JAKARTA - Proses
seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dari jalur honorer kategori
dua (K2) di Pemko Pematangsiantar terindikasi ada permainan. Sebanyak 26
honorer K2 tidak bisa mengikuti tes yang digelar Minggu (3/11) lantaran
tidak diakui oleh Pemko Siantar.
Pihak Badan Kepegawaian Negara (BKN)
Pusat pun berang. Pasalnya, 26 honorer K2 tersebut merupakan tenaga
honorer hasil luncuran dari honorer K1 yang berdasar hasil klarifikasi
tim pusat, mereka berhak menikuti tes CPNS dari jalur honorer K2.
Anggota Tim Pemantau Pelaksanaan Tes
CPNS wilayah Sumut yang dibentuk Kemenpan-RB, Tumpak Hutabarat
mengatakan, begitu mendapat data bahwa 26 honorer dimaksud tidak bisa
mendapatkan nomor tes, pada Sabtu pagi atau sehari jelang pelaksanaan
tes, dirinya langsung menelpon Sekda Kota Siantar Dover Panggabean,
Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Pariaman
Silaen, dan Kabag Humas Pemko Siantar, Daniel Siregar.
Namun, jawaban sekda dan kepala BKPP,
menurut Tumpak, sangat arogan. "Jawabannya arogan, bilang "kami tak
kenal 26 nama itu". Seolah dianggap nama-nama siluman. Saya sudah cek
datanya di Jakarta, mereka itu luncuran dari honorer K1. Saya juga gak
kenal satu per satu mereka, tapi kasihan sekali. Ada yang tenaga teknis,
lulusan SD/SLTP," ujar Tumpak, yang juga Kabag Humas BKN, yang saat
dihubungi JPNN ini sedang berada di Medan, kemarin (4/11).
Ke-26 nama itu antara lain dari tenaga
teknis (administrasi) yakni Krisna Lusia Bangun, Edi Supriyadi, Bambang
Sucipto, Jons F Sitepu, Ermida R Sinabutar, Hasiholan Sitanggang,
Djumiarti Purba, Eko Prihandoko, Putra Simanjuntak, Yusri Wahyuni, Erick
Naibaho, Benhard Napitupulu, Halihajah Apriani, Marlise Nebora, Franky
Sinaga, Khartika Yuki S, Lilis Kristiani, Erni A Tampubolon, Petrus Joy,
R Naibaho, Kartika Y Siagian.
Juga lima tenaga tekni lulusan SD/SLPT yakni Yugito, Suryoharma, Suwarni, Edi Susanti, dan Budi.
Mereka, kata Tumpak, tidak diakui oleh
BKPP Kota Siantar sebagai peserta tes. Alasannya pun bermacam-macam.
Sempat berdalih waktu sudah mepet. "Padahal Jumat sore saya minta agar
LJK dan soalnya bisa diambil di Medan jika alasannya kurang. BKN punya
bukti data bahwa mereka itu semua luncuran dari K1," tegas Tumpak.
Ditegaskan, penjelasan resmi dari BKN
ini harus dia sampaikan. "Kalau tidak kami jelaskan, mereka dianggap
honorer siluman dan menuduh BKN yang bermain. Karena tidak bisa ikut
tes, mereka bisa menuntut BKD (BKPP Pemko Siantar, red)," cetus Tumpak.
Tumpak menduga, sikap arogan Kepala BKPP
Siantar ini kemungkinan dipicu kejengkelan terhadap BKN. Pasalnya,
menurut Tumpak, Pemko Siantar pernah meminta BKN mencoret sekitar 30-an
honorer K2. "Tapi BKN menolak karena tidak ada alasan yang jelas," kata
Tumpak.
Dia menilai, pengelolaan kepegawaian di
Pemko Siantar memang terlihat kacau. "Kalau seperti ini terus,
pengelolaan kepegawaian di Pemko Siantar ke depan akan semakin buruk.
Mestinya mereka melayani dengan hati, sebagai bentuk ibadah," ujar
Tumpak.
Beberapa bulan lalu sempat ramai diberitakan, Pemko Siantar mengusulkan ke BKN agar 38 nama honorer K2 diceoret.
Tumpak Hutabarat juga sudah
menanggapinya, dengan, menyebutkan, kasus ini dipicu ulah oknum pejabat
di Pemko Siantar yang berupa melakukan intervensi, dengan meminta
Walikota Siantar Hulman Sitorus, agar melakukan verifikasi ulang data
honorer K2.
“Ada pejabat yang usul ke walikota agar
dilakukan verifikasi ulang honorer K2. Padahal pejabat teknis ini tidak
punya kewenangan soal honorer. Kelihatannya pejabat ini hanya mau cari
muka kepada walikota,” ujar Tumpak Hutabarat, 17 Mei 2013.
Saat itu Tumpak mengatakan, pihaknya
sudah memberikan penjelasan kepada pejabat Pemko Siantar yang berwenang
mengurusi honorer K2.
Bahwa pihak Pemko Siantar tidak punya
kewenangan mencoret nama-nama honorer K2 yang datanya dulu secara resmi
sudah diusulkan ke BKN. “Jadi lucu kalau mereka yang mengusulkan, mereka
sendiri yang mencoret,” ucap Tumpak saat itu. Upaya pencoretan pun
gagal.
Tumpak menduga, dipicu kasus itulah,
BKPP Kota Siantar tidak mau mengakui 26 honorer K2 yang berdasar
klarifikasi BKN berhak mengikuti tes CPNS. (sam/jpnn)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar