INILAH.COM, Jakarta - Sekitar 100 orang mantan pengurus
dan aktivis Partai Demokrasi Indonesia(PDI) periode 1986-1997 unjuk
gigi. Mereka berkumpul dalam acara temu kangen sekaligus mengkritisi
jalannya pemerintahan di era reformasi yang diakui mengalami
penyimpangan dari cita-cita Proklamasi 17 Agustus dan Pancasila 1 Juni
1945.
“Kita berkumpul karena keprihatinan mencermati perkembangan bangsa ini, Pancasila sudah tercabik-cabik,” ungkap mantan Wakil Sekjen DPP PDI sekaligus ketua panitia acara itu, H Dimmy Haryanto berapi-api di Jakarta, Kamis (6/6/2013).
Selain temu kagen, acara itu juga mendengarkan orasi politik dari politisi senior Partai Golkar Siswono Yudhohusodo. "Bangsa kita sedang mengalami kemerosotan luar biasa dalam berbagai bidang," tegasnya.
Menurut dia, perkembangan politik sejak tahun 1986 sampai tahun 1997 bergerak dengan cepat dan berubah pesat. Terjadi perubahan baik ada negatifnya maupun positifnya.
“Kita memang miris dan prihatin. Pemahaman arti berpolitik diartikan semata-mata meraih kekuasaan termasuk dengan menghalalkan segala cara,” ujar siswono.
Pada kesempatan itu, Edwin Henawan Soekawati memaparkan perjalanan bangsa Indonesia sejak lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 sampai ke era reformasi, 1998. Lahirnya rezim orde baru tahun 1966 kata dia adalah koreksi total pelaksanaan pemerintahan orde lama yang dipimpin Presiden Soekarno. Tujuannya melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekwen.
“Faktanya bagaimaina, keadaan bukan semakin membaik, tetapi justru terjadi peyimpangan-penyimpangan,”kata Edwin.
Lahirnya reformasi tahun 1998 pun kata dia merupakan koreksi pelaksanaan pembangunan yang dijalankan penguasa Orde Baru. Kenyataannya juga tidka jauh berbeda. Bahkan lebih parah, karena di masa ini UUD 1945 diamandemen sampai 4 kali.
“Terjadi degradasi pada nilai-nilai Pancasila, yang seharusnya bias menjadi idiologi mayoritas,”kata Edwin.
Keadaan yang dialami bangsa sekarang ini menurut dia tidak ubahnya seperti VOC masuk ke Indonesia di masa lalu.
Acara kumpul para mantan pengurus dan aktivis PDI ini rencananya mau dilembagakan dan akan dibuat pertemuan setahun sekali.
Tokoh-tokoh PDI yang hadir itu seperti Fatimah Achmad, Panangian Siregar, Markus Wauran, Haryanto Taslam, Edwin Henawan Soekawati, Clara Sitompul, Untung Sutomo, Sjafei Ali Gumay, Alex Asmasoebrata, Audi IZ Tambunan, Narwan Hadi, Ratna Purnami, Parlin Sitorus, dan Patmono Sk. Tokoh PDI dari Aceh, Sumut, Jabar, Jatim dan Sumsel juga ikut hadir. [ton]
“Kita berkumpul karena keprihatinan mencermati perkembangan bangsa ini, Pancasila sudah tercabik-cabik,” ungkap mantan Wakil Sekjen DPP PDI sekaligus ketua panitia acara itu, H Dimmy Haryanto berapi-api di Jakarta, Kamis (6/6/2013).
Selain temu kagen, acara itu juga mendengarkan orasi politik dari politisi senior Partai Golkar Siswono Yudhohusodo. "Bangsa kita sedang mengalami kemerosotan luar biasa dalam berbagai bidang," tegasnya.
Menurut dia, perkembangan politik sejak tahun 1986 sampai tahun 1997 bergerak dengan cepat dan berubah pesat. Terjadi perubahan baik ada negatifnya maupun positifnya.
“Kita memang miris dan prihatin. Pemahaman arti berpolitik diartikan semata-mata meraih kekuasaan termasuk dengan menghalalkan segala cara,” ujar siswono.
Pada kesempatan itu, Edwin Henawan Soekawati memaparkan perjalanan bangsa Indonesia sejak lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 sampai ke era reformasi, 1998. Lahirnya rezim orde baru tahun 1966 kata dia adalah koreksi total pelaksanaan pemerintahan orde lama yang dipimpin Presiden Soekarno. Tujuannya melaksanakan Pancasila secara murni dan konsekwen.
“Faktanya bagaimaina, keadaan bukan semakin membaik, tetapi justru terjadi peyimpangan-penyimpangan,”kata Edwin.
Lahirnya reformasi tahun 1998 pun kata dia merupakan koreksi pelaksanaan pembangunan yang dijalankan penguasa Orde Baru. Kenyataannya juga tidka jauh berbeda. Bahkan lebih parah, karena di masa ini UUD 1945 diamandemen sampai 4 kali.
“Terjadi degradasi pada nilai-nilai Pancasila, yang seharusnya bias menjadi idiologi mayoritas,”kata Edwin.
Keadaan yang dialami bangsa sekarang ini menurut dia tidak ubahnya seperti VOC masuk ke Indonesia di masa lalu.
Acara kumpul para mantan pengurus dan aktivis PDI ini rencananya mau dilembagakan dan akan dibuat pertemuan setahun sekali.
Tokoh-tokoh PDI yang hadir itu seperti Fatimah Achmad, Panangian Siregar, Markus Wauran, Haryanto Taslam, Edwin Henawan Soekawati, Clara Sitompul, Untung Sutomo, Sjafei Ali Gumay, Alex Asmasoebrata, Audi IZ Tambunan, Narwan Hadi, Ratna Purnami, Parlin Sitorus, dan Patmono Sk. Tokoh PDI dari Aceh, Sumut, Jabar, Jatim dan Sumsel juga ikut hadir. [ton]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar