BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Jumat, 01 Juni 2012

Pancasila yang (Tak) Terlupakan

VIVAnews - Saat hari menjelang maghrib, puluhan pemuda dan beberapa orang tua di Perum Bhakti Persada Indah (BPI), Ngaliyan, Semarang, terlihat sibuk di jalan. Bukan kongko-kongko. Di tengah jalan itu mereka mendirikan  panggung untuk pertunjukkan wayang kulit.

Begitulah cara warga di perkampungan IAIN Walisongo ini menyiapkan perayaan hari lahirnya Pancasila, 1 Juni. "Ini adalah perayaan ketujuh secara berturut-turut," kata seorang warga.

Ketua Panitia perayaan Bambang Husodo mengatakan, sebenarnya perayaan ini merupakan salah satu bentuk kampanye Pancasila. Kampanye ini dipandang perlu karena semakin hari penerapan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari semakin menipis.

Apalagi saat ini mulai muncul gerakan antipluralisme. Padahal keberagaman dan perbedaan hakekatnya adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa. "Jadi memaksakan kehendak seperti terjadi akhir-akhir ini merupakan pengkhianatan terhadap religiusitas bangsa," kata Bambang.

Jika Pancasila benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tak ada penyapuan tempat hiburan dan pelarangan konser musik. Bambang merasa pemerintah sepertinya melupakan kampanye Pancasila. "Jika kita lihat, sangat sedikit anak-anak muda sekarang yang paham tentang sejarah Pancasila."

Wayang kulit adalah salah satu kegiatan yang terus digelar dalam perayaan kesaktian Pancasila. Sudah tujuh tahun berturut-turut, mereka tak pernah absen. "Banyak anak-anak SD yang menunggu momentum ini."

Dalam perayaan malam ini, warga menampilkan Ki Ruspadi Guna Carito, dalang wayang kulit yang juga warga setempat. Adapun lakon atau cerita yang ditampilkan adalah Antasena Cancut.

Lakon tersebut menceritakan sepak terjang Antasena, putera Bima dengan Dewi Nagagini yang gelisah menyaksikan perilaku para pejabat negara Astina dan rakyatnya. Antasena berusaha mengembalikan mereka ke jalur ideologi berbangsa yang mereka yakini.

Begitulah, ternyata di tengah sunyi perayaan hari kesaktian Pancasila, masih ada yang peduli. Meski itu berasal dari kampung kecil, berjarak 15 km dari pusat kota Semarang. (eh)

Tidak ada komentar: