Andri Haryanto - detikNews
Jakarta - Briptu Theodorus B Boka hanya bisa duduk
sendiri di bangsal tenda pleton. Tangan kananya terus memegang telepon
genggam dengan earphone yang menempel di telinga kanan. Tidak seperti
personel lainnya yang bergabung dengan anggota keluarga mereka usai
prosesi pembaretan bagi personel Polri yang akan ditugaskan di Republik
Sudan selama satu tahun penuh.
Theodorus adalah salah satu
personel Polri yang beruntung. Dari 70 personel Polri di Polda Nusa
Tenggara Timur (NTT), hanya dia sendiri yang dinyatakan lulus mengikuti
jenjang ujian untuk pemberangkatan kontingen Garuda Bhayangkara ke-6 ke
negara yang baru berdiri Juli 2011 lalu.
Baginya, menjadi
personel Formed Police Unit (FPU) merupakan kebanggaan tersendiri.
Selain membawa nama kesatuan, tugas sebagai pasukan penjaga perdamaian
juga menjadi gengsi karena harus melewati ratusan personel lainnya yang
ikut uji kompetensi.
Namun, di balik kebanggaannya itu, personel
Gegana Brimob Polda NTT ini menyimpan kerinduan terhadap keluarga yang
baru dibinanya. "Anak saya baru lahir," kata Theodorus saat berbincang
dengan detikcom, Selasa (5/11/2013).
Dia mulai meninggalkan sang
istri sejak Juni 2013 lalu untuk mengikuti tes penerimaan personel
penjaga perdamaian di Darfur. Dua bulan kemudian, tim penguji menyatakan
Theodorus lulus dan langsung mengikuti serangkain pelatihan di Cikeas,
Bogor, Jawa Barat. Sejak itulah dia belum pernah bertemu langsung sang
istri.
"Waktu saya berangkat, istri saya hamil delapan bulan," tuturnya.
Sang
istri mafhum dengan tugas dan amanah yang diberikan Polri kepada
suaminya itu. "Istri ngerti dengan tugas saya sebagai anggota Polri.
Memang berat buat dia, tapi dia enggak mau nunjukin itu," ujar personel
yang akan bertugas di unit tactical ini
Pemberangkatan Theodorus dilangsungkan pada 26 November nanti. Dia
maklum dengan kondisi istri dan sang bayi yang baru dilahirkan beberapa
minggu lalu. Menjelang pemberangkatan, pimpinan Polri memberikan izin
kepadanya untuk dapat pulang kampung untuk berpamitan dengan sang istri
dan anak pertamanya.
Lain hal dengan Reva (29), istri dari Briptu
Irwan Hadi yang bertugas di Satuan 2 Pelopor Kedung Halang Korps
Brimob. Meski berat untuk ditinggal sang suami untuk bertugas di negara
di Afrika Timur, dirinya sudah terbiasa dengan hal itu. Maklum saja,
sebagai seorang anggota Brimob, sang suami kerap diperbantukan untuk
membantu pengamanan di daerah-daerah konflik di Indonesia.
"Pernah
paling lama enam bulan," kata Reva seraya berpesan kepada sang suami
agar tetap menjaga kesehatan selama penugasan di Sudan Selatan.
Republik
Sudan Selatan merupakan negara bentukan baru pasca pemisahan diri dari
Sudan Juli 2011 lalu. Dalam perjalanan meraih kemerdekaan tersebut,
konflik sektarian kerap terjadi. Bahkan berujung pada konflik
bersenjata.
Menurut Kapolri Jenderal Sutarman, tidak mudah untuk
bertugas di negara yang berada di Afrika timur tersebut. Masih terdapat
kelompok milisi meski kemerdekaan telah didapat Sudan Selatan. Sehingga,
kata Sutarman, perlu pelatihan dan kemampuan dalam penugasan.
"Sehingga,
kita tidak ada kekeliruan dan kekurangan dalam penugasan ini. Karena
rekan-rekan akan berada dalam situasi daerah konflik," ujarnya.
Selain peralatan dan kemampuan adaptasi dengan masyarakat sekitar, kesiapan fisik pun harus disiapkan masing-masing personel
"Mungkin anda bisa di pasir sini, tapi pasirnya berbeda di Darfur. Virus di sana juga berbeda dengan di Indonesia.
Kalau anda fisik prima tidak akan terserang virus. Jaga kesehatan dan sempatkan olahraga dan makanan yang sehat," imbau Kapolri.
Usai melihat beragam atraksi, Sutarman optimistis personel Polri mampu melaksanakan tugas di Sudan Selatan.
"Keterampilan
anda sudah mampu melaksanakan tugas di sana. Jangan sampai ada
kesalahan dalam menggunakan senjata," kata mantan Kabareskrim ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar