BERBUAT BENAR ADALAH KEHARUSAN, BERBUAT TIDAK BENAR ADALAH KETIDAK HARUSAN

Jumat, 29 November 2013

Maria, Dokter Difabel Pengabdi Kaum Pinggiran

VIVAnews - Belakangan ini dunia medis heboh dengan kasus kriminalisasi dokter Dewa Ayu Swasyari Prawani dari Manado. Belum lagi dengan aksi solidaritas yang dilakukan ribu dokter se-Indonesia untuk mogok melayani pasien. Di tengah hiruk pikuk tersebut, menarik untuk melihat kembali keberadaan dokter sebagai pengabdi masyarakat.

Adalah dokter Maria Retno Setjawati dari Solo. Perempuan paruh baya ini kerap dipanggil Dokter Maria. Wanita keturunan Tionghoa ini lahir di Solo tahun 1959 lalu. Maria memilih jalan hidup menjadi dokter. Pilihan itu sepertinya menjadi ‘balas dendam’ akibat penyakit polio yang menyerangnya saat berusia dua tahun.

“Saya ngin menjadi dokter karena melihat waktu dulu banyak yang kena folio. Saya ingin memberikan penyuluhan tentang imunisasi polio. Kenapa saat zaman dulu, masih banyak balita yang belum diuminisasi,“ jelas dia kepada VIVAnews, Kamis malam, 28 November 2013.

Keyakinannnya untuk menjadi dokter pun ditekuninya. Selepas lulus SMA Ursulin Solo, ia mendaftar kuliah di jurusan kedokteran UNS dan Undip. Sayangnya Maria tidak diterima di dua universitas tersebut.

“Kemudian saya mendaftar ke jurusan kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang sembari menunggu pembukaan pendaftaraan penerimaan mahasiswa baru tahun depannya. Teryata kuliah di Unissula sudah nyaman, jadinya saya keterusan kuliah di situ, tak jadi mendaftar lagi di UNS dan Undip,“ ujar Maria yang merupakan mahasiswa angkatan 1981.

Meski mengalami keterbatasan, Maria tak gentar dengan kondisinya. Walhasil ketekunan dan semangat kerja kerasnya membuahkan hasil. Ia menjadi satu di antara tiga mahasiswa yang lulus tercepat di tahun 1988.

“Tuhan sangat sayang sama saya. Karena saya selalu diberkahi orang-orang yang perhatian dengan saya. Makanya saya bisa lulus dengan cepat, meski dalam kondisi difabel,“ ungkapnya.

Usai lulus kuliah, Maria muda mulai terjun ke dalam dunia pengabdian kesehatan kepada masyarakat. Pada tahun 1990 - 1998, ia menjadi Kepala Puskesmas Manahan, Solo. Lantas tahun 1998 - 2008, ia menjadi Kepala Puskesmas Sangkrah. Kemudia tahun 2008 - 2009 kembali menjadi Kepala Puskesmas Manahan dan tahun 2012 sampai sekarang menjabat Kepala Puskesmas Gajahan.

Selama bergelut dalam dunia kesehatan, ternyata Maria lebih sering  bersentuhan dengan kaum pinggiran. Mulai dari masyarakat menengah ke bawah, PSK, para pecandu obat hingga penderita HIV/AIDS. Pada tahun 2008, Maria merintis Puskesamas Manahan menjadi klinik metadon atau kilinik untuk para pecandu obat.

Belum lagi, saat di Puskesmas Sangkrah, ia sering bersentuhan dengan para penderita HIV/AIDS ataupun para PSK. Maklum saat itu, di wilayah tersebut ada lokalisasi Silir.

“Kita sering melakukan tes pemeriksaan kesehatan Infeksi Menular Seksual (IMS), “ tuturnya.

Dedikasi pada kaum pinggiran tak berhenti di situ. Ia  membuka Balai Pengobatan Hati Bunda di Jalan Untung Suropati Nomor 14, Kedunglumbu, Pasar Kliwon, Solo atau tepatnya di sebelah timur jalan utama menuju Keraton Kasunanan Surakarta.

Balai Pengobatan ini didirikannya sejak tahun 1991. Bangunan sederhana di tepi jalan ini menjadi primadona bagi kalangan menengah ke bawah. Saban hari, balai pengobatan ini ramai dengan hiruk pikuk pasien yang ingin memeriksakan kesehatannya.

Pasiennya mulai dari tua, muda hingga Balita. Ditemani 3 karyawannya (administrasi, perawat dan asisten apoteker), Dokter Maria penuh dengan kesabaran untuk memeriksa para pasien tersebut.

Model pelayanan dokter Maria memang berbeda dibandingkan dokter lainnnya. Ia memasang tarif rendah hingga tarif sosial untuk pasiennya. Maklum mayoritas pasien yang datang adalah mereka yang bermata pencaharian sebagai tukang becak, buruh, pedagang kaki lima.

“Ya, kalau ada pasien periksa sama obat cuma bayar Rp15 - Rp25 ribu. Nanti kalau cuma periksa, tanpa obat, ya gratis. Saya itu kasihan melihat para pasien, yang memang mayoritas berasal dari kalangan menengah ke bawah. Bahkan kadang-kadang saya nggak tega untuk menaikkan tarif saat harga obat naik,“ jelasnya.

Dedikasi untuk sosial juga dilakukannya saat ada pasien yang sama sekali tidak membawa uang saat datang untuk periksa. Tak jarang, setiap hari Maria menerima pasien yang sama sekali tak membawa uang. Dia menggratiskan pemeriksaan dan  biaya obat.

“Sering ada pasien mau periksa terus bilang pada saya, nggak bawa uang. Lantas apa saya tega mau menagih si pasien untuk membayar. Lihat pakainnya yang kumal saja, saya nggak tega,“ ujarnya.

Saban hari, pasien dari Maria berkisar 40-50 pasien. Ia mulai buka jam praktek mulai pukul 17-00-22.00 WIB. Tetapi kadang Maria membuka prakteknya hingga menjelang tengah malam.

“Kalau memang masih ada pasien ya, paling nanti tutup di atas jam 22. 00 WIB,“ tutur Maria yang pernah mendapatkan penghargaan dalam perayaan Imlek tahun ini dari Perkumpulan Masyarakat Surakarta, sebuah orgnisasi masyarakat keturunan Tionghoa di Solo, karena dedikasi pengabdian sosial.

Maria bukannya tanpa halangan saat memilih untuk memasang tarif sosial tersebut. Suara sumbang justru dilontarkan oleh para teman seprofesinya yang menganggapnya tarif itu terlalu murah.
“Tapi saya cuek dengan perkataan mereka. Yang penting saya tiap hari bersyukur dan menjalani hidup ini layaknya air yang mengalir,“ ungkapnya dengan penuh senyum. (adi)

Tidak ada komentar: