituntut untuk makin cerdas, terampil dan adaptif, terhadap trend terkini, termasuk revolusi di bidang militer yang berlangsung dalam tiga dekade terakhir ini.
Selama kurun waktu tersebut, kata Presiden, Indonesia menggunakan industri pertahanan nasional menuju kemandirian industri pertahanan negara kita.  “Indonesia memiliki kebijakan yang jelas, alutsista dan peralatan militer yang telah dapat diproduksi di dalam negeri wajib kita adakan sendiri,” ungkapnya.
Presiden SBY yang didampingi Ibu Negara Hj. Ani Yudhoyono menyebutkan, saat ini rakyat menyaksikan berbagai peralatan alutsista modern, baik untuk kepentingan Angkatan Darat, Angkatan Laut maupun Angkatan Udara telah diproduksi oleh industri pertahanan kita sebagai karya putra-putri bangsa yang membanggakan.
Selain itu, dalam lima tahun terakhir, kata Presiden, Indonesia telah berhasil membangun prasarana pendidikan dan pelatihan multi tujuan,yaitu Pusat Perdamaian dan Keamanan Indonesia atau Indonesia Peace and Security Center  (IPSC) di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

“IPSC mendidik, melatih, dan mempersiapkan personel kesatuan TNI untuk mengemban tugas-tugas konvensional dan sekaligus tugas-tugas operasi militer selain perang,” ujar SBY.
Ia menyebutkan, di kawasan IPSC Sentul, juga berdiri kampus Universitas Pertahanan, dan enam pusat pendidikan dan pelatihan yang lain, diantaranya pusat pemeliharaan perdamaian, melawan terorisme, dan pennggulangan bencana, yang kesemuanya itu dimaksudkan untuk membekali personel TNI sebagai kekuatan negara yang handal.

"Tentara kita harus terlatih dalam menggunakan senjata dan peralatan militer, berlatih, bermanuver dengan taktik secara baik. Juga personel TNI akan terdidik dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, serta dipersenjatai dengan alutsista yantg makin anggih," kata SBY.
Namun Presiden SBY menegaskan bahwa Indonesia tidak bermauksud mengembangkan kekuatan milter yang agresif.  “Bangsa Indonesi adalah bangsa cinta damai. Meskipun begitu, keutuhan dan kedaulatan NKRI adalah harga mati,” tegas SBY seraya mengemukakan, Indonesia hanya ingin TNI memiliki kekuatan yang tangguh, yang mampu menjaga tegaknya kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI, mampu menuingkatkan sumbangsihnya dalam operasi pemiliharaan perdamaian dunia , serta mampu melaksanakan berbagaia operasi militer selain perang di seluruh pelosok Indonesia.
Pelantikan para perwira remaja TNI itu juga dihadiri antara lain Panglima TNI Jendral Moeldoko, Menhankam Purnomo Yosgiantoro, Mensesneg Sudi Silalahi, Seskab Dipo Alam, para Kepala Staf TNI, dan Kapolri Jendral Sutarman.
(AK/SA/Humas Setkab/ES)

Tidak ada komentar: