BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Sabtu, 30 November 2013

Dokter-dokter Inspiratif, Mengabdi Tanpa Harap Materi

VIVAnews - Sore itu, pelataran parkir rumah nomor 27 di Jalan Yap Tjwan Bing, Purwodiningratan, Jagalan, Solo, sedikit lengang . Hanya ada dua mobil, tiga becak, dan beberapa sepeda motor yang rapi "berbaris". Pada dinding di ruang tunggu rumah itu, tampak  papan yang berisi tulisan jadwal praktik si pemilik.
Ya, si pemilik rumah ini adalah seorang dokter. Namanya dokter Lo. Dalam ruang tersebut tersedia pula tiga bangku panjang. Tempat sejumlah orang duduk menunggu. Dokter baik hati ini sudah lama buka praktik di situ. Dia dikenal banyak orang di situ, juga kebaikannya. 
Buka praktik berpuluh tahun, nama dokter yang satu ramai dibicarakan media sosial sepekan belakangan, ketika kontroversi soal kasus dokter Ayu, yang divonis Mahkamah Agung, karena terbukti melakukan malapraktik atas seorang pasien di Manado, riuh di media massa.
Vonis itu memicu gelombang protes dari ribuan dokter di seluruh Indonesia. Keputusan atas Ayu itu, protes para dokter ini, adalah bentuk kriminalisasi terhadap para dokter. Kini mereka mengajukan Peninjauan Kembali (PK) atas keputusan mahkamah itu. 
Di tengah kontroversi soal ini, sejumlah orang yang aktif di media sosial, mempromosikan dokter-dokter yang mengabdi dengan susah payah. Bahkan tanpa pamrih. Yang menjelaskan betapa profesi ini begitu dekat dengan kematian tapi terutama kehidupan. Dan dokter sepuh di Solo itu adalah salah satunya.
Warga sekitar, juga para pasien yang mengular, mengenalnya sebagai dokter yang senantiasa tulus menolong. Di rumahnya itu, dia membuka klinik tanpa memasang tarif sepeser pun kepada pasien.
Lo Siauw Ging itu, begitu nama lengkap dokter ini, memang selalu kebanjiran pasien. Tidak semua membayar jasa baiknya itu. Dari 60 pasien yang datang setiap hari, hanya 30 persen saja yang membayar. “Prinsip saya memang untuk menolong. Kalau yang punya mau bayar ya silakan, kalau nggak ya nggak apa-apa. Karena saya tidak pasang tarif,” ujar pria kelahiran Magelang ini saat ditemui di ruang praktiknya, Jumat, 29 November 2013.
Klinik dr. Lo buka setiap hari, kecuali hari libur. Dalam sehari, ia membuka dua jadwal praktik. Pukul 06.00-09.00 WIB dan pukul 16.00-20.00 WIB. Kliniknya selalu dipenuhi pasien. Tak hanya dari kalangan tak mampu, tetapi juga berduit.  Bahkan ada pula yang datang jauh-jauh dari Wonogiri hingga Pacitan.
Selain tidak memungut biaya pemeriksaan kesehatan, pria kelahiran 16 Agustus 1934 ini, memberikan obat secara gratis. Itu bisa dilakukan jika obat yang diresepkan tersedia di klinik. Kalau tidak ada maka pasien membeli sendiri obat ke apotek yang ditunjuk oleh dr. Lo.
Dokter Lo tidak menutup mata jika ada salah seorang pasiennya yang tidak mampu membeli obat di apotek.  Ia akan memberikan cap khusus di kertas resep. Dengan cap ini, apotek tidak menarik biaya dari pasien. Semua tagihan dibebankan kepada sang dokter. “Saya justru malah yang aktif menanyai pasien, ada uang tidak untuk membeli obat. Kalau tidak punya, biar nanti apotek menagih ke saya untuk biaya pembelian obat pasien tersebut,” ucapnya.
Menurut dr. Lo,  ia harus membayar tagihan obat dari apotek setiap bulannya sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta. Uang itu tak hanya berasal dari kantong pribadinya, melainkan juga sumbangan dari donatur. “Namun pastinya saya masih sering nombok untuk membayar tagihan itu,” kata suami dari Gan May Kwee.
Mantan pasien jadi donatur
Ada cerita menarik soal sosok para donatur pak dokter ini.  Rupanya, di antara para donatur itu ada mantan pasien dr.Lo. Saat masih kecil, pasien yang tidak disebutkan namanya itu beberapa kali dibawa oleh sang ibu ke klinik dr. Lo. Kondisi keluarga mereka ketika itu sangat miskin. Maka dr. Lo pun tulus membebaskan semua biaya pemeriksaan dan obat sang anak.
“Tetapi kini, pasien belia itu telah menjadi "orang" di Amerika. Mantan pasien itu saat ini menjadi donatur,” ujar anak ketiga dari lima bersaudara ini.
Sifat dermawan dr.Lo tersebut ternyata tak lepas dari pengaruh almarhum sang ayah. Sebelum dr.Lo muda masuk jurusan Kedokteran, Universitas Airlangga, sang ayah memberikan nasihat yang tidak pernah ia lupakan: Jika ingin menjadi dokter, jangan menjadi pedagang. Jika ingin mencari duit, jadilah seorang pedagang. “Pesan dari almarhum itu jelas artinya. Pokoknya jangan sampai cari duit dari dokter. Dokter itu bertugas untuk menolong,” ujar pria yang lulus dari Universitas Airlangga pada Februari 1962 ini.
Selain dari sang ayah, sikap dr. Lo juga terinspirasi dari almarhum dr. Oen yang merupakan dokter terkenal di Solo pada masanya. Selama 15 tahun mengenal dr. Oen, ia pun mengetahui benar sifat sederhana dan berjiwa sosial yang dimiliki dokter itu.
Keinginan dr. Lo untuk menjadi dokter dermawan semakin kuat ketika dia divonis terkena penyakit kuning kronis. Saat itu, ia masih bertugas menjadi dokter di Gunung Kidul. “Setelah mengalami penyakit parah sekali dan tertolong maka saya harus berbalas budi kepada Tuhan. Caranya ya membantu seperti ini dengan ikhlas,” ujar pria yang harus menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan ini.
Di mata warga sekitar, dr. Lo adalah sosok yang sangat sederhana dan ramah. Menurut Herwin, salah seorang tetangga, dr. Lo pernah membiayai seluruh perawatan korban tabrak lari. Biaya yang harus dikeluarkan mencapai sekitar Rp25 juta.
Sikapnya ini memberikan kesan mendalam bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kediamannya. Ketika kerusuhan tahun 1998, warga sekitar ikut mengamankan rumah dr. Lo yang merupakan keturunan Tionghoa dari amukan massa. “Saat kerusuhan terjadi, rumah dr. Lo aman-aman saja. Kami semua berjaga-jaga di depan dan atap rumah dr. Lo,” kata salah seorang warga, Turiman.
Dokter difabel
Selain dr.Lo, Solo juga memiliki dokter lainnya yang tak kalah menginspirasi. Bernama Maria Retno Setjawati, wanita kelahiran tahun 1959 ini, hidup dengan kondisi difabel.  Meski demikian, kondisi tersebut tak menghalangi Maria untuk menjadi seorang dokter.
Maria memasang tarif rendah untuk para pasien. Maklum, mayoritas pasien yang datang adalah mereka yang bermata pencaharian sebagai tukang becak, buruh, pedagang kaki lima. “Ya, kalau ada pasien periksa sama obat cuma bayar Rp15 - Rp25 ribu. Nanti kalau cuma periksa, tanpa obat, ya gratis,” kata dr. Maria.
Tak jarang, setiap hari Maria menerima pasien yang sama sekali tak membawa uang. Dia menggratiskan pemeriksaan dan biaya obat. “Lihat pakaiannya yang kumal saja, saya nggak tega,“ ujarnya.
Setiap hari, Maria menerima sekitar 40-50 pasien. Ia mulai praktik dari pukul 17-00-22.00 WIB. Namun, terkadang Maria membuka praktiknya hingga jelang tengah malam. [Baca selengkapnya: Maria, Dokter Difabel Pengabdi Kaum Pinggiran]
Pedalaman Kalimantan
Lahir dan dibesarkan di keramaian kota besar  seperti Bandung, menjadi dokter di pedalaman jelas jauh dari bayangan Rossy Tedjaningsih. Semuanya berawal dari tahun 2004 silam. Saat lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung, ia diwajibkan menjadi dokter pegawai tidak tetap (PTT) di Puskesmas Sungai Ayak, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.
Saat pertama kali bertugas, Rossy harus menerima kenyataan listrik hanya menyala dari sore sampai pagi. Baru sejak 2010, listrik menyala sepanjang hari. Kerap, di malam hari sekali pun, listrik mati. Rossy pun berkreasi, menyiapkan lampu darurat yang dibelinya di Kota Pontianak.
Setahun berjalan, tahun 2005, Rossy pun mengikuti penerimaan pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintahan Kabupaten Sekadau yang dimekarkan dari Kabupaten Sanggau. Rossy lulus serta bertugas di Sungai Ayak hingga sekarang. “Walaupun selalu saja dapat hambatan, akan tetapi hal itu tidak menjadi masalah bagi saya. Saya ikhlas dengan semua ini,” ujarnya.
Rossy sempat ditawari pindah ke kecamatan Teraju yang lebih maju kondisinya daripada Sungai Ayak. Namun tidak ada penggantinya di Sungai Ayak membuat dia bertahan. Maklum, Sungai Ayak ini susah dicapai dari pusat kabupaten.
Pelan-pelan, Rossy mengubah citra Puskesmas Sungai Ayak. Jika dulu tidak ada fasilitas rawat inap, Rossy pun menyediakannya. Kesan kumuh dan tak berpenghuni diubah dengan memberikan pelayanan yang lebih baik dan dengan hati. Kini, justru Puskesmas yang dipimpinnya menjadi favorit. Banyak warga kecamatan lain datang berobat karena fasilitas yang dimilikinya.
Pelayanan di rawat inap pada masa itu tentulah dikerjakan sendiri karena keterbatasan tenaga perawat, namun hal tersebut bukanlah halangan. Kini, fasilitas rawat inapnya juga menjadi favorit ibu-ibu yang hendak melahirkan. Sebagai seorang perempuan, Rossy tahu kebutuhan apa saja yang harus dilengkapi puskesmas agar ibu-ibu bersedia melahirkan di puskesmas.
Dan gebrakan Rossy mendapat apresiasi. Tahun 2009, Puskesmas Sungai Ayak menyabet juara I untuk kategori puskesmas terbaik se-Kalimantan barat. Pada 2011 lalu, Dr Rossy Tedjaningsih mewakili Kabupaten Sekadau sebagai kandidat dokter teladan tingkat provinsi.
Dan kemajuan Sungai Ayak bukan hanya pada pelayanan rumah sakit. Akses jalan yang tadinya susah dan sulit sekarang menjadi lancar. Sungai Ayak pun berubah jadi tujuan bagi tenaga kesehatan muda untuk bekerja. [Baca selengkapnya: Dokter Perempuan di Pedalaman Kalimantan]

Tidak ada komentar: