Oleh: Iwan Purwantono
INILAH.COM, Jakarta - Nasib PT Alumunium Asahan Alumunium
(Inalum) ternyata belum 100% kembali ke tangan Indonesia. Memang tak
mudah menaklukan Konsorsium Jepang PT Nippon Asahan Alumunium (NAA).
Menteri
Perindustrian MS Hidayat mengungkapkan ‘mahar’ untuk mengembalikan
Inalum ke tangan Indonesia, belum menemui kesepakatan. Perundingan masih
terus berlangsung.
"Ya sedang negosiasi. Spiritnya kita ingin
menyelesaikan transaksi tanpa arbitrase. Yang bisa memakan waktu lama,"
ungkap Hidayat di Kantor Kementerian Perindustrian, Selasa (12/11/2013).
Meski
tak secara tegas menyebut alotnya proses negosiasi, Hidayat menyatakan
bisa saja perundingan berlangsung sampai tengah malam nanti. "Jadi
memang perlu terus bernegosiasi. Bisa juga sampai tengah malam ini. Nah,
besok saya bisa jelaskan hasilnya," ungkap politisi Golkar ini.
Dijelaskan
bahwa pemerintah memiliki dua opsi yaitu plan A dan plan B. Untuk plan A
berupa negosiasi tengah berjalan saat ini. Sedangkan plan B adalah
arbitrase. "Tetapi kita tahu bagaimana melunakkan Jepang. Kita tunggu
saja ya," ungkapnya.
Alotnya proses akusisi Inalum, memang dipicu
oleh perbedaan angka.Dalam hal ini, konsorsium Jepang NAA mematok harga
US$ 650 juta, kemudian diturunkan menjadi US$ 626 juta. Sedangkan
pemerintah Indonesia bersedia menggelontorkan dana US$ 424 juta.
Kemudian naik US$134 juta, menjadi US$558 juta. [hid]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar