BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Kamis, 28 Juni 2012

Jika Lebih Diperhatikan, Industri Penerbangan Indonesia Menjanjikan

Prins David Saut - detikNews

Jakarta Pertumbuhan industri penerbangan di Indonesia cukup pesat. Namun pemerintah dinilai kurang memperhatikan industri penerbangan yang bisa menjanjikan tersebut.

"Itu realita, itu terlihat sekali banyak orang asing jadi pilot dan teknisi. Ini berbahaya, nanti tenaga muda kita tidak tersalur dan manajemen industri penerbangan nantinya tidak mudah sesuai keinginan pemerintah. Karena tenaganya berasal dari negara luar," kata pengamat transportasi udara, Chapy Hakim, pada detikcom, Rabu (27/6/2012).

Menurut Chapy, kendala sedikitnya sekolah penerbangan di Indonesia karena biaya operasional yang harus ditanggung cukup besar tanpa bantuan pemerintah. Sehingga pemerintah dinilai harus segera memberikan kemudahan pengadaan sekolah penerbangan.

"Yang pertama harusnya bergerak itu pemerintah melalui Kemenhub harus bisa merangsang pihak swasta memberikan kemudahan mengadakan sekolah penerbangan. Karena saya dengar peminat banyak tapi pesawat latih tetap ditarik pajak jadi itu salah satu orang tidak minat buka sekolah penerbangan," terang Chapy.

Chapy mengingatkan pertumbuhan industri penerbangan di Indonesia diikuti oleh pertumbuhan kesejahteraan di Asia Pasifik. Sehingga jika tidak dimanfaatkan dengan baik, Indonesia akan kehilangan kesempatan.

"Pertumbuhan kesejahteraan sekarang pindah ke kawasan Asia Pasifik, sementara banyak infrastruktur penerbangan kita belum dapat memenuhi tuntutan pertumbuhan yang terjadi. Di area negara kita ini, bisa menjadi market yang menggiurkan sekarang. Kalau kurang digunakan dengan baik, kita akan kehilangan momentum," ujar mantan Kepala Staff TNI Angkatan Udara tersebut.

Chapy menyayangkan pemerintah kurang menanggapi serius pertumbuhan industri penerbangan Indonesia. Padahal jika ada kebijakan strategis dari pemerintah untuk industri ini, maka dapat menjanjikan banyaknya lapangan pekerjaan.

"Karena tidak ada kebijakan pemerintah yang berpihak pada pertumbuhan ini dan tidak diikuti kebijakan yang tepat. Hal ini tampak dari infrastruktur dan SDM-nya yang kurang diperhatikan. Sekolah penerbangan jika diperhatikan dengan baik, akan memberikan dampak yang bagus, karena dapat membuka lahan pekerjaan yang cukup besar," tutup Chapy.

Sebelumnya, pemerintah tengah berusaha untuk menambah pilot, teknisi serta petugas Air Traffic Control (ATC). Penambahan ini untuk mendukung kebutuhan pilot dan ATC yang semakin mendesak. Indonesia sendiri hanya punya 13 sekolah khusus pilot, ada juga 18 sekolah umum namun masih berkaitan dengan dunia penerbangan. Padahal untuk mendukung kebijakan ASEAN Open Sky 2015, Indonesia perlu 4 ribu pilot, 7.500 teknisi dan 1.000 petugas ATC.

Tidak ada komentar: